RNSI, Selasa, 18 Juli 2000:

* MAMPUKAH INDONESIA MENOLAK INTERVENSI ASING DALAM SOAL MALUKU?

Harian Belanda NRC Handelsblad, memberitakan, masuknya pasukan
internasional ke Ambon dan Maluku nampaknya sulit untuk dihindari
setelah pihak televisi menayangkan adegan Laskar Jihad  yang
bertempur bersama-sama  TNI di sana. Berikut laporan koresponden
Syahrir dari Jakarta:

Dalam pidatonya membuka Rapim Golkar, Ketua Umum Akbar Tandjung
kemarin menyerang Gus Dur yang dinilainya gagal, terutama dalam
masalah Ambon:

" Yang terjadi adalah sikap-sikap dan kebijakan-kebijakan presiden
yang tidak konsisten, berubah-ubah dan memancing kontroversi dalam
masyarakat. Kebijakan-kebijakan dan pernyataan-pernyataan yang
inkonsisten inilah yang sebenarnya telah menciptakan ketidakpastian
politik. Bukannya apa yang disebut secara superfisial dengan
konflik-konflik elit politik."

Sementara itu kemarin diumumkan bahwa Menlu Alwi Shihab hari Minggu
tanggal 23 Juli akan berangkat ke Bangkok, menghadiri Asean Regional
Meeting. Dalam pertemuan tersebut, Alwi dijadwalkan akan bertemu
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeleine Albright untuk
membicarakan masalah Ambon dan Maluku Utara. Kepada pers Alwi Shihab
menegaskan tidak akan ada intervensi asing dalam penyelesaian kasus
Maluku. Pemerintah sudah mengadakan pertemuan dengan Masyarakat Eropa
membahas masalah tersebut. Dia juga mengatakan pemerintahan Gus Dur
tidak bisa menerima bila tentara asing masuk ke Maluku. Namun soal
bantuan kita akan pertimbangkan supaya tidak ada kesan itu
intervensi. Alwi juga akan ke Belanda menemui Perdana Menteri Belanda
Wim Kok dan ke New York menjumpai Sekretaris Jenderal PBB. Selain itu
ia juga akan bertemu Menlu Australia. Australia telah menyatakan
kesediaannya untuk mengirim pasukannya ke Maluku. Sementara kelompok
politik di Amerika Serikat menyetujui  rencana pengiriman militer
Australia itu jika ada permintaan dari Indonesia. Pemerintah Belanda
pun sudah mendesak Sekjen Kofi Anan untuk lebih memperhatikan Maluku.
Masalah Maluku kembali menjadi perhatian utama pemerintahan Gus Dur
dan TNI setelah Amerika, Masyarakat Eropa dan PBB mulai menunjukkan
niat kuat untuk mengirim pasukan internasional ke daerah sengketa
tersebut.

Kemarin, Brigjen Pol Firman Gani, Kapolda Maluku  menyatakan,
penanganan kasus Maluku tidak memerlukan intervensi PBB karena kedua
belah pihak telah menghentikan aksi-aksi penyerangan. Brigjen Firman
Gani juga mengakui, sebagian kecil pihak Kristen dan Islam masih
tetap menginginkan terjadinya kerusuhan. Tetapi kelompok besar sudah
menginginkan suatu perundingan untuk mencari jalan keluar dari
situasi rusuh di Maluku. Polisi, menurut Kapolda Maluku berusaha
melakukan pendekatan simultan, hukum dan sosial kultur. Sedangkan
Panglima Armada Barat Laksamana Putu Ardana di tempat yang lain
mengatakan kepada pers, Angkatan Laut tetap melakukan tugas-tugas
pokoknya untuk meningkatan keamanan di laut. Putu Ardana, menjelaskan
bahwa  Armada Barat saat ini sudah siap menjaga penyusupan
kapal-kapal dari Maluku yang mau melakukan pengacauan di Jakarta.

Sumber-sumber lain mengatakan Panglima Armada Barat sudah
menginstruksikan jajarannya untuk  langsung menembak kapal-kapal yang
membawa milisi bersenjata dari Maluku. Instruksi tersebut sesuai
dengan perintah Panglima TNI Laksamana Widodo baru-baru ini yang
mensinyalir usaha-usaha sementara pihak untuk menyelundupkan senjata
organik dari Maluku ke Jakarta menjelang Sidang Tahunan Agustus
mendatang. Kerusuhan-kerusuhan di Ambon dan Maluku Utara yang umumnya
dibiarkan berlarut-larut oleh pihak militer, dikhawatirkan bisa
menjalar ke daerah-daerah lain. Seorang Letjen dari Mabes TNI pekan
lalu secara informal menjelaskan kepada "Kelompok Diskusi Cawang"
bahwa TNI tidak akan turun tangan mengatasi keadaan sebelum UU PKB
disahkan sebagai payung hukum bagi TNI. Mabes TNI sementara ini hanya
membiarkan polisi menjaga keamanan. TNI hanya memberikan dukungan
saja. Demikian tokoh Mabes TNI tersebut.

Sementara masyarakat di Maluku melihat TNI acapkali berpihak pada
satu kelompok. Hal ini pun dibenarkan seorang perwira dari Armada
Timur. Ia menunjuk pada kasus pencarian Kapal Motor Cahaya Bahari
yang dinyatakan tenggelam dengan lebih dari empat ratus pengungsi
dari Maluku Utara. Koordinator tim SAR untuk musibah Kapal Motor
Cahaya Bahari, Udyanto SH baru-baru ini di Manado mengemukakan: "Kami
hingga kini belum memecahkan misteri kapal tersebut. Maklum di laut
itu, ada banyak misteri, katanya. Ini di luar pengetahuan kita.
Tetapi ini bukan berarti kami pasrah kepada misteri karena takut tak
terpecahkan. Memang, andaikata ada jenazah-jenazah yang masih ada di
dalam laut, dalam tempo beberapa hari jenazah-jenazah itu seharusnya
sudah keluar." Ia juga menyatakan keheranannya, karena meski sudah
dijelajahi baik  dengan kapal maupun dengan pesawat Nomad Angkatan
Laut, selama beberapa hari, tidak terdapat tanda-tanda apapun yang
mengapung. Tidak pula ada buih-buih dari bawah ke atas, sebagaimana
lazimnya. Hingga kini pihak Armada Timur TNI AL belum mengeluarkan
pengumumnan soal kapal yang raib itu. Komandan Gugus Gamla, Laksamana
Djoko Soemaryono pun meski telah meninjau keadaannya di sana tidak
dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.

Suatu sumber dari Gereja Baptis di Manado menceriterakan bahwa
delapan orang pendeta gereja Baptis yang semula akan menghadiri
konperensi Gereja Baptis di Manado ikut hilang dengan kapal tersebut.
Berita terakhir yang diperoleh dari para pendeta itu ialah bahwa
kapal naas itu dihadang oleh kapal lain yang ditumpangi orang-orang
yang bersenjata. Menurut sumber tersebut di Manado kini beredar
berita-berita yang belum dikonfirmasi pada TNI, bahwa kapal itu
ditahan di suatu pulau. Pesawat-pesawat terbang sudah melihat kapal
tersebut yang sudah dalam keadaan kosong. Demikian sumber tersebut.

Sementara itu, Armada  Timur TNI AL, minggu lalu berhasil menangkap
48 kapal motor yang diduga akan melakukan kerusuhan di wilayah Ambon-
Maluku. Dari kapal-kapal itu berhasil disita sejumlah senjata serta
amunisi. Menurut Kadispenal Laksamana Pertama Oentowiryo, beberapa
hari sebelumnya mereka juga berhasil menangkap 19 kapal motor. Dengan
demikian, 11 kapal perang TNI AL telah berhasil menangkap 67 kapal
motor sejak diberlakukannya Keadaan Darurat Sipil.

Di Jakarta, Panglima Laskar Jihad Ustad Ja'far Umar Thalib membantah
bahwa pihaknya telah melakukan pembersihan terhadap kelompok merah di
Maluku. Menurutnya, keberadaan Laskar Jihad justru untuk menghentikan
peperangan. Hal itu disampaikan Ja'far dalam jumpa pers yang
diselenggarakan di kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jl.
Kramat Raya. "Di sana kita justru menyelamatkan wanita dan anak-anak.
Sesuai dengan syariat Islam, di dalam peperangan dilarang membunuh
wanita dan anak-anak," jelas Ja'far kepada wartawan. Ja'far juga
meragukan kemampuan pemerintah RI untuk segera menghentikan konflik
berkepanjangan di kawasan 'seribu pulau' tersebut. "Indonesia saat
ini dalam posisi dan kondisi yang lemah. Jadi tidak mungkin
menyelesaikan kasus ini secepatnya. Dan jika institusi hukum tidak
dapat lagi ditegakkan dengan benar maka yang melakukan pembelaan
adalah rakyat sendiri," kata Ja'far. Perang yang terjadi di Maluku
saat ini, menurutnya, adalah untuk menghentikan peperangan yang
selama ini terjadi. Selama ini, lanjutnya, peperangan di sana dipicu
oleh provokator-provokator. "Dan keberadaan Laskar Jihad di sana
untuk menumpas para provokator tersebut," ungkap dia lagi. Soal
penyerahan senjata sejak diterapkannya darurat sipil, Ja'far mengakui
memang terjadi di sana akan tetapi hanya untuk kelompok tertentu
saja. "Jika terjadi penolakan dari suatu kelompok, TNI selalu berada
dalam posisi mengalah," jelasnya. Ia  juga membantah bahwa  Laskar
Jihad mendapat dukungan senjata dari TNI.  Ja'far melaporkan bahwa
hingga kini masih  terus menerus terjadi peperangan di Maluku.

Maka tidaklah mengherankan jika harian Belanda NRC Handelsblad
kemarin melaporkan bahwa  kemungkinan besar pemerintah Indonesia
harus menyetujui masuknya bantuan luar negeri untuk mengakhiri
konflik agama di Maluku. Gus Dur sendiri dalam pertemuannya dengan
para gubernur di Jakarta mengatakan, kalau pemerintah daerah tidak
dapat mengatasi keadaan di Maluku maka mau tak mau kita harus
menerima bantuan logistik dan peralatan dari luar negeri.


---------------------------------------------------------------------



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke