* MENTERI PERTAMA: YANG DIPILIH YUDHOYONO TAPI YANG AMBISI KONON MEGAWATI

Meski ada pro dan kontra laporan Gus Dur, sementara ini keadaan di
ibukota Jakarta masih tenang-tenang saja. Pengamat politik Daniel
Sparingga lega karena ternyata Gus Dur bersedia untuk berbagi
kekuasaan dan hanya akan menangani masalah luar negeri saja. Tetapi
bagaimana dengan Megawati yang sangat ingin memegang posisi semacam
Perdana Menteri semasa Soekarno-Hatta pada awal kemerdekaan?
Koresponden Syahrir mengirim laporan berikut dari Gedung MPR di
Senayan, Jakarta:

Sebagaimana sudah dapat diduga sebelumnya di kalangan anggota MPR ada
yang mendukung dan ada yang mengecam laporan yang disampaikan
Presiden Abdurrahman Wahid yang dibacakan Sekretaris Kabinet
Marsillam Simandjuntak di hadapan Sidang Paripuna MPR kemarin.
Sekretaris Fraksi PDKB Seto Haryanto  misalnya menilai, laporan
tersebut cukup komprehensif dan bagus. "Lengkap dan sesuai harapan
kita bahwa Presiden mengungkapkan hal-hal, termasuk kekurangan yang
dimiliki pemerintah," ujar Kak Seto. Ia menambahkan, dalam laporan
tersebut Presiden telah menyampaikan apa yang telah dilakukan dalam
kerangka GBHN. Mengenai tidak dicantumkannya data kuantitatif, Seto
menganggapnya sebagai masalah teknis. "Karena tidak mungkin
disampaikan dalam sidang yang singkat ini. Itu akan disampaikan
pemerintah dalam lampirannya," kata Seto. Seto menggarisbawahi
otokritik pemerintah yang menyadari kekurangan, selain disebutkan
juga kesulitan pemerintah karena berhadapan dengan persoalan masa
lalu yang berat. "Tapi tetap ada upaya," tandas Seto. Ia  yakin,
pidato presiden tadi cukup positif artinya bagi pasar dengan
penegasan-penegasan komitmen pemerintah pada ekonomi pasar serta
prioritas pada usaha kecil dan menengah. Yang jelas pasar mendapat
isyarat bahwa ke depan akan lebih baik.

Sebaliknya, Ketua Fraksi KKI Sutradara Gintings menilai, Presiden
tidak memakai tolok ukur yang jelas, sehingga menyulitkan
fraksi-fraksi untuk membahas laporannya secara rasional dan mendalam.
"Kurang begitu jelas, mana yang menjadi fokus atau prioritas," kata
Sutradara. Selain itu dikemukakan juga oleh Sutradara, pidato yang
dibacakan sama sekali tidak didukung oleh data kuantitatif. "Hanya
dilampirkan, dan untuk membacanya dalam satu hari tentu menyulitkan
fraksi-fraksi atau anggota untuk membuat analisis," ujarnya.
Ditegaskan kembali, bahwa laporan itu tidak memberi fokus yang tajam
sehingga dalam pandangan F-KKI laporan itu seakan-akan berpretensi
untuk membahas dan menangani semua soal. "Tidak dikemukakan hal-hal
urgen yang perlu diberikan energi lebih besar," katanya.

Sementara itu,anggota MPR dari FPDI Perjuangan Laksamana Sukardi
menilai, laporan kemajuan yang disampaikan Presiden Abdurrahman Wahid
sangat dangkal. Menurut Laksamana, isi pidato Gus Dur lebih merupakan
policy direction ketimbang achievement. "Dan, lebih bersifat
apologis," ujarnya. Lebih lanjut mantan menteri itu mengatakan, ada
banyak masalah yang tidak diungkapkan dalam laporan tersebut. Antara
lain, bagaimana pertumbuhan ekonomi, pembenahan hukum, penegakan
hukum, dan lain-lain. Laksamana menjelaskan, yang lebih parah adalah
krisis politik akibat pemecatan dua menteri yang menimbulkan
destabilitas selama 10 bulan terakhir ini tidak dijelaskan Gus Dur.
"Padahal, krisis di kalangan elite menyulitkan proses konsolidasi di
kabinet," katanya. Laks juga menuturkan, dalam laporan tersebut tidak
dijelaskan bagaimana pertumbuhan ekonomi dan proses pulinya
perekonomian, termasuk soal inkonsistensi beberapa kebijakan ekonomi
yang bahkan kini menunjukkan sinyal yang membingungkan. Ia menunjuk
contoh belum terjadinya penyelesaian utang-utang swasta, dan tidak
adanya penjelasan mengenai dukungan investasi.

Sementara politisi senior PDI-P, Sabam Sirait menilai pidato Presiden
itu hanya cerita tentang Indonesia, dunia, dan masalah-masalah yang
sudah lampau. "Pidato beliau 70 persen hanya sebagai pengantar,"
ujarnya. Menurut Sabam, Presiden belum menemukan bagaimana bentuk
laporan dan cara memberi laporan. Sabam menunjuk pidato tentang
militer, yang menurut dia, mengenai soal itu Presiden malah cerita
tentang militer kita di masa datang. "Bukannya apa yang telah dia
lakukan untuk pembenahan militer," demikian Sabam Sirait.

Orang yang mengkoordinir laporan Presiden tersebut adalah Susilo
Bambang Yudhoyono. Yudhoyono memang merupakan menteri yang paling
ambisius dan mungkin karena itu paling disenangi Presiden Gus Dur. Ia
yang selalu paling rajin menawarkan diri untuk menyusun laporan untuk
Gus Dur, jelas seorang  menteri yang nampaknya akan keluar dari
kabinet. Saat ini memang sudah  bergulir isyu bahwa Yudhoyono akan
menjadi orang ketiga terkuat di dalam pemerintahan.

Isu Menteri Pertama berkembang setelah pidato Presiden Gus Dur di
Sidang Tahunan MPR dinilai banyak kalangan tidak memuaskan. Sejak
bulan-bulan pertama berkuasa, Gus Dur sudah pernah mengemukakan
kepada kalangan NU, bahwa ia sebenarnya menginginkan agar suatu saat
Yudhoyono menggantikannnya sebagai RI I.  Untuk sementara ini
tampaknya Yudhoyono akan magang sebagai M I. Kedudukan Menteri
Pertama atau M I ini mulai disosialisasikan di Senayan. Yudhoyono
proyeksikan sebagai pengendali pemerintahan sehari-hari dan presiden
hanya berfungsi sebagai kepala negara saja yang mengkhususkan diri
dalam menangani masalah-masalah luar negeri dengan dibantu Menteri
Luar Negeri.

Mentamben Susilo Bambang Yudhoyono sehubungan dengan itu kemarin
meminta agar isu tersebut tak dikembangkan karena bisa
disalahtafsirkan. "Sebaiknya soal Menteri Pertama itu tak usah
dilanjutkan. Saya khawatir, masyarakat bisa salah tafsir. Saya
sendiri tak tahu menahu dengan ide itu," kata Bambang Yudhoyono
merendah usai sidang paripurna MPR, Senin. Ketika ditanya mengenai
peranannya yang begitu besar, dalam menyusun pidato Presiden, Bambang
menyebutkan hanya sebatas koordinasi belaka. Memang, dalam taraf
finalisasi pidato hanya dirinya yang dipanggil oleh Presiden dan
Wapres di Bina Graha. "Semua menteri ikut memberikan masukan, dan
kami hanya mengkoordinasikan saja. Tugas yang diberikan kepada saya
itu, tak ada hubungannya dengan 'magang' pemerintahan," tegasnya.
Rencana Gus Dur untuk menjadikan Yudhoyono sebagai M I jelas mendapat
dukungan dari kalangan Fraksi TNI-Polri. Bahkan para pendukung
Wiranto pun sangat gembira mendengar rencana itu.

Sehubungan dengan itu, kalangan sipil pun memunculkan nama-nama lain.
Di antaranya ialah Juwono Sudarsono, Marsillam Simandjuntak dan
Dorodjatun Kuntjoro Jakti. Mereka ini dianggap dekat dengan Gus Dur
dan bersih dari KKN. Utamanya Marsillam dan Dorodjatun pernah
dipenjarakan oleh rejim Soeharto. Tetapi menurut suatu sumber, yang
kurang diperhatikan orang adalah keinginan kuat kelompok pendukung
Megawati yang menginginkan Wapres itu sekaligus memegang peranan M I
dengan dibantu empat menteri senior yang bertanggungjawab untuk
bidang politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan. Artinya Wapres yang
menyusun kabinet.

Dalam sejarah Indonesia, menurut Ryas Rasyid pernah terjadi Wakil
Presiden Mohamad Hatta merangkap jabatan Perdana Menteri. Hal yang
sama pun sempat diusulkan oleh pengamat politik Arbi Sanit, pekan
yang lalu. Ini berarti karena keterbatasan pancainderanya, Gus Dur
hanya akan berfungsi seperti Ayatolah Khomeini di Iran dahulu.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke