From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
AH:
1. Tentunya Bung Aswat yang modern tidak alergi terhadap hak
berkelompok
yang merupakan hak asasi manusia . Tapi menggunakan istilah
"kelompokisme"
bisa-bisa membangkitkan sikap kuno yang maunya cuma yang
seragam saja.
Jadi kenapa kita mesti giris pada hal2 "baru" yang demokratis
seperti
"kelompokisme" , kebebasan berbicara , hak2 individu , unjukrasa,
dsb. ?
Yang penting, ada bingkai hukum yang jelas yang mesti dipatuhi.
Bisa saja
lima orang yang hobinya memelihara "undur-undur" membuat partai.
Tapi bisa
menaruh wakil di DPR.... soal yang lain !
==========================
Pak Hasan, terima kasih tanggapannya.
Saya bukan orang modern karena saya justru cenderung untuk
mempertahankan nilai-nilai lama bila itu baik dan menolak
nilai-nilai baru bila itu tidak baik.
Alergi sih enggak Pak, namun risih ketika nuansa manipulatif
melandasinya. Itu kan sudah mencerminkan niat yang tidak jujur.
Kalau sesuatu harus dimulai dengan niat yang tidak baik apakah
bisa menghasilkan hal yang baik?
Saya justru sangat menghargai perbedaan apalagi kalau perbedaan
itu
dilandasi oleh semangat kemerdekaan pribadi. Yang saya khawatirkan
bahwa di jaman yang baru ini justru ekspresi kemerdekaan individu
itu justru dipelintir menjadi bertentangan dengan ide awalnya,
yaitu kemerdekaan pribadi. Salah satu contoh adalah demonstrasi di
kejagung yang memojokkan tanri dan mengisolasi Baramuli dalam
kasus BB. Apakah itu ekspresi kemerdekaan pribadi? Namun,
memanipulasi ketidaktahuan atau keraguan orang untuk kepentingan
sendiri sebenarnya baik enggak sih Pak?
Mengenai bingkai hukum kita harus berhati-hati lagi Pak. Soeharto
selalu membenarkan tindakannya dengan bingkai hukum yang diamini
oleh para andahannya. Hitler juga demikian. Pengalaman adalah
pelajaran yang paling berharga, bukankah begitu Pak Hasan? Mobnas
itu bukan KKN Pak bagi Presiden karena ada bingai hukumnya. Jadi,
siapapun pemerintahnya kita harus tetap berhati-hati dengan
istilah bingkai hukum itu.
Mengenai anggota DPR .........., yah emang baru disitulah
perkembanga demokrasi kita. jadi harus kita akui. Mudah-mudahan
reformasi dibidang informasi dan pemberitaan yang dimainkan
peranannya oleh Pers bisa membuat rakyat semakin cerdas dan justru
tidak semakin sebaliknya, yaitu semakin dibodohi. Bagus sekali
bahwa AJI mulai menengarai media yang tidak obyektif dalam
pemberitaan. Mudah-mudahan ini akan menjadi bola salju sehingga
media yang membodohi tidak laku.
��
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!