> WAM:
> Jelasnya, bung Gigih, anda termasuk golongan
> munafik. Tidak berani
> mengatakan yang benar-itu benar, karena alasan
> perut. Dengan demikian,
> sangat boleh jadi, (karena saya tidak tahu pasti di
> mana anda bekerja) 
> anda termasuk mereka yang menikmati hasil KKN, meski
> secara tidak
> langsung. 

Gigih :

Munafik ? Sepanjang yang mengatakan hal ini WAM, tak
akan pernah membuat saya menyesal, dan mulas. Lain
halnya kalau yang bilang ini mbah Soel, saudaraku
Tigun, atau Koh Yap, juga beberapa sahabat dekat lain,
bisa pingsan saya.

Alasan perut ?

Ya. Saya harus mempertahankan periuk nasi saya yang
cuma tak seberapa ini dengan gigih. Saya tak pandai
KKN, sehingga anak-anak saya pun terpaksa harus rela
melata-lata untuk mendapatkan pekerjaan. Alhamdulilah
mereka berhasil sekali. Ya, sangat berhasil. Saya
berhasil mendidik mereka, meski demi perut yang kempis
ini.

Pendidikan saya sangat sederhana, sehingga barangkali
tak bisa masuk dalam pergaulan kelompok pengembang
teknologi yang fit-and-proper soal kepakarannya. Untuk
peluang yang sangat sedikit ini, saya terpaksa
'munafik', sebatas dalam pemakaian nama yang Gigih itu
saja. Jangan coba yang lain.

KKN tak langsung, saya tak tahu. Dan sama sekali tak
terpikir untuk mencari tahu. Gaji yang saya terima
saya nilai seimbang dengan pekerjaan yang saya lakukan
(mestinya kurang). Alhamdulilah, yang saya kerjakan
benar-benar tak bakal dekat dengan urusan yang serba
KKN tersebut. Untuk menambal kekurangan gaji saya,
maka di rumah saya jual pecel. Kalau yang begini masih
dibilang KKN, entahlah....

>  
> > Alasan lain adalah keluarga saya. Saya tidak ingin
> > mereka ikut mengalami kesulitan karena aktivitas
> saya
> > yang rada-rada sableng.
> 
> WAM:
> Alasan yang dapat diterima.
> Akan tetapi, why should you afraid kalau yang anda
> katakan itu sudah
> menjadi _public domain_? Ibaratnya, anda toh nggak
> perlu merasa takut
> mengatakan presiden kita buta, kalau public juga
> udah tahu hal itu?

Gigih :

Ijinkan saya tetap mempertahankan sikap saya soal
ketakutan saya tersebut. Nama Gigih sudah dimulai
ketika ketakutan memang sudah wajar dipakai, lebih
dari 5-6 tahu silam. Saya pikir gila (ketika itu)
kalau berani mengusik keluarga tertentu, meski semua
tahu.

> Kecuali anda menceritakan hal-hal yang tidak bisa
> dibuktikan kebenarannya.
> Di situ lah letak perbedaan isi posting mereka yang
> jelas mencantumkan
> identitasnya, dengan mereka yang bersembunyi di
> balik free provider. 

Gigih :

Tak pernah sekalipun saya menulis yang tak benar. Saya
bertahan untuk tak mencampuri beberapa posting
tertentu, hanya karena tak cukup fakta yang saya
miliki.

Jutaan orang menggunakan alamat gratisan, dan toh saya
tak pernah membaca apa alamat-alamat yang dipakainya
tersebut. Saya hanya membaca makna posting mereka,
lalu mencoba sepakat kalau cocok dengan fakta yang
saya miliki, diam kalau memang tak sanggup masuk ke
dalam diskusi mereka (seperti diskusi soal tanah
gambut antara Yap dan mbah Soel), mencoba menegur
kalau ada posting yang OOT.

> Dengan mencantumkan identitas saya secara jelas,
> saya berusaha sedapat
> mungkin menghindarkan fitnah. Apa yang saya tulis
> adalah apa yang sudah
> menjadi _public domain_.

Gigih :

Anda pemberani. Saya kagum. Hikam pasti tak akan
memecat Anda. Anda adalah asset bagi BPPT. Jangan
ikut-ikutan penakut seperti saya.

>  
> Taruhlah pemakaian nama. Ambil kasus Pabu Sacilat.
> 
> Bagi anda yang tidak pernah (barangkali!) tahu
> bahasa prokem Yogya, tidak
> akan ambil pusing. Tapi, apa ya anda tidak akan
> tergelitik untuk ikut
> berkomentar manakala anda tahu arti sebenarnya dari
> nama itu? I was
> sincere ketika mengatakan nama itu berarti ASU
> BAJINGAN. Saya tidak sedang
> mengumpati si pemakai nama! Tapi, memang benar bahwa
> menurut bahasa prokem
> gaya Yogya kata itu berarti begitu. Terjemahannya
> dog ya anjing. Tidak ada
> hubungannya dengan umpatan. 

Gigih :

Kalau masih ada, coba arsipnya diperiksa. Sama sekali
saya tak menegur WAM, cuma Jarodh saja, yang memaki
'bukan orang'. Perkara nama Pabu Sacilat, yang saya
juga baru tahu kalau arinya Asu Bajingan, bagi saya,
tak soal benar. Wong nama samaran, mau milih yang elek
atau bagus, terserah yang milih. Saya memilih Gigih
karena julukan itulah yang diberikan oleh almarhum ibu
saya.

Ini juga salah satu kebiasaan WAM yang selalu salah
mengambil setting dari sebuah posting. 

> 
> WAM:
> Termasuk aktivitas resmi yang berkaitan dengan
> pekerjaan anda?
> Saya nggak yakin.  

Gigih :

Saya tak tahu, apa saya akan sedemikian gobloknya
untuk menggunakan nama samaran untuk menghindari
hal-hal yang mungkin tak bagus bagi lingkungan saya
sebagai bagian dari identitas resmi. Kalau itu saya
lakukan, saya adalah orang goblok. Kalau saudara
mengharapkan saya menggunakanya untuk aktivitas resmi,
entah siapa yang goblok kalau begitu.

> 
> WAM:
> Salah.
> Anda tetap munafik. Paling tidak, ketika itu
> berkaitan dengan perut anda. 

Gigih :

Terimakasih. Untuk sekedar nama, dan di milis, saya
rela munafik. Lebih-lebih kalau yang bilang 'cuma'
seorang WAM. Beberapa sahabat lebih suka memakai nama
Gigih meski mereka tahu siapa saya sebenarnya. ya tak
masalah...

Masih kurang ?

=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke