Menarik sekali!!!
Janto
-----Original Message-----
From: Wahana [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 01 Maret 2000 15:01
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject:
PARA PEMBACA YANG BUDIMAN,
Inilah artikel tunggal yang kami siarkan, mengingat isinya relevan dengan
perkembangan kenyataan yang ada.
HARIAN DUTA 1 Maret 2000 hal. 3:
MENANGKAL POLITISI SKIZOFRENIA
oleh : Totok Iswantara (*)
MAKLUMAT Presiden Gus Dur tentang "Siaga Satu" di ibu kota negara,
sempat mencuatkan prasangka politik dibeberapa kalangan. Spektrum prasangka
tersebut terpolarisasi dalam pranata sosial yang kompleks dan
terartikulasikan kedalam beda pendapat yang simpang siur. Lontaran presiden
banyak mendapatkan komentar berbagai pengamat.
Tetapi para pengamat politik lebih melihat lontaran Gus Dur tersebut
sebagai fatwa Abunawas. Yang mana konteksnya selalu muncul melalui jurus
ribon dalam sebuah permainan karambol politik. Sedangkan dari kacamata
Panglima TNI hingga level Kapolda DKI, mencermati maklumat tersebut sebagai
test case bagi aparat keamanan untuk menjamin keselamatan para investor.
Yang agak bertolak belakang justru sikap satgas pemuda dan ormas keagamaan
yang telah dibaiat "pejah gesang nderek Gus Dur" (hidup mati ikut Gus Dur).
Ormas-ormas ini menyikapi maklumat tersebut sebagai perintah untuk
berjaga-jaga dan mengambil tindakan tegas untuk membela panji-panji Gus Dur
apabila terjadi kerusuhan.
Ada paradigma yang tercecer dan mungkin tidak tersentuh sehubungan
dengan lahirnya maklumat tersebut. Ini diperkuat dengan kegemaran Gus Dur
akhir-akhir ini yang sering mensinyalir akan adanya gerakan atau demonstrasi
besar-besaran untuk menggoyang pemerintahannya. Meskipun polemik ada
tidaknya upaya untuk menggoyang duet pemerintahan Gus Dur-Megawati selesai
dengan hasil yang memihak kepada asumsi kecilnya.
Namun kalkulasi politik Gus Dur berbicara lain, yakni adanya
legitimasi sekuat apapun akan senantiasa dirongrong oleh para politisi yang
menghayati aktivitas berpolitiknya hanya sebatas pragmatisme kekuasaan.
Strategi mereka dalam kalkulasi Gus Dur hanyalah bertujuan memaksimalisasi
dan rakus dalam merebut setiap peluang kekuasaan, walaupun konstituen
politiknya hanya berjumlah sedikit. Nilai-nilai substansif seperti
demokratisasi, keadilan sosial dan pemberantaan KKN, bagi politisi hanyalah
nilai-nilai instrumental. Yang dimainkan hanya sejauh masih bisa
dimanfaatkan sebagai instrumen untuk pencapaian tujuan politik. Setelah
tujuan politiknya tercapai, instrumentasi tersebut digadaikan atau dibuang
dikeranjang sampah.
Paradigma yang tercecer tersebut lebih bernuansa psikososial akibat
"carry over" yang menyulitkan. Yakni warisan dari rezim Orba ditambah lagi
dengan adanya ketegangan politik pasca lengserannya Wiranto. Sensor politik
Gus Dur yang terkenal memiliki sensitivitas yang tinggi memberikan konklusi
bahwa saat ini cukup banyak politisi dengan berbagai macam topengnya yang
ingin membuat situasi Indonesia menjadi keruh.
Dari sudut psikisosial, Maklumat Gus Dur diatas lebih merupakan
medical record (catatan medis) dari seorang ahli jiwa. Bahwa kondisi saat
ini dapat dianalogikan sedang terjadi "epidemi" semacam skizofrenia
dikalangan politisi. Skizofrenia bukanlah nama gadis manis putri paman
petani yang berasal dari Rusia, tetapi adalah sebuah istilah yang dipinjam
dari jagad kedokteran.
Dimana istilah tersebut merupakan jenis penyakit gangguan kejiwaan
yang dapat menghinggapi kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Baik kepada
orang-orang didekat kita yang amat kita sayangi. Dan tidak terkecuali
hinggap kepada para politisi yang selama ini kita titipi aspirasi politik.
Para politisi tersebut yang setiap harinya disuguhi menu intrik-intrik dan
selalu berorientasi untuk merebut kursi kekuasaan pada setiap pojok
republik.
Simtomatis politisi berkarakter skizofrenia kongruen dengan para
penderita sakit jiwa skizofrenia yang sesungguhnya. Ini ditandai dengan
ketidakmampuan darinya untuk menilai realitas dilapangan. Selain itu juga
ketidakmampuan untuk menyadari bahwa darinya dihinggapi halusinasi politik.
Yakni responsif pasca inderanya tanpa sumber atau stimulus, misalnya delusi
paranoid melalui sebuah konspirasi. Padahal kenyataannya tidak ada pihak
yang akan melakukan hal itu. Selain itu seolah-olah sedang terjadi proses
marginalisasi dan pemojokan kepada golongannya, padahal tidak terbukti
adanya usaha sistematis kearah sana.
Para politisi baik yang secara harfiah memang benar-benar telah
mengidap penyakit tersebut, telah menjadikan konstelasi politik nasional
menjadi keruh. Politisi semacam ini memiliki paham-paham tertentu didalam
melihat langkah-langkah kebijakan pemerintah saat ini.
Corak kepemimpinan Gus Dur-Megawati yang egaliter dan lintas
sektarian, bahkan lintas ideologis semakin membuat politisi berkarakter
skizofrenia menjadi sering kambuh. Karakter tersebut dapat dianalogikan
seperti melihat kucing yang lembut dan manis, namun dalam penglihatannya
berubah menjadi seekor vampire yang jahat. Karena perilakunya dipenuhi
dengan kekhawatiran, kecemasan, merasa terancam dalam bungkus yang bernama
paham-paham.
Ketika Gus Dur melakukan dialog kemanusiaan dengan Ibraruri yang
merupakan putri tokoh Partai Komunis Indonesia DN. Aidit dihadapan Presiden
Perancis Jasques Chirac, banyak politisi berkarakter skizofrenia menjadi
sewot dan berkeringat dingin. Dengan alasan yang irasioanal mereka
mengkhawatirkan pulangnya para pelarian politik. Sentuhan kemanusiaan Gus
Dur tersebut justru menumbuhkan rasa ketakutan yang berlebihan bagi politisi
berkarakter skizofrenia, ibarat melihat hantu disiang bolong.
Didalam agenda-agenda aksi politiknya, politisi berkarakter
skizofrenia selalu memperingatkan adanya ancaman bahaya laten komunis akibat
kebijakan pemerintahan Gus Dur yang telah membuka kran pelarian politik yang
berideologi Marxisme. Padahal dimata Gus Dur hal tersebut adalah nilai-nilai
universal yang bernuansa kemanusiaan yang adil dan beradab.
Mengeliminir para politisi berkarakter skizofrenia dapat dilihat
dari stigma-stigma yang muncul dari tingkah laku dan agenda-agenda aksinya.
Seperti halnya penderita betulan, politisi berkarakter skizofrenia
cenderung melakukan hal-hal yang tak terduga, berbahaya bagi ketertiban
umum, dan kadang amat tidak masuk akal. Karakter tersebut dalam aksi
konkritnya menghapus elegi senyum dan sapa sesama anak bangsa.
Mempertentangkan antar pemeluk beragama dan antar golongan. Dan selalu
mencari-cari kesalahan dan aib orang lain. Semua itu ditaburkan dengan
harapan akan menuai hasilnya yang berupa kekacauan dan kerusuhan massa.
Langkah preventif untuk menangkal politisi berkarakter skizofrenia
adalah pada saat penjaringan dan pemilihan. Dimasa mendatang hendaknya
rakyat memiliki saringan dan ukuran-ukuran yang dapat dijadikan bukti
terhadap kualitas diri dan bebas karakter skizofrenia dari para politisi
yang akan dititipi aspirasinya. Kalau tidak maka kondisi politik di tanah
air selalu dalam keadaan gonjang-ganjing dan untreasureable (tidak dapat
ditelusuri dengan baik). Tradisi politik fatsoen (tata krama politik) yang
seharusnya tumbuh subur dalam wacana perpolitikan nasional tidak akan pernah
terwujud. Yang ada hanyalah intrik-intrik, kasak-kusuk, mempolitisir agama
dan memutar balikkan fakta demi ambisinya untuk berkuasa. (* penulis adalah
pemerhati masalah sosial politik)
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
+++
TAHUKAH ANDA BAHWA MENJELANGH AKHIR TAHUN 2000 NAHDATUL ULAMA (NU) AKAN
MENJADI [PARTAI POLITIK YANG PALING MODEREN DALAM DUNIA KOMUNIKAS?
*** April 2000 ini koran NU DUTA menjadi KORAN NASIONAL.
Pengurus Besar NU telah mengumumkan "Tiga Program Komunitas"
PROGRAM PERTAMA , bulan September 2000 nanti akan diluncurkan berdirinya
INTERNET dan TELECONFERENCE. Saat ini telah ada investor yang menyediakan
250 unit komputer disertai SATELIT dan PROVIDER sendiri. Fasilitas ini akan
diberikan cuma cuma kepada 26 PIMPINAN WILAYAH NAHDATUL ULAMA (PWNU) se
Indonesia dan sejumlah PARA KIAI SEPUH. Untuk mengoperasionalkan dibutuhkan
tenaga tenaga profesional.
April mendatang 10 tenaga ahli akan ditempatkan di PBNU , ditraining selama
2 minggu di Singapura. Bulan Mei y.a.d training tenaga untuk Pimpinan
Wilayah NU (PWNU).
Sedang bulan Juni y.a.d training tenaga yang akan mengelola internet di
tingkat Pimpinan Cabang NU (PCNU). Kalau sudah on line maka Ketua Umum PBNU
KH Hasyim Musadi bisa bicara langsung dengan semua ketua PWNU, lewat
fasilitas teleconference, bukan hanya dengan suara, wajahnya pun bisa nampak
di monitor.
PROGRAM KEDUA, PBNU MERENCANAKAN MENGAMBIL ALIH SIARAN TVRI PROGRAMA-2 .
Nantinya 20% penyiaran menjadi MILIK PBNU. Sekarang ini tinggal
tandatangannya Gus Dur saja, Setelah itu, NU PUNYA STASIUN TV SENDIRI.
PROGRAM KETIGA, PB NU akan mengelola koran harian DUTA Masyarakat Baru.
Karena itu, lepasnya DUTA dari JAWA POS adalah sesuatu yang patut disyukuri,
demi kemajuan DUTA.
Demikian dijelaskan sendiri oleh ketua PBNU KH Hasyim Musadi, yang
menerangkan lebih jauh, bahwa warga NU nanti akan mendapatkan informasi yang
benar benar bersih, terutama berkaitan dengan situasi politik, yang
terkadang beritanya lebih menonjol pemihakan pemilik media. (sumber DUTA,
1/3).
Bagaimana partai partai lain, apakah masih sibuk dan asyik dengan
"internal struggle memperebutkan kursi di Walikota/Bupati dan lain tempat
yang "basah". Yang jelas, NU diam diam maju selengkah demi selangkah.
Selamat Kang Mohammad Sobary MA dan Mas M.Fajrul Faalakh MA yang
duduk dalam jajaran parav redaktur.(TRW)
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sekian dulu, salam hangat dari
TIM REDAKSI WAHANA
==================
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!