RNSI, Selasa, 18 Juli 2000:
* INTERVENSI ASING DI MALUKU DIBUTUHKAN KARENA PEMERINTAH TERLALU
SIBUK DENGAN DIRI SENDIRI

Menteri Luar Negeri Alwi Shihab kembali menegaskan bahwa Indonesia
menolak intervensi asing di Maluku. Sementara Presiden Abdurrahman
Wahid membuka peluang intervensi asing hanya sebatas bantuan
logistik.
Tapi, bagaimana keadaan di lapangan sendiri ? Gubernur Maluku Utara,
Abdul Mufi Effendi, kepada televisi swasta SCTV mengatakan, pihaknya
tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Abdul Mufi Effendi: Saya kira harus hati-hati dalam rangka memilih
dan memilah mana yang baik mana yang tidak. Tapi memang kami sudah
menghidupkan SATKORLAP dan itu lsm yang memabntu di sana setiap Sabtu
kami rapat di bawah koordinator PMI di kantor menentukan mana sasaran
yang akan dicapai, apa yang diberikan.

Demikian Gubernur Maluku, Abdul Mufi Effendi. Menurut sosiolog
Universitas Indonesia asal Maluku, Thamrin Thomagola, kenyataan di
lapangan justru mendesak segera campur tangan dunia internasional.

Thamrin Tomagola [TT]: Saya kira sudah, karena sekarang ini itu
tragedi Maluku itu tidak lagi sekedar tragedi nasional, itu
sebenarnya sudah harus dilihat sebagai tragedi kemanusiaan. Nah kalau
sebagai tragedi kemanusiaan, kalau memang kita sebagai bangsa itu
tidak mampu untuk menyelesaikan dan perkembangan di lapangan itu
menunjukkan tanda-tanda itu, ketidakmampuan dari aparat keamanan
untuk menyelesaiakan itu, dan lebih jelek lagi karena banyak unsur
dari aparat keamanan itu yang turut memperkeruh suasana di lapangan
itu kan, dan kemudian ada laskar jihad yang samasekali tidak bisa
diapa-apakan oleh aparat keamanan. Nah, itu berarti kemampuan
nasional itu kan sudah sampai maksimal tidak mampu. Nah, pada saat
itu kita harus menoleh ke dunia internasional untuk minta bantuan.
Dalam hal ini biasanya pertama-tama yang kita minta bantuan itu kan
negara-negara tetangga kita. Jadi dari segi itu kita barangkali
pertama-tama harus menoleh ke negara-negara ASEAN. Apakah mereka bisa
menolong kita dalam mengatasi masalah Maluku itu. Terutama pertama
yang sangat utama sekarang itu adalah penanganan pengungsi dan
pemberian pelayanan yang langsung kepada pengungsi termasuk
evakuasinya dari Ambon itu. Nah sesudah itu saya pikir barangkali
suatu UN troops [pasukan PBB,Red.] dari kalangan ASEAN itu barangkali
sudah bisa dipikirkan untuk didatangkan karena perkembangan di
lapangan kelihatan aparat keamanan sudah tidak mampu lagi.

Radio Nederland [RN]: Kemarin saya kira Gubernur Maluku Utara Pak
Mufi Effendi diwawancara oleh SCTV dan dia sangat optimis dengan
melihat perkembangan di Maluku Utara. Dia melihat perkembangannya
baik dna satu hal yang sangat mengejutkan aparat keamanan di sana
sangat netral.

TT: Ini ada dua kemungkinan ya. Kemungkinan yang pertama itu memang
bahwa gubernur dengan aparatnya itu berusaha maksimal dan gubernur
menggunakan wewenangnya secara maksimal yang tercantum dalam keadaan
Darurat Sipil itu. Dan kemudian memang berhasil. Dan kemungkinan
kedua adalah sebenarnya ini, Maluku Utara ini kan dipimpin oleh
seorang gubernur yang berlatarbelakang militer, sedangkan Maluku
Tengah ini dipimpin oleh seorang gubernur yang berlatarbelakang
sipil. Nah bisa saja ini adalah satu manuver militer untuk
memperlihatkan bahwa kalau satu daerah dipimpin oleh militer itu
lebih berhasil dalam meredakan keadaan sedangkan daerah yang dipimpin
oleh sipil itu tidak gitu. Itu kan sebenarnya menunjukkan keunggulan
militer terhadap sipil. Bisa juga begitu. Nah karena memang yang
sudah mulai reda itu adalah Maluku Utara, sedangkan Ambon itu, di
Maluku Tengah itu tetap saja itu, makin jelas itu perkembangannya.

Demikian Thamrin Thomagola, sosiolog asal Maluku.

Mengapa pemerintah tidak tegas meminta intervensi dunia
internasional? Menurut pengamat politik, Arbi Sanit, pemerintah saat
ini sedang sibuk dengan dirinya sendiri.

Arbi Sanit [AS]: Ada pertimbangan agak sulit di Indonesia, terutama
dari pemerintah. Bisa jadi memang kalau dilihat secara fungsional
akan membantu ya campur tangan internasional itu. Tapi bagi
pemerintah pertimbangan kemerdekaan, nasionalisme dan lain sebagainya
itu juga nggak bisa dilepaskan itu. Menurut saya memang ini
katakanlah pertimbangan ini agak berat ya bagi pemerintah, tapi
sekarang tampaknya pemerintah melihat bahwa ada kemungkinan
penyelesaian itu melalui darurat sipil gitu ya dan bisa meningkat ke
darurat militer. Sebab kalau internasional masuk kan militer juga
masuk. Bisa jadi untuk mengganti alternatif internasional itu
ditingkatkan menjadi darurat militer.

RN: Ternyata Darurat Sipil itu kan tidak efektif. Korban semakin
berjatuhan dan apa salahnya kalau kita minta dunia internasional
turun tangan?

AS: Ya dunia internasionalnya kan juga sulit karena sama aja itu
masuknya internasional nanti soal agama juga akan tumbuh. Dari
internasionalnya bagaimana pertimbangan agamanya, apakah memang bisa
ada tentara dari dunia Islam dan tentara dari dunia non-Islam? Itu
kan juga jadi persoalan. Sama juga tentara yang dimasukkan sekarang
ke sana juga persoalannya itu. Lama-lama di sana itu mengikut agama
masing-masing dia.

RN: Bukankah pertimbangannya kalau pasukan internasional turun itu
lebih netral sifatnya itu Pak Arbi?

AS:  Apakah ada jaminan begitu? Jadi kan soal agama ini. Tidak ada
jaminan begitu. Internasional nanti soal agama juga akan terjadi.
Lihat saja di Timor Timur kan soal agama juga kelihatan toh?

RN: Soalnya korban semakin berjatuhan, apakah kita masih bertumpuk
kepada cara-cara kita yang ternyata tidak mempan. Apakah kita harus
tunggu sampai semua warga di sana habis baru kita mencari jalan
keluar yang lebih efektif?

AS: Ya memang begitu. Tapi sekarang ini di Indonesia sedang terjadi
perkembangan demokrasi dan perkembangan efektifitas pemerintah. Nah
itu satu sama lain tidak ada sinkronisasi ya, masih dianggap
berlawanan. Kalau pemerintah menjadi efektif dengan melalui represif
itu dianggap bertentangan dengan demokrasi. Pertimbangan ini belum
bisa diambil secara mudah oleh orang-orang baik masyarakat maupun
pemerintah di Indonesia. Itu menyebabkan saya kira terbengkal
persoalan-persoalan seperti Ambon, seperti Aceh itu. Itu boleh
dikatakan sekarang sebenarnya baik pemerintah dan masyarakat belum
atau tidak siap mengambil suatu sikap yang tegas terhadap
persoalan-persoalan yang menyangkut SARA, menyangkut suku, agama dan
ras itu.

RN: Ya itu masalah yang sekarang ini kan berkaitan dengan hal itu.
Nah, sampai kapan kita mentolerir ketidaksanggupan pemerintah itu?

AS:  Ya, saya sendiri ya kalau dilihat dari segi kebutuhan ya bisa
cepat diambil langkah yang lebih tegas. Tapi yang menjadi persoalan
ini kan pemerintah ini sedang sibuk dengan diri sendiri. Orang-orang
yang berkuasa dalam negara ini sedang asyik di satu pihak ingin
memperbesar kekuasaan, di lain pihak ingin mempertahankan kekuasaan.
Itu umpamanya antara DPR dan eksekutif yang sedang terjadi sekarang
itu. Jadi mereka luput terhadap itu. Korban-korban nyawa itu menjadi
luput. Atau tidak bisa mengkonsentrasikan perhatian kepada masalah
masalah seperti itu.

Demikian pengamat politik Arbi Sanit. Sebelumnya anda sudah mendengar
penjelasan Gubernur Maluku Utara Abdul Mufi Efendi dan pendapat pakar
sosilogi asal Ambon Thamrin Thomagola.





->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke