Aduh... mBah Soel... , nanti jadi sara mBah...

Di milis mBah Soel  mungkin saja  itu dibicarakan sebagai bagian
dari ngonceki tinggalan ki Ajisaka dan mungkin anggota bisa
menerima.  Namun di milis ini sensor otomatis itu bekerja karena
semangat atau jiwa milis ini yang dibentuk oleh para anggotanya.

Bagi mBah Soel, mBah Gamblis, saya, dan beberapa netter yang lain,
kata walikan itu sama-sama telah dimengerti artinya. Dan, mBah
Soel benar, ketika maknanya dibuat transparan hal itu tentu saja
membuat risih karena sensor sistem nilai bekerja.

Hipokrit memang, namun itu bukan hanya sistem nilai orang Jawa
(Tengah) saja. Menghargai dan menghormati sesama adalah sistem
nilai yang universal. Bangsa asing juga menggunakan plesetan bunyi
untuk umpatan agar tidak mloho. Penggunaan kata-kata dan perilaku
yang tepat adalah bagian dari usaha untuk menjalin hubungan
manusiawi antar pribadi. Apakah mBah Soel disitu tidak akan
menyesuaikan dengan sistem nilai yang berlaku disitu? Apakah
mungkin mBah Soel memaksakan sistem nilai mBah Soel di tengah
sistem nilai mereka?  Apakah mungkin kita berbicara keras di
perpustakaan? Apakah pantas kita berbicara seenaknya padahal orang
lain yang mendenar risih atau terganggu?

Beberapa waktu yang lalu di milis ini ada thread mengenai Ajining
Diri (gumantung nuthuking keyboard). Saya pikir, disanalah
maknanya.


----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 18 February 2000 13:35
Subject: Re: [Kuli Tinta] Ngotwe (satulagi pelajaran sikap budaya
JAWA)


wah... wah.... lha kok terus gini ya jadinya?
pukulun wisnu murka pada ki aswat. asal nggak sampai triwikrama
nggak soal. cak edi ngothak-athik sendiri ketemu bahwa ngotwe
sama dengan lonte, wts... haha barang kali di sini letaknya kenapa
ki aswat memlesetkan ngotwe jadi kowe. lha artinya WTS, kalau
di tempel di atas bus jadi (misalnya) SMG - WTS (semarang - wates)
padahal aswat adalah asli wates... hahaha.

ah, semua gara-gara ki sona bajing-kencono itu kok. memperkenalkan
kosa kata saja kok ya pabu, sacilat, ngotwe.... gak ditambah
thoklo
sekalian
biar tambah kaya.
eit, sebentar dulu. apa benar sikap mas pabu itu sumber kesalhan.
rasanya
kok tidak. dan sikap mas aswat telah mencerminkan "sikap budaya
jawa".
tidak suka berterus terang, apalagi bicara kasar. makian malah
diperhalus.
kalau jogya membuat rumusan sendiri, lonte jadi ngotwe, asu jadi
pabu
dll.
kalu solo semua kata dihaluskan. asu jadi asem, bajingan jadi
bajigur.

parah lagi, kata-kata yang menyangkut aurat. semua diplesetkan.
menyebut
kelamin jantan jadi joni (kasihan yang bernama joni kan?). kelamin
perempuan
jadi dompet (hehehe...). padahal ada kata-kata asing yanga akrab,
semisal
linggam dan yoni. (saking asingnya malah ada teman laki-laki
bernama
yoni agung... hahahaaa.....)

nah sekarang tinggal orang jawa gimana mau bersikap. tetap
mementingkan
ewuh-pekewuh, sehingga semua urusan jadi riwuh atau menuruti mas
wisnu
atau cak edi. yang tampil mloho, nglegena, lugu tanpa aling-aling.
(cuma ya
itu... kadang-kadang dianggap kasar.... ). ah budaya jawa (apalagi
jawa tengahan)
memang aneh. penginnya semua diperhalus. sampai kehilangan makna
hakikinya.
begitupun dalam berpolitik. muter-muter gak karuan. begitu
ketahuan
maksud
aslinya "klejingan sendiri" malu-malu untuk ngaku.... hehe....
memang dari milist ini banyak pelajaran bagi yang suka "menyiangi"
informasi
dan wacana. metani dan ngonceki makna.....

nuwun,













- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke