Bagus-bagus saya semakin dikayakan dengan gagasan mas WAM ini. 

Untuk thesisnya Samuel Huntington saya ya sudah membaca dan memamahimnya. Jadi 
persoalan barat dan timur yang selalu dikaitkan dengan persoalan muslim dan non muslim 
benar khan adanya. Huntington sendiri yang kepakarannya dapat dikatakan berwawasan 
global, toh tetap saja mengemukakan gagasan yang demikian itu. Jadi persoalannya 
selama dunia ini terkotak-kotak antar blok (barat-timur, utara-selatan, 
maju-berkembang, muslim-non muslim), konflik dalam tingkat global, regional maupun 
nasional akan selalu terjadi.

>WAM:
>Saudara Asu (sorry, selama anda masih makai nama Pabu Sacilat, saya akan
>memanggil anda begini).
>
>Dan tahukah anda, gara-gara perang Irak orang-orang muslim di negara Barat
>dimusuhi? Di negara di mana saya belajar waktu itu, ada mesjid dilempar
>molotov. Mereka tidak tahu bahwa Irak dan Kuwait itu sama-sama berpenduduk
>muslim. Picik sekali kalau anda menyalahkan Amien Rais dalam kasus itu.
>Dan Amien Rais benar. (Kalau saja anda sudah pernah mendengar thesis
>Samuel Hutington, tentu anda tidak gegabah menyalahkan Amien. Tapi nggak 
>apa-apa sih kalau anda tidak pernah dengar thesis itu). 

Pabu s :
Saya dengar thesis tersebut dan sudah saya pelajari habis-habisan. Jadi ya itu tadi, 
kalau tingkat kepakaran saja sudah tidak independen, maka ya berpihak seperti si 
Huntington dllnya itu termasuk masyarakat barat.

>WAM:
>Jawaban anda khas dengan pengakuan anda: muslim abangan.
>Jika pengetahuan dan pengamalan anda tentang agama anda tidaklah sedangkal
>yang anda akui, saya yakin omongan anda akan berbeda.

Pabu S :
Wo.... islam abangan yang saya rasakan khan sebagai akibat dari inkulturasi islam 
dengan budaya asli Indonesia. Jadi konteks keimanan saya ya sudah mengalami pembauran 
dengan budaya Indonesia.
Jadi persoalan keimanan saya pada hakikatnya adalah sudah kontekstual dan bukan 
tekstual. Ini bagi saya yang terpenting 


>WAM:
>Dan tahukah anda, di Sulut orang harus mencari tempat yang jauh dari
>perkampungan untuk mendirikan mesjid? Atas dasar apa anda menganggap bahwa
>orang Islam juga tidak dipersulit mendirikan mesjid? Begitulah omongan
>orang Islam yang tidak pernah bergaul dengan orang Islam yang menjalankan
>syariat dengan benar. Omongan anda lebih mirip omongan Yahudi daripada
>omongan orang Islam. Orang macam anda pasti malu mengaku sebagai orang
>Islam. Apalagi mengerjakan pekerjaan sebagai seorang muslim. Di mata anda,
>Islam pasti identik dengan segala kesalahan.

Pabu S :
Lho ini khan mencerminkan bahwa yang mayoritas akan selalu memperoleh 
kemudahan-kemudahan dan fasilitas-fasilitas baik materiil maupun spirituil. Lumrah to. 
Kok anda yang mengaku sebagai lulusan luar negeri masih bingung hal semacam ini. 
Inti pokok yang ingin saya sampaikan adalah bahwa dalam demokrasi paradigma mayoritas 
dilawankan dengan minoritas itu khan bukan semata-mata ditinjau dari persoalan pada 
bidang religiusitas ataupun ideologi. Tetapi khan masuk dalam area publik (wong 
demokrasi dan politik itu khan area publik). Jadi mayoritas dan minortitas disini khan 
harus diletakkan dalam konteks electoral-nya. ngerti nggak sih anda itu. Cah cilik kok 
ngomong soal ini (jangan marah lho) ini khan type pakar Indonesia yang kalau dikritik 
ngebalasnya bukan ide yang jadi sumber kritikan atau sanggahan, melainkan personalnya 
seperti situ itu !
 
>WAM:
>Akankah anda mengorbankan agama anda (kayaknya sih iya) in the name of
>kerukunan? Kerukunan tidak bisa dibangun dengan menginjak yang lainnya.

Pabu S :
Yang mau mengorbankan agama itu siapa. Wong nggak usah mengorbankan agama saja sudah 
dikorbankan. Kock anda mengambilkesimpulan sendiri.
Kalau ada surat terbuka untuk si Paus itu tentang gerakan misi yang dilakukan oleh 
kaum nasrani melalui konsep sinterklas, sebenarnya khan dapat disebut sebagai salah 
satu dari sekian kecirigaan yang ada di kalangan saudara-saudara kita sendiri yang 
notabene muslim.

Dulu romo mangun ketika membangun kawasan Code dengan maksud memasyarakatkan warga 
code yang multi kompleks tersebut (ada Sacilatnya, ada ngotwenya, ada Pabunya, dan 
ada-ada yang lain), khan juga dicurigai oleh Pak AR (mantan Ketum Muhammaddiyah) 
sebagai bentuk penyebaran agama yang terselubung.
Saya yakin dan banyak komponen masyarakat Yogya maupun Indonesia yang yakin, bahwa apa 
yang dilakukan oleh almarhum Romo Mangun itu kahn tulus, sebagai implementasi keimanan 
dsari beliau tersebut. Apakah mereka (masyarakat code) itu mau masuk katolik atau 
tidak khan menurut Romo mangun merupakan urusannya sendiri-sendiri.
Anda ini nampaknya belum pernah masuk sampai ke relung-relung kehidupan  masyarakat 
yang terpinggirkan barang kali. Wong di bppt (punyaknya Habibie dan ICMI khan)
  
>WAM:
>Bisa nggak seorang islam menjadi pemimpin di negara Kristen?
>Nggak bisa! Kata orang bule, kalau itu dilakukan secara demokratis, so
>what? Begitu pula di Indonesia. Kalau itu dilakukan secara demokratis, so
>what?
>Di Inggris beberapa tahun lalu pernah terjadi, seorang keturunan Pakistan
>(dan muslim) dijadikan bulan-bulanan pers Inggris gara-gara mencalonkan
>diri sebagai MP. Dan akhirnya dia gagal. Terus menurut anda, yang beginian
>ini bener apa enggak? Kenapa anda jadi kena inferiority complex? Segala
>yang terjadi di sini dianggap salah?

Pabu S :
Kena inferiory complex ini khan khas masyarakat indonesia juga yang terkena sindrome 
orba. Anda mungkin juga terkena hal ini. Janganmengelak lah.
Bisa saja seorang muslim itu menjadi pemimpin negara yang mayoritas kristen. No 
problem. tetapi kapan yang dilihat saja nanti perkembangan globalnya. Isalam sebagai 
agama maupun islam sebagai politik - khan sering disama ratakan. Nah inilah yang 
menjadi kekhasan saudara-saudara kita elit politik dari kalangan muslim. Sama seperti 
anda itu.


>WAM:
>Dan apakah pemilih muslim (yang katanya 80% di PDI-P) itu boleh dibohongi?
>Apa hubungannya peringatan MUi dan dengan hak non muslim untuk hidup di
>Indonesia? Wajar dong, kalau pemilih PDi-P itu berjumlah 80% maka 80%
>calegnya juga mesti muslim. Jika tidak, apakah bukan penipuan? Justru yang
>tidak wajar itu kalau 80% pemilih muslim hanya memperoleh 20% caleg
>muslim. 

Pabu S :
Yang menipu itu siapa. Ach jangan berprasangka buruk dong Mas WAM yang hebat bat...bat.
Kalau 80% warga muslim memilih PDIP, sebenarnya khan bukan calegnya itu khan. Ini 
sebenarnya khan akibat dari sistem pemilu yang proporsional tersebut. Mereka memilih 
khan semata-mata melihat bagaimana PDIP itu. Baik perjuangannya maupun visi dan 
misinya. Jadi persoalannya bukan tipu-tipu, tetapi persoalannya ada pada kesamaan 
wawasan diantara sebagian terbesar umat islam dengan gagasan PDIP itu. kok nipu. Situ 
itu yang sering nipu. 


>WAM:
>Berdasarkan asas keterwakilan, jelas itu betul. Kecuali anda sudah
>mempersetankan asas keterwakilan. Dan seorang demokrat tidak akan
>mempersetankan keterwakilan. Kecuali anda juga mempersetankan demokrasi.

Pabu S :
Saya tidak mempersetankan keterwakilandan demokrasi itu siapa. Ya memang lumrah kalau 
mayoritas muslim maka muslim memperoleh kemudahan-kemudahan tersebut termasuk dalam 
persoalan election dan berpagai pembagian kue kekuasaan itu. Tetapi apakah dengan 
posisi yang demikian itu yang minoritas kemudian diabaikan bahkan dipersulit.
Yang namanya toleransi itu khan bukan yang kecil harus toleran melainkan yang besarlah 
yang harus toleran dengan yang kecil. melindungi yang kecil Ini khan prinsip dari 
POLITIK HATI NURANI-nya Romo mangun. Anda sudah baca belum !


>WAM:
>Memang kita tidak menganut negara agama. Buktinya, peraturan yang ada
>tidak didasarakan pada agama. Apakah menurut penalaran anda bukan negara
>agama itu= mengesampingkan Islam?

Pabu S :
Siapa bilang peraturan yang ada tidak berdasarkan agama. Contoh kecilnya adalah UU 
tentang Peradilan Agama itu. Kalau kita ingin melakukan unifikasi hukum, maka 
persoalan-persoalan hukum yang perlu diunifikasi khan persoalan-persoalan yang netral 
(tidak terikat dan berpihak pada persoalan pribadi, spiritualitas maupun budaya). Baca 
dong konsepnya Mochtar Kusumaatmaja.
Kalau yang tidak netral tersebut dirumuskan untuk diunifikasikan, maka kejadiannya ya 
itu tadi berpihak pada salah satu golongan. Situ itu kepakarannya apa sih, kock bicara 
tentang peraturan.

Contoh lain SKB menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang pernah muncul itu. Ini 
khan juga sangat berpihak. Piye kowe iku le...

>WAM:
>Bohong!
>Di luaran, bahkan juga di Indonesia, ada kecenderungan bahwa orang islam
>difitnah. Jika korbannya orang Nasarani, beritanya digede-gedein.
>Sebaliknya jika yang jadi korban orang islam. Strait Times belum lama ini
>diprotes karena kebijakan timpang seperti ini. (Dan anda, maklum cuma
>abangan, sama sekali tidak tergerak untuk meluruskan kezaliman ini? Bahkan
>anda merasa lebih bangga jika bisa menyalahkan orang Islam? Naudzubillah).

Pabu S :
Yang bohong ya situ itu !
Lho kenyataannya demikian kock. Yang sering fitnah dalam rangka menyebarkan agama 
siapa. Contohnya : di Yerusalem atau dimana lagi (khususnya di Timur Tengah) ada 
Masjid yang diubah menjadi gereja. Padahal duluan mana sih munculnya kaum nasrani 
dengan kaum muslim itu. Ini khan bohong sejarah namanya. 
Kalau gereja kemudian diubah menjadi masjid, misalnya di Cordoba ya tentunya relevan 
doel ! Wong berdasarkan sejarahnya kristen itu abad pertengahan muncul sementara islam 
khan beberapa ribu atau ratus tahun setelah kristen. Wah situ itu kock tidak mengerti 
sejarah sihc...payah.
 

>WAM:
>Tunjukkan yang mana?

Pabu S :
Banyak kock yang harus ditunjukkan. Seperi kasus-kasus penekanan secara psikologis 
yang selama ini terjadi. Di atas yang sudah saya kemukakan khan juga merupakan contoh 
kasus. Baca dishik baru ngomong. Payah kock kowe kuwi.


>WAM:
>Bahwa Sandyawan menolong orang, tidak dengan serta merta menjadikannya
>dicurigai menerapkan teologi pembebasan. Dan teologi pembebasan memang
>tidak ada hubungannya dengan tolong menolong. Perkara bantuan Sandyawan
>pada Budiman jadi lain, jika diingat kesukaan PRD mengemukakan teori
>berlandaskan pada ajaran Marxis. Dan setahu saya, di lingkungan islam
>tidak ada ajaran yang mirip teologi pembebasan. 

Pabu S :
Siapa bilang teologi pembebasan tidak terkait dengan persoalan tolong menolong. Di 
Amerika Latin - tempt lahirnya teologi tersebut dan dipelopori oleh pastur-pastur 
Jesuit - khan konsepnya muncul dari persoalan tolong menolong untuk masyarakat sipil 
yang ditindas oleh rezim militer. 

Seluruh konsep ilmu politik pada prinsipnya khan dikembangkan untuk mengembangkan 
prinsip tolong menolong. Marxisme juga tolong menolong, Liberalisme ala barat yang 
tolong menolong. Wah tolong menolong kok dikeluarkan dari konsep teori yang membumi, 
Payah kowe, katanya lulus luar negeri kock ngomongnya, idenya amburadul.


>WAM:
>What's wrong with being a fundamentalist?
>Seorang fundamentalis adalah seseorang yang melaksanakan ajaran agamanya
>secara ketat. What's wrong with this? Seorang fundamentalis tidak dengan
>serta merta menjadi suka ribut, selama ajaran agamanya tidak diganggu
>gugat. Ya apa masalahnya kalau ada fundamentalist Islam atau agama lain. 
>Pikiran anda sudah tercekoki ajaran bahwa fundamentalis itu jelek. 

Pabu S :
Selam gerakan fundamentalis diletakkan dalam konteks hubungan manusiawi dan tolong 
menolong. Tidak Chauvinistik, maka ya memang tidak masalah. tetapi gerakan 
fundamentalis yang berkembang di indonesia tercinta ini khan menuju ke arah fanatisme 
agama yang picik dan sempit. Kalau ini yang terjadi, maka fenomena Kisdi yang akan 
tetap terjadi - senengnya melakukan provokasi, Khan gito doel !


>WAM:
>Selama prosesnya demokratik, what's wrong with that?

Pabu S :
Setuju, Akur, Beres, No problem.

>WAM:
>What's wrong with that?
>Memangnya di agama lain tidak diajarkan keharusan beriman dan bertaqwa
>(pada agamanya)? Memangnya di agama lain cuma diajarkan hidup hura-hura?
>Aneh. Yang begini saja diributkan. Persis dengan kejadian Piagam Jakarta.
>Orang Islam yang mau menjalankan agamanya dengan benar justru dilarang.
>Apa hubungannya azas Imtaq dengan soal egaliter dan inklusif?

Pabu S : 
Lho kalau orang sudah beragama dan menjalankan syari'at ajaran agama khan persoalan 
Imtak itu sudah clier-khan. Apa kalau tidak dicantumkan kemudian orang mulai meragukan 
ke Imanan Mas Amin, Khan tidak.
Persoalan yang melingkupi Piagam Jakarta, khan dulu juga ditentang oleh Pak Moh. Hatta 
yang sangat muslim itu. Ini khan wujud bagaimana persoalan dasar filosofis menjadi 
persoalan yang sangat hakiki. Apa anda memang menghendaki piagam jakarta dicantumkan 
kembali. 
Dasar filosofis dan ideologi negara itu - sekali lagi - khan menyangkut dalam dataran 
area publik yang harus netral dan independen. Pak Hatta khan berpandangan, kalau ini 
dicantumkan maka golongan lain akan merasa dianak tirikan.

Situ pasti berargumentasi bahwa dengan ditolaknya Piagam Jakarta tersebut, membuktikan 
sifat besar hatinya kaum muslim. Ini bukan masalah besar hati, toleransi ataupun apa 
saja. Melainkan didasarkan pada apresiasi dari Pak Hatta melihat kompleksitas 
masyarakat Indonesia yang majemuk itu. Kok situ terus seperti kebakaran 
jenggot...got.. 


>WAM:
>Dan anda tahu kan, siapa Bara itu?
>Sebenarnya saya ingin tahu, seberapa besar sih sumbangan suara (di PAN)
>_kelompok nasionalis_ itu? Pius saja, yang tadinya di PAN sudah pindah ke
>PDI-P. Saya lebih yakin bahwa sebenarnya konstituen PAN memang terpusat
>pada warga muslim. 

Pabu S :
Aku nggak tahu siapa itu si Bara. Dia bukan familiku. Tetapi aku tahu bagaimana 
gagasannya dengan mas Faisal tentang nasionalisme. Kalau kelompok nasionalisme di PAN 
tidak terlalu besar suaranya, maka ya lumrah saja. Wong sebagian besar platform 
politik dari anggotanya di kooptasi dengan agama kock. Sebagian besar anggota PAN 
belum dewasa pemahamannya tentang demokrasi yang merupakan area publik. Piye kowe itu 
doel !
 
>WAM:
>Apakah itu bukan karena Amien akhirnya menyadari bahwa konstituen PAN
>memang sebagian besar berada di kalangan Islam? Larinya Pius ke PDI-P bisa
>jadi menyadarkan orang ini bahwa dia tidak bisa mengandalkan dukungan non
>Islam. Kalau saja di pemilu lalu PAN mengantongi suara besar, bisa jadi
>Amien akan tetap merangkul semua kelompok. Kecilnya perolehan suara, boleh
>jadi, menyadarkan banyak orang di PAN bahwa bagaimana pun mereka hanya
>bisa bergantung pada masayarakat Islam.

Pabu S :
Saya nggak lihat kalau Mas Amin menyadari hal tersebut. Bagi Mas Amin yang penting 
kepentingannya untuk tetap menduduki posisi strategis tetap terjaga. Wong ini politik 
kock. Tidak ada teman sejati yang ada hanya kepentingan sejati. Ngerti nggak situ itu.
Nah kalau dia konsisten - walaupun itu kelompoknya kecil ya tetap didukung, dibina, 
dianut. Bahkan harus berani mengambil resiko tidak populer diantara kelompok besar. 
Mas Faisal khan juga tidak populer diantara kelompok besar yang ada di PAN. Tetapi dia 
khan konsisten. Wah payah kowe WAM. Lulusan luar negeri kock. begitu cara pandangnya.

Kalau anda itu pernah belajar di LN dan lulus apa itu Doktor atau Master, kalau 
ternyata karya ilmiah anda(thersis atau disertasi) tetap mempersoalkan Indonesia dan 
berbagai fenomena yang ada. Ya anda itu dapat dikategorikan sebagai lulusan luar 
negeri yang mempergunakan konsumsi Indonesia untuk memperoleh gelar. Contohlah 
pakar-pakar Indonesianist yang secara konsisten mengkaji Indonesia - tidak mengkaji 
negaranya sendiri untuk konsumsi ilmiah.

Kalau cara yang dipergunakan seperti ini. Ya gampang saja anda lulus. Wong tim 
pengujinya tidak menguasai Inbdonesia dan persoalannya.
Contohnya kayak disertasinya Bang Buyung Nasution itu yang mempersoalkan Konstituante. 
Nah kalau diuji di Utrech Universiteit Belanda, ya pasti para pengujinya mantuk-mantuk 
saja wong tidak tahu konteks yang sebenarnya.

Untuk teman-teman semua :
Memang dalam diskusi dan eyel-eyelan dengan Si Wam ini saya selalu menyentil hal-hal 
yang bersifat personal. Ini memang saya sengaja. Karena Si WAM itu senengnya juga 
demikian. Padahal etika untuk berdebat dan berdiskusi, konteksnya bukan menyerang 
hal-hal yang berkaitan dengan personality melainkan yang diserang adalah ide atau 
gagasan atau argumentasi atau apa yang sejinisnya dengan itu. 

Jadi saya mohon maaf. pada diri sendiri maupun pada teman-teman semua.
Pada diri sendiri karena saya tidak terbiasa dengan cara berdebat seperti ini.
Sedang pada teman-teman saya mohon maaf karena mungkin diantara teman-teman yang 
menilai saya memang benar-benar PABUSACILAT (asu bajingan).

SIGUH TANPO BONDHO NGURUK TANPO BOLO
BAGUS TANPO RUPO GAGAH TANPO ROGO.
TANPA OPO-OPO ORA MESTI REKOSO.

HONG WILAHENG SEKARING BAWONO LANGGENG.  
>
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
>-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at 
http://www.eudoramail.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke