On Mon, 24 Jul 2000, reijkman karrountel wrote:
> Betapa sulitnya memenuhi kriteria menjadi pengamat di negeri bapak Wisnu
> ini. Kesimpulan ini saya dapatkan setelah mempelajari beberapa posting bapak
> Wisnu, yang memberikan peraturan syarat bagi siapa saja yang ingin
> berkomentar, agar konsisten, dengan cara pernah memberikan pendapat yang
> serupa untuk kasus-kasus yang sudah.
WAM:
Ah, meneer.
> Padahal, untuk memberikan pendapat yang dianggap konsisten, untuk berbagai
> kasus yang sudah, mestinya, juga diperlukan syarat 'pernah memberikan
> komentar untuk hal serupa sebelumnya'.
> Jika dituruti, maka yang bersangkutan juga harus memberikan catatan yang
> konsisten untuk peristiwa di jaman Amangkurat I (pembunuhan besar-besaran),
> atau hingga 'Banjir darah di Borobudur', dan seterusnya.
WAM:
Ndak usah membandingkan yang terlalu jauh lah, meneer.
Cukup membandingkan situasi kontemporer saat ini saja. Boleh sih, kalau
meneer mau membandingkan dengan situasi jaman dahulu kala. Supaya terbuka
kemunafikan bangsa meneer juga. Seenaknya menjajah Indonesia, tapi jungkir
balik ketika dijajah Jerman dan orangnya dibunuhi tentara Jepang. Itu
munafik meneer.
> Menurut teman Jawa saya, Paido, begitulah kelebihan bapak Wisnu (kalau
> menghindar).
WAM:
Ah meneer, pandangan yang salah.
Namun, rasanya masuk akal jika saya menuntut orang untuk konsisten,
minimal untuk jangka waktu setahun dua ini lah. Jadi, kalau kemarin enak
saja melarang menteri (yang waktu itu adalah orang Golkar) untuk ikutan
kampanye, ya larang juga dong itu anggota KPU agar tidak ikutan kampanye.
Mereka toh wasit Pemilu. Masak ikutan main? Makanya, saya setuju KPU
dihapus saja, diganti orang non partai.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!