---- Original Message -----
From: pabu sacilat <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, February 15, 2000 12:00 PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] Pabu Sacilat
biarlah email gratisan saya pergunakan untuk media ini. wong ada yang
gratis kok cari yang harus bayar. Negara kita khan seneng yang
gratisan seperti itu. Hutang yang pinginnya ngemplang. Usaha bisnis
yang pinginnya kolusi, nepotisme. Kalah pemilu ya tetap pingin masuk
jadi anggota legislatif (itu lho partai kecil di KPU).
+ iya juga. aku mendukung pendapat kangmas pabu ngayogyakarta ini
yang sacilat bener.. hehee. wong ono sing nggak mbendho, ngapain
mesthi ngrogoh kanthong yang semakin tipis dan kering... kaya kesukaan
keluarga ku akan martabak manis... haha "bikinin yang TIPKER bang!!"
--------------------
Jadi gratisan itu nampaknya nikmat kok.
Mengenai mas Amin Rais, saya kok tetap tidak percaya kalau dia itu
tulus. Politik mana ada sih yang tulus (kecuali Gus Dur lho) saya
memang pengagum berat Mas Gus Dur itu.
+ eh, mas pabu. dengan menyatakan diri sebagai pengagum berat GD,
nanti disebut penegak KULTUS INDIVIDU lho mas. padahal sekarang kan
jamannya democrazy. jadi dah nggak jamannya mengkultusi individu
tertentu. termasuk tak rela bila tokoh idamannya dinilai jelek itu....
---------------
Serpak terjang Amin ketika masih di lingkungan akademis dapat dilihat.
Contohnya ketika terjadi anaksasi irak atas kuawait itu lho.
pendapatnya khan lari ke masalah barat dan timur, kemudian merembet ke
masalah muslim dan non muslim. wacana barat dan timur itu khan selalu
dikaitkan dengan muslim dan non muslim. Ini khan stereotype dari peta
politik islam pada umumnya. Ini bukan provokasi lho. tetapi kenyataan.
+makanya sebaiknya mas eh.. salah, pak amien itu tetap di akademisi
saja. biar kalau ada yang nggak dukung atau sebaliknya ada yang meng-
kultuskan nggak nemen-nemen akibate.... lha guru kok mrentah. ya ancur
minah. lha tokoh wayang super waskitha, sri bathara kresna saja tidak
ngurus langsung negaranya. cukup diserahkan kepada raden padmanegara
atau setyaki kok ya. dia malah sibuk medhar hidup dan ngajar
kesejahteraan hidup buat adhik-2 misannya, para pandhawa. atau sang
kumbayana, ya milih jengkar dari atas angin madeg guru ing ngastina
rak gitu..... kaya aku juga... hahaaa...
-------------------
Saya orang muslim (abangan) tetapi kalau cara perpolitikan islam
seperti itu yang kapan majunya. Contohnya lagi ketika orde baru masih
berkuasa. saudara-saudara kita yang non muslim untuk mendirikan tempat
ibadah saja sulitnya setengah mati. Nah kalau yang muslim hampir
diseluruh pelosok indonesia, sampai di desa-desa terpencil dapat
dengan mudah didirikan masjid atau surau atau mushola.
+wah, kalau ada kata ABANGAN ini mak dhieg gitu perasaan-ku. sekali
lagi ini gara-gara lingkungan budaya kakek moyangku yang SUPER FEODAL,
yang beda jauh dengan persepsi budaya anak-cucu-cicit-nya.
dulu kata embah, eh, kakek... ABANGAN itu istilah untuk besi-baja
bakalan
yang sedang di-tempa oleh tukang pande, empu keris pekerja besalen
tukang bikin gamelan dsb.
disebut abangan, karena memang warnanya jadi abang (merah). tapi dari
yang berwarna merah itu menyimpan segala potensi bentuk benda-benda
tempaan, mulai perkakas pertanian (bajak, cangkul, sabit) sampai tosan
aji (keris, pedang dan mata tombak).
lha sekarang aku sering mengambil nasihat kakek (yang juga abangan),
dalam menyikapi penyebutan abangan untuk umat beragama oleh pihak
yang merasa telah jadi... (buka abangan lagi). maksudnya demikian.
seseorang abangan perlu atau kadang membutuhkan tempaan. ditempa
dan dibentuk oleh para empu atau seniornya yang telah merasa bukan
abangan lagi. nha hasil tempaan tergantung yang menempa kan?
adakalanya (dan kebanyakan sekarang) tempaannya itu menjadi perisai
untuk kepentingan politik. misalnya lewat aksi sejuta umat dsb. ups..
bukan provokasi juga lho, cuman interpretasi dan interprestasi....
haha.
semisal penempanya adalah para empu linuwih dan waskitha, niscaya
akan menjadi senjata-senjata tajam yang nggegirisi untuk membedah
kehidupan bumi seisinya ini, menjadi rahmat segala alam.... (ini
pemahamanku sebagai abangan yang mencari penempa...)
jadi semakin mayoritas muslim dan semakin banyak abangannya, adalah
tantangan yang semakin berat dan kaya berkah bagi para empu dan
janggan (empu muda) untuk menempanya menjadi perkakas atau senjata
yang bermanfaat demi....(?) hahaa.... terserah kepada para penempa
sekalian, mau diisi demi bangsa, demi negara, demi amplop atau demi
douweijk ya monggo...
nuwun,
mBah Soeloyo
Moderator ML JOWO WOJOSETO
SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
langganan: [EMAIL PROTECTED];
berhenti: [EMAIL PROTECTED]
japri: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/wjseto
http://www.egroups.com - Simplifying group communications
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!