Tentu saja tidak ada yang boleh melarang seseorang menggunakan
datanya untuyk menerbitkan sebuah buku putih. Justru dengan
penerbitan itu maka ada dua kemungkinan keuntungan yang akan
diperoleh publik.
Pertama, kalau seandainya data itu benar maka publik akan
memperoleh informasi yang cenderung 100% benar sehingga publik
akan memperoleh gambaran yang sebenarnya setelah diperoleh
tambahan informasi dariu sumber lain.
Ke dua, kalau data itu tidak benar berdasar cross check dari
sumber lain maka publik akan mengetahui bahwa penulis buku putih
itu disamping tidak jujur juga mempunyaqi maksud-maksud tertentu
yang tidak berdasar niat yang baik.
Justru buku putih Feisal dan Sarwan, dalam hal ini lebih berat
untuk memperoleh nilai kebenaran publik karena disamping peristiwa
Kudatuli tidak bisa dipisahkan dari rentetan peristiwa sebelumnya
seperti penggunaan aparat Kodim di daerah untuk menjadi utusan DPC
PDI di kongress Medan (pelanggaran berat bukan?) dimana Feisal
dan Sanwar demikian kasat mata berada di belakang rekayasa itu
apalagi ternyata Feisal memiliki hubungan keluarga dengan Fatimah
Ahmad, juga fakta dan opini yang sudah digelar di publik baik
didalam dan luar negeri telah sampai pada satu kesimpulan bahwa
mereka tidak mungkin tidak terlibat.
Oleh karena itu, biarkan saja burung bernyanyi sesuai dengan
paruhnya. Jadi, sekalai lagi, biarkan saja Prabowo, Feisal, dan
Sanwar membuat Buku Putihnya karena dari sana kita akan mengetahui
apa yang tadinya belum kita ketahui.
��
----- Original Message -----
From: pabu sacilat <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 18 March 2000 08:21
Subject: Re: [Kuli Tinta] Buku Putih :Menguak sejarah
Siapapun yang akan menyusun buku putih memang patut kita dukung
dan kita lihat kebenaran yang terkandung di dalam buku putih
tersebut. Akan tetapi sebagai sebuah buku "sejarah", maka buku
putih tentunya akan berisi rentetan peristiwa yang melatar
belakangi mengapa si empunya gagasan ingin menerbitkan ceritanya.
Taufik Abdullah - sejarahwan kondang Indonesia - pernah memberikan
argumentasi mengenai data untuk menerbitkan suatu kajian sejarah.
Menurut beliau ada tiga data utama dalam penulisan sejarah yang
harus diprhatikan, yaitu : Pelaku sejarah, Benda-benda, dan
dokumen tulisan. Namun demikian ketiga data tersebut mempunyai
kelemahan kodrati, yaitu :
Pelaku sejarah ada kecenderungan untuk menipu, Benda-benda dapat
lapuk termakan usia dan musim, sementara dokumen bisa hilang tak
tentu rimbanya sebagai akibat tidak adanya tradisi kita untuk
mengarsipkan dokumen-dokumen penting.
Jadi untuk menerbitkan buku putih tersebut di atas, maka si
empunya gagasan harus menggunakan data-data tersebut di atas dan
siap untuk digugat mengenai orisinalitasnya. Ini berarti untuk
menulis "Buku Putih" atau sejarah yang dipentingkan adalah
KEJUJURAN. Namun karena kejujuran ini sulit sekali untuk diukur,
maka biarlah nanti publik pembaca yang akan menilai dengan
argumentasinmya masing-masing-masing. Pasti rame ing pamrih sepi
ing gawe.
--
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!