-----Original Message-----
From: Wisnu Ali Martono [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, August 01, 2000 10:14 AM
To: Benny Henricus Samosir
Subject: An eye for an eye
Sdr. Benny Yth,
Menyambung permintaan anda kepada sdr. Poirot untuk menunjukkan dimana
terdapat kata-kata bahwa _mata dibalas mata_, berikut saya sampaikan
catatan yang saya punya. Saya sengaja lewat japri untuk menghindari
perdebatan yang tidak perlu dengan orang lain. Mohon dicek di Alkitab yang
anda punya. Terima kasih.
Perjanjian Baru:
Matius 5:38
Benny :
Sdr WAM terima kasih atas tanggapannya,
Sementara ini masih menganalisa Mat 5 : 38-39. Yang lain akan saya coba
klarifikasi kebenarannya kepada rekans saya yang lebih memahami isi alkitab
tersebut. Saya juga mohon maaf men - cc khan jawaban saya ini ke milis kuli
tinta karena saya juga nggak ingin, yang lain mempunyai pengertian yang sama
sekali keliru dengan pengertian para umat nasrani. Saya juga menyesalkan
tindakan sdr WAM atau rekans Poirot yang hanya mencuplik ayat 38 saja tanpa
melihat ayat 39nya suatu hal yang sama sekali tidak baik untuk menyimpulkan
ajaran Kristen.
Tuhan Yesus datang untuk menyempurnakan hukum Taurat.
Christian Sulingalo said :
mengenai ayat yang menyatakan hal ini ssb:
"Mata ganti mata ......" dalam Keluaran Perjanjian lama
diperjelas oleh Tuhan Yesus dalam khotbahnya di bukit:
------
Matius: 5:38-39, "38'Kamu telah mendengar Firman: Mata ganti mata
dan gigi ganti gigi.39'Tetapi Aku(Tuhan Yesus) berkatamu: Janganlah
kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapun
yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu."
------
Jadi Tuhan Yesus sangat-sangat menekankan kasih dalam pengajarannya.
Kalau saya manusia (termasuk Ambonia) mampu untuk menjadi orang Kristen
yang benar tidak akan terjadi hal seperti di Ambon.
Begitu pun saya yakin dalam ajaran Agama Islam yang di yakini Sdr. Poirot
sekarang
tidak mengajarkan pembantaian sesama manusia seperti yang terjadi di Ambon.
Kalau boleh saya berpendapat bahwa apa yang terjadi di Ambon
tidak menggambarkan adanya unsur keagamaan yang benar.
Artinya pembantaian sesama terjadi karena memang dibenarkan oleh Agama
masing-masing.
Dari hati yang tulus saya sangat berangan bahwa setiap kita
tidak perduli agama, suku, atau perbedaan apapun
mendukung usaha untuk mengembalikan suasana persaudaraan kembali tumbuh.
Demikian sedikit dari saya.
Mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan.
Regards,
chs
............................................................................
...................
BTW.
Anda punya bukunya Hambran Amrie? Saya kesulitan mencarinya.
Benny :
Mohon maaf saya tidak mempunyainya, mungkin rekans yang lain dapat membantu.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!