ini sipilnya yang kuliwat bego, takut, taktis ?
atawa militernya yang kuliwat pinter dan nginjek kaki ?
atawa mereka semua masih waton ngamandemen (asal amandemen) ?

gombale mukiyo....

mBin
berita dari RNW tak potong-potong....
sebelum diforwed mas daniel ...
-----

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Jumat 18 Agustus 2000 14:40 UTC


* MENGAPA TNI/POLRI DIPERTAHANKAN HINGGA 2009?

Sidang tahunan MPR yang berakhir Jumat ini, menyepakati keberadaan
TNI/POLRI di MPR sampai tahun 2009. Padahal sampai beberapa minggu
yang lalu, masih nyaring terdengar suara para wakil rakyat bahwa
keberadaan TNI/Polri hanya sampai tahun 2004. Mengapa para wakil
rakyat itu mengingkari apa yang sudah mereka katakan sendiri? Berikut
analisa pengamat militer Indonesia dari Australia, Harold Crouch.

Harold Crouch [CH]: Ya..kalau kita melihat keadaan dua minggu  lalu,
saya kira banyak pihak yakin TNI/Polri tidak lagi di MPR setelah
2004. Jadi, sudah diputuskan TNI/Polri tidak ada wakilnya di DPR dan
DPRD sesudah tahun 2004. TNI sendiri minta kalau boleh, kami mau
terus dalam MPR meskipun tidak berhak memilih dalam pemilihan umum.
Dan sampai dua minggu lalu, mereka tetap tidak mau duduk di sana
setelah 2004. Tapi tiba-tiba dalam dua tiga hari ini, hampir semua
angota MPR mendukung keberadaan mereka di MPR.
Saya tidak tahu pasti mengapa. Tapi perkiraan saya, begini. Sidang
MPR sekarang diadakan tiap tahun. Tidak seperti dulu, hanya satu kali
dalam lima tahun. Jadi, peran MPR lebih penting dari yang dulu. Juga
tidak ada satu partai yang bisa menguasai MPR. Jadi, ada persaingan
terus antara partai-partai politik.
Dan mungkin banyak isu yang terus muncul. Misalnya, Gus Dur sebagai
presiden, ini belum selesai. Bisa jadi di DPR nanti, diminta supaya
Sidang Istimewa diadakan, misalnya. Tapi ada isu-isu lain di MPR
muncul di mana kelihatan persaingan politik partai-partai untuk
memperjuangkan kepentingannya dan sebagainya. Jadi dalam konteks
persaingan ini, mungkin sekali 38 suara TNI/Polri penting sekali,
bisa menentukan. Jadi saya punya kesan, paling sedikit sampai tahun
2004, ada TNI, ada 38 suara. Jadi, tiap kali MPR bersidang tahunan,
mungkin ada isu yang timbul di mana kita memerlukan dukungan TNI
untuk kebijakan atau kepentingan politik tertentu. Partai-partai
politik tidak mau menyinggung perasaan TNI. Jadi, mereka berusaha
menarik hati TNI. Dengan demikian TNI bisa lolos 5 tahun lagi di MPR.
Jadi, ini tidak menunjukkan bahwa TNI kembali berkuasa atau langkah
pertama ke arah pemulihan kekuasaan TNI, saya kira tidak. Cuma ini
adalah hasil dari persaingan partai politik di MPR.
Kalau tidak ada reaksi keras dari masyarakat, selagi tidak ada satu
partai atau koalisi partai yang dapat menguasai MPR sendiri tanpa
dukungan TNI, saya kira, TNI masih diperlukan. Bukan karena
diperlukan untuik menjaga stabilitas dan sebagainya, tapi diperlukan
oleh partai politik tertentu saja.



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke