Siapapun yang akan menyusun buku putih memang patut kita dukung dan kita lihat 
kebenaran yang terkandung di dalam buku putih tersebut. Akan tetapi sebagai sebuah 
buku "sejarah", maka buku putih tentunya akan berisi rentetan peristiwa yang melatar 
belakangi mengapa si empunya gagasan ingin menerbitkan ceritanya. Taufik Abdullah - 
sejarahwan kondang Indonesia - pernah memberikan argumentasi mengenai data untuk 
menerbitkan suatu kajian sejarah. Menurut beliau ada tiga data utama dalam penulisan 
sejarah yang harus diprhatikan, yaitu : Pelaku sejarah, Benda-benda, dan dokumen 
tulisan. Namun demikian ketiga data tersebut mempunyai kelemahan kodrati, yaitu :
Pelaku sejarah ada kecenderungan untuk menipu, Benda-benda dapat lapuk termakan usia 
dan musim, sementara dokumen bisa hilang tak tentu rimbanya sebagai akibat tidak 
adanya tradisi kita untuk mengarsipkan dokumen-dokumen penting.

Jadi untuk menerbitkan buku putih tersebut di atas, maka si empunya gagasan harus 
menggunakan data-data tersebut di atas dan siap untuk digugat mengenai 
orisinalitasnya. Ini berarti untuk menulis "Buku Putih" atau sejarah yang dipentingkan 
adalah KEJUJURAN. Namun karena kejujuran ini sulit sekali untuk diukur, maka biarlah 
nanti publik pembaca yang akan menilai dengan argumentasinmya masing-masing-masing. 
Pasti rame ing pamrih sepi ing gawe.
--

On Sat, 18 Mar 2000 07:34:22   eg wrote:
>Buku Putih telah menjadi sebuah terminologi untuk menandai sebuah
>buku yang memaparkan fakta sebuah kejadian atau peristiwa yang
>tentu saja diharapkan obyektif. Pemerintah Orba telah menerbitkan
>buku putih peristiwa G30S yang bebeapa kali direvisi dan banyak
>sekali mengundang kritik.
>
>Kini, Prabowo akan menerbitkan buku putih peristiwa Mei, sedang
>Feisal Tanjung dan Sarwan Hamid masing-masing akan menerbitkan
>buku putih Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli). Saya melihat
>ada beberapa terbitan media  yang apriori terhadap rencana itu.
>Salah satu yang melandasi sikap apriori itu adalah pengalaman Buku
>Putih Pemerintah yang dinilai ingin membentuk opini atau memberi
>pembenaran atas tindakan Soeharto pada saat itu.
>
>Sikap apriori semacam itu sebenarnya tidak perlu terjadi bila kita
>berkehendak untuk mengetahui sebuah kebenaran dengan cara yang
>benar yaitu membuka semua informasi. Disini informasi
>didefinisikan sebagai signal yang mengubah pengetahuan seseorang.
>Kita bisa mengatakan bahwa Buku Putih G30S itu tidak obyektif
>karena kita juga memperoleh  informasi dari sumber-sumber lain
>yang membimbing nalar kita untuk menilai kadar obyektifitas Buku
>Putih itu. Di sisi yang lain, bukankah kita juga bisa menilai
>bagaimana kejujuran pemerintah sebenarnya.
>
>Oleh karena itu, rencana penerbitan buku putih Prabowo, Feisal,
>dan Sanwar justru harus didukung. Buku putih itu bagaimanapun juga
>akan menjadi puzzle informasi yang bisa membantu kita untuk
>membangun gambaran peristiwa Mei dan Kudatuli secara utuh.
>
>eg
>(pemerhati informasi)
>
>
>
>
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
>-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at 
http://www.eudoramail.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke