Saya kutip pendapat bapak Wisnu (diambil dari judul 'kalah duluan'), sebagai
berikut:

WAM:
Apakah Hendardi juga bicara begini, ketika KPU dengan semena-mena melarang
Menteri kampanye, sementara anggota KPU boleh kampanye? Apakah itu bukan
tindakan hipokrit? Belum lagi ketika manusia satu ini menertawakan upaya
penasehat hukum Suharto melapor ke Komisi HAM internasional. Benar-benar
menjijikkan kelakukan orang berjenggot yang satu ini.

dari saya :

Betapa sulitnya memenuhi kriteria menjadi pengamat di negeri bapak Wisnu
ini. Kesimpulan ini saya dapatkan setelah mempelajari beberapa posting bapak
Wisnu, yang memberikan peraturan syarat bagi siapa saja yang ingin
berkomentar, agar konsisten, dengan cara pernah memberikan pendapat yang
serupa untuk kasus-kasus yang sudah.

Padahal, untuk memberikan pendapat yang dianggap konsisten, untuk berbagai
kasus yang sudah, mestinya, juga diperlukan syarat 'pernah memberikan
komentar untuk hal serupa sebelumnya'.

Jika dituruti, maka yang bersangkutan juga harus memberikan catatan yang
konsisten untuk peristiwa di jaman Amangkurat I (pembunuhan besar-besaran),
atau hingga 'Banjir darah di Borobudur', dan seterusnya.

Menurut teman Jawa saya, Paido, begitulah kelebihan bapak Wisnu (kalau
menghindar).





_______________________________________________________
Say Bye to Slow Internet!
http://www.home.com/xinbox/signup.html


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke