From: Hercule Poirot <[EMAIL PROTECTED]>

>Proses pendidikan bahkan telah menjadi semacam knowledge factory.

Poirot:

maksudnya bagaimana ini mas.

��:
Maskudnya, copy and paste dalam proses pendidikan.

>Dari mana kita mulai? -> Dari orang-orang waras yang masih
>memiliki stamina untuk berkorban bagi sebuah idealisme.

Poirot:

Nah ini usulan bagus...
tapi apa kita masih bisa mencari orang waras spt yang
sampeyan deskripsikan itu? saya waras, tapi saya akan
tunggu dulu kalau mau dikorbankan :)

��:
Mengapa harus perlu merasa curiga?

Hercule Poirot:
apalagi kalau makan bankan itu idealisme...
krn dalam pemahaman saya, idealisme itu memberi
"guide" bagaimana kita bisa mencapi sesuatu dng
cara yang manis...bukan memakan korban :)

��:
He... he... jiwa pmberontak tampaknya ada pada Anda ya... Namun,
sebagai ilmuwan anda harus berani berkorban untuk mempertahankan
kebenaran yang Anda yakini bukan? Disamping Galileo, di Indonesia
juga ada beberapa ilmuwan yang lebih baik tidak memperoleh Ph.D
nya karena disertasinya diganjal oleh seniornya (satu mengenai
Pancasila, yang lain mengenai Biologi)

>Sayang itu kini telah menjadi barang langka karena Ki Hadjar
merah yang
>melambai-lambai.
>��

Poirot:

benar,
mungkin beberapa orang tergiur dengan lambaian
ki Hajar Merah, tapi jangan terlalu pesimis,
masih ada yang tak tergiur...dan mungkin masih
banyak.

��:
Di jaman Jahiliah apa yang harus dilakukan?

Hercule Poirot:
saya pernah berada dalam posisi bertahan demi
nilai-nilai pendidikan.

seorang mahasiswa kalap ketika mendapat nilai E.
dia datang ke rumah nawari deal kalau saya mau
meralat nilai itu. Tentu saja saya menolak meralat,
krn memang tak ada kesalahan dalam penilaian. Dan
sebenarnya mhs itu tahu. Sebab, hasil ujian selalu
dikembalikan agar mhs bisa ngoreksi bila dosen
membuat kekeliruan. Nilai mhs itu <40 untuk ujian I
ketika rata-2 kelas >60; dan <30 untuk ujian II
ketika rata-rata kelas >65. Dengan melihat hasil
itu, sudah sangat wajar kalau ia dapat nilai E.

Tapi mhs ini marah-marah dengan mengatakan:
"Berani sekali pak Usman memberi nilai saya E."

Anak ini menawarkan deal, kalau saya mau meralat
nilainya menjadi B, dia akan kasih apa yang saya
minta. Tentu saja saya tak mau melayaninya.
Anak itu kemudian datang lagi membawa gali.
Sambil ngobrol, gali itu terus mengelus-elus
badik yang disimpan di balik bajunya.

Ketika deal tak mencapai kata sepakat, gali itu
mengeluarkan badiknya dan bilang: "Apa bapak tidak
mempan pisau?"

Waktu itu saya hanya menggunakan "common sense".
Gali ini tak bisa berkelahi. Sebab, orang yang
bisa berkelahi tak memerlukan bantuan senjata
tajam.

Dengan notion spt itu, saya malah jadi tambah
percaya diri. Saya dekati gali itu, dan saya
tepuk-tepuk pahanya. Kemudian saya bilang
demikian: "Mas, jangankan pisau...linggis saja
saya kembalikan kok." Sehabis berkata begitu
saya kembali menyandar ke kursi sambil berbisik
di dalam hati "kalau minjam".

Belakangan saya mendengar...rupanya di fakultas
lain...main-main nilai memang bukan barang asing.
bahkan ada rekan yang bisa memasang harga dengan
imbalan ban mobil, perabot rumah tangga...wuih...
saya jadi "neg" mendengar berita itu...apalagi
kalau teringat pengalaman saya mau dikasih
hadiah "badik".

��:
Siiip!

Wah... sayang cowok sehingga urusannya kekerasan. Teman saya
berurusan dengan mhs/i yang meminta nilai malah mhs/i itu bersedia
melakukan apa saja.... asal nilainya naik. Coba... opo ora edaaan!


Wassalam,
+++Poirot






->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke