* WEWENANG GUS DUR DIKURANGI, KEBIJAKAN PEREKONOMIAN DIUTAMAKAN Intro: Sidang Tahunan MPR dimulai hari ini. Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang baru saja berusia sembilan bulan harus mempertanggungjawabkan kinerjanya selama ini dan menegaskan rencana empat tahun ke depan. Gus Dur mengatakan akan lebih berkonsentrasi kepada masalah luar negeri sementara politik dalam negeri diserahkan kepada tim yang masih harus dibentuk. Ulil Abshar Abdallah, tokoh muda NU, mengatakan solusi paling bagus bagi Gus Dur adalah mengangkat seorang perdana menteri atau menteri utama. Mengenai rencana Gus Dur menjabat sebagai semi menteri luar negeri, Ulil mengatakan dalam keadaan ini hal itu bisa-bisa saja. Ulil Abshar Abdallah [UAA]: Saya melihat sekarang ini tampaknya Presiden memang mau melepas urusan praktis sehari-hari itu, entah kepada wakil presiden atau kepada menteri utama. Karena di Jakarta rumornya memang kuat bahwa opsi seperti itu akan diambil. Radio Nederland [RN]: Tapi apakah itu sebuah langkah yang tepat bagi seorang presiden? UAA: Mungkin dalam keadaan normal tidak tepat, tetapi di dalam kondisi Gus Dur yang mempunyai banyak kendala saya kirab itu salah satu opsi praktis yang masuk akal sekarang ini. Jadi tidak langsung menangani day to day business (urusan sehari-hari, Red.) dari urusan kabinet dalam segala macam. Kalau dia bisa mengkonsentrasikan diri untuk hal-hal yang sifatnya mendasar mengenai berapa hal di negara ini saya kira itu jauh lebih baik. Karena terus terang memang figur Gus Dur ini dulunya diharapkan menjadi pemersatu. Nah fungsi itu sebetulnya menjadi kacau karena dia disibukkan dengan hal-hal kecil tiap hari. RN: Apakah presiden hanya berkonsentrasi pada politik luar negeri, kebebasan pers dan tegaknya hukum gitu? UAA: Saya tidak tahu. Tetapi saya kira bukan begitu yang baik buat Gus Dur. Yang tepat buat dia adalah simbol pemersatu kemudian mengkonsentrasikan pada urusan rekonsiliasi, dialog nasional, mempersatukan bangsa dan segala macam. Nah urusan recovery economy (pemulihan perekonomian, Red.) secara teknis itu akan diurus oleh orang lain. RN: Tapi bukankah akan timbul kesan bahwa dengan demikian kekuasaan presiden akan menjadi sangat dibatasi bahkan? UAA: Terus terang ini membatasi wewenang eksekutif. Tetapi dalam situasi yang mendesak seperti sekarang ini, kita tidak bisa membiarkan keteledoran Gus Dur kemarin itu berlanjut terus. RN: Jadi, apakah itu merupakan kompromis jalan keluar yang bisa dilakukan sekarang untuk tidak memecat dia? UAA: Jadi saya sebenarnya mengusulkan apa yang saya sebut dalam sejumlah forum di Jakarta sebagai in between solution (solusi antara), bukan sekedar memecat Gus Dur begitu saja, tapi juga tidak mempertahankan tanpa ada satu syarat yang ketat. Nah jalan tengah itu bagi saya memang adalah: ia menjadi simbol pemersatu bangsa, kemudian ada seorang menteri utama atau wakil presiden yang mentake over tugas dia. Atau kalau tidak begitu, ya, harus ada tim yang betul-betul kuat di Ekuin dan kemudian di Sekneg dan di sekitar dia. Jadi, dia tidak dipreteli kekuasaannya, tapi dikawal dengan ketat oleh sejumlah pembantu yang betul-betul cakap. Nah saya kira hanya solusi ini yang bisa masuk akal. Kalau dia dipecat begitu saja, itu saya kira akan membukan kotak pandora lain yang jauh lebih serius. Tapi dipertahankan tanpa suatu persyaratan yang ketat juga tidak bisa. RN: Jadi anda setuju dengan pengangkatan seorang menteri utama? UAA: Saya kira saya setujun itu. Jadi itu jalan tengah yang paling praktis, masuk akal dan tidak serta merta menghentikan Gus Dur di tengah-tengah priode ini. RN: Tapi apakah jabatan menteri utama itu tidak akan juga mengurangi wewenang wakil presiden? UAA: Ini juga keragu-raguan di kalangan sejumlah orang bahwa kalaupun kekuasaan itu didelegasikan kepada ibu Mega secara penuh, belum tentu juga ada jaminan bahwa ibu Mega akan bisa membereskan semua ini. Ibu Mega dan Gus Dur secara in tandum diperlakukan sebagai simbol persatuan bangsa. Pada level praktisnya akan ditake over (diambilalih, red) oleh seorang menteri utama atau sejenis itu. Saya kira ini jalan keluar yang praktis, masuk akal dan tidak menimbulkan gejolak sosial yang lebih serius. Menurut saya sekarang ini tampaknya dari pihak Gus Dur sudah ada semacam kerelaan untuk menerima kritik bahwa dia memang tidak bisa secara sungguh-sungguh memperhatikan soal-soal kecil. Dia sudah rela menerima kritik itu dan tampaknya memang dia ingin lebih mengonsentrasikan pada hal-hal yang sifatnya menyangkut hubungan keluar dan rekonsiliasi bangsa. Momentum ini saya kira harus segera ditangkap oleh orang-orang di MPR untuk segera mencari solusi yang bijaksana. Demikian Ulil Abshar Abdallah, seorang tokoh muda NU. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.rnw.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [EMAIL PROTECTED] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. --------------------------------------------------------------------- ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
