benar mas,
saya penginnya sih ngajak atau ajak-ajak begitu.
soalnya kagum berat je sama perjuangan kanjeng nabi
Muhammad dan para sahabatnya. bermodalkan ketertindasan
dan dikusilkan oleh khalayak, tetap mampu lepas dari
himpitan multi-krisis. itu kalau bukan atas pimpinan
"suara wahyu" yang benar-benar kotekstual, mana
mungkin?
sementara itu sekarang yang saya hadapi, bila langsung
membuka kitab kumpulan wahyu itu, justru modal
dasar semangat islamiah yang cenderung pada level
dasar the whole humanity malah ditaruh di belakang.
apa mungkin saya harus membacanya seperti orang
membaca buku-buku cetakan Jepang atau China,
yang kalau diterapkan dengan model ngendonesia,
membaca dari halaman belakang?
(ah jadi ingat gurauan religius umar kayam jadinya,
beliau yang merasa belum pantas tahu-tahu berkesempatan
naik haji, terus bilang: "ya sudah kalau memang kersonya
Gusti Allah saya harus berangkat dari yang teakhir,
tak apa....)
soel
----
----- Original Message -----
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, July 27, 2000 7:51 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Summary
----- Original Message -----
From: Benny <[EMAIL PROTECTED]>
del
Ini adalah suatu ajaran yang bertentangan dari kedua agama dan
semestinya
tidak perlu dipersoalkan. Mari kita pilih agama yang terbaik
bagi
kita dan
sungguh-sungguh untuk melaksanakan ajaran agama kita tersebut.
Peace
================
Mas Benny, LJ dan mereka yang bersimpati terhadap kegiatan
mereka
juga mempunyai argumentasi untuk melaksanakan ajaran agama yang
terbaik dan diyakini terbaik berdasar ayat-ayat suci di kitab
suci
ajaran agamanya.
Lj Ke Ambon juga didorong oleh semangat pemahaman terhadap kitab
suci dari agama yang mereka yakini terbaik.
Yang menjadi masalah, terlihat sejumlah netter yang memahami
kitab
suci yang sama memiliki penghayatan berbeda sehingga memiliki
sikap berbeda dengan LJ dan mereka yang bersimpati dalam
menyikapi
kasus Ambon. Bahkan mBah Soel beberapa waktu yang lalu pernah
menyodorkan urutan pemahaman QS (dengan maksud untuk memberi
landasan konseptual dalam diskusi masalah Ambon jika agama
digunakan sebagai pembenaran) namun kurang memperoleh tanggapan.
Sejauh saya mengetahui MUI juga tidak pernah mendorong atau
menyuruh umat Islam untuk membunuh. Hanya AR yang mengatakan
(menghimbau, memotivasi, atau memprovokasi?) di Parkir Timur
Senayan itu :"kami sudah bersabar tetapi kesabaran kami ada
batasnya..."
Bila demikian, masalahnya dimana?
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!