Ada mushola di sebelah kantorku. Dan biasanya, ke situlah aku menunaikan sholat Jumatku. Di sebuah sudut, ada 2-3 anak-anak, mungkin masih di bawah 15 tahun, lah. Mereka adalah penyebmir sepatu. Mereka yang mau sholat, melepas sepatunya, sebelum berganti bakiak untuk mengambil wudhlu. Sepatu itu mereka serahkan ke anak-anak penyemir sepatu, sebelum ia pergi ke pancuran, untuk wudhlu. Tumpukan sepatu semakin banyak, dan anak-anak itu harus bekerja keras, agar sesudah sholat usai, sepatu-sepatu sudah mengkilat. Kalau cuma antara 70-80 pasang pasti ada. Mereka terlihat bergegas, dan terlihat correct dalam memperlakukan sepatu-sepatu tadi, bukan asal-asalan. Ada satu anak, yang secara fisik malah terkecil dari teman-temannya, yang mengatur pekerjaan itu. Beberapa sepatu yang terlihat mahal rupanya jadi tanggungjawabnya. Itu berlangsung berbulan-bulan lamanya. Hampir tiap Jumat deretan sepatu pun makin banyak saja. Aku bangga, anak-anak itu mampu memberikan kepercayaan atas jasa yang mereka tawarkan dengan sempurna, sehingga 'order' menyemir pun kian besar. Sampai suatu saat ..... Anak-anak itu duduk termenung. Tak banyak sepatu disemir. Tak lebih dari jari sebelah tanganku saja. Mengapa tak seperti dulu, batinku. Lalu selepas ambil wudhlu pun aku bertanya kepada mereka. Dari pengakuan mereka aku memperoleh cerita begini: Suatu hari, tiba-tiba ada tiga anak, remaja, atau dewasa. Mereka datang ketika sholat sudah berjalan. Di suasana hening di mana cuma ada lantunan bacaan sholat saja yang mendominasi, anak-anak kecil penyemir sepatu itu diusir, diancam, ditakut-takuti. Apa yang terjadi kemudian? Sepatu-sepatu itu raib. Sebagian besar, khususnya yang masih terlihat baik dan pasti mahal, hilang. Hanya tersisa beberapa sepatu butut (salah satu yang tersisa adalah sepatuku). Terbayangkankah Anda, betapa ramainya sesudah sholat usai. Sebagian besar dari mereka ini terpaksa menyumpah-nyumpah, marah-marah, karena sepatu mereka hilang. Beberapa minggu kemudian, anak-anak penyemir sepatu itu datang, masih ingin menawarkan jasa lamanya, menyemir sepatu. Sayang, tak banyak yang berani mempercayakan sepatunya untuk hilang lagi. Hanya tinggal beberapa saja, yang mungkin belum tahu cerita raibnya sepatu tadi, yang masih mempercayakan sepatunya untuk disemir. bahkan mereka yang sepatunya bututpun juga ikut tak percaya. Apa lagi kini aku lebih baik pakai sendal saja. Kehidupan memang tak ramah. Bahkan segenggam nasi pun harus lepas, direbut paksa oleh keserakahan, yang semakin banyak menghiasi kehidupan itu sendiri. _______________________________________________________ Say Bye to Slow Internet! http://www.home.com/xinbox/signup.html ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
