----- Original Message -----
From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>

Ikutan Mas Hasan:
: ( Sorry yang bukan Muslim. Tapi barangkali bisa jadi
Pengetahuan Umum ).

----:-----
: Sdr. Gigih minta petunjuk soal hukum agama Islam.
Alhamdulillah, banyak yang
: nyumbang petunjuk. Dari yang setengah yakin sampai yang haqqul
yakin.
: Mudah-mudahan semuanya bisa membuat langkahnya tambah mantap.
Amin.
:
mBS:
Sebetulnya Mas Gigih juga menunggu sumbangan
pituduh dari Mas Hasan lho. (menurut japri yang belum
dikirimkan ke sini.. ^_^)

: Betul sekali. Agama Islam itu memang unik sekali. Tidak ada
lembaga
: kependetaan disana. Siapa saja bisa jadi "ulama". Mungkin
karena sabda Nabi
: Muhammad : "Sampaikanlah risalahku, walaupun satu ayat". Maka
yang punya
: satu bisa ngaku atau dianggap ulama. Apalagi yang punya dua
atau tiga.

mBS:
Apa iya to Mas, mengaku ulama?
Ah, Mas Hasan ini, lho. Rasanya kok jarang yang ngaku
jadi ulama. Kecuali yang dianggap, memang.  Atau
jawaban Menlu AS yang dicecer pertanyaan masalah
Buloggate itu, terus ngaku.... (^_^)

Memang ndak ada lembaga kependetaan, Mas. Cuma
yang ada lembaga Imam, Kyai, dan Ulama itu sendiri,
yang kadang-kadang tak rasa-rasa mirip juga dengan
lembaga kependetaan. Sok-sok malah melebihi.
Malah sekarang berkembang ke lembaga Rais Syura'
segala macem, juga termasuk komandan atau
ketua DPP... lho.. malah mlenceng ke urusan partai.
------
:Semua
: orang bisa naik mimbar memberikan khotbah Jumat. Tidak perlu
urut sekolah:
: TK, SD, SMP,SMU, UMPTN, S2, S3 sampai ke Cina atau Jepun
seperti mas Drajad itu.
--->
mBS:
lho, kan? nglulu?
lha kok ditimpakan ke tukang anggur yang di-jipun-kan?
--------
: Ngerti satu-dua kata Arab bisa pula jadi Ahli Tafsir Quran.
Jadi modal
: ulama yang paling pokok adalah cuma "keberanian". Seorang  wak
Abdul bisa
: tanpa ragu mengritik pikiran pakar seperti Al Ghazali,
Thabatabai, atau
: Syaltout. Tanpa banyak diketawai orang. Kalau di bidang
Fisika, hal itu
: seperti mengritik Enstein dalam Teori Relativitas .  Enak, ya
?
:
--->
mBS:
untung aku nggak ngerti. sehingga takut mau masuk
lembaga tafsir.
eh, iya... mau nanya Mas, apakah ngulama-ngulama
agama dan fisika yang panjenengan sebut itu juga
tidak melakukan kritik kepada ngulama sebelumnya?
maaf kalau kurang berkenan, soalnya yang disebut
di situ termasuk aku je.
----
: Barangkali memang benar. "Desentralisasi" yang diberikan Sang
Pencipta pada
: ummat manusia pasca Muhammad , mungkin amatlah luasnya. Jauh
lebih luas
: dibanding otonomi yang akan diberikan pada daerah-daerah di
Nusantara. Allah
: mungkin tidak ingin Firmannya di monopoli tafsirannya oleh
lembaga tertentu
: seperti lembaga kependetaan. Kalau kita melihat Al Quran itu
demikian
: sederhana jauh dari ruwet kalau dibandingkan Kitab Hukum Fiqh
yang ciptaan
: manusia itu umpamanya.  Kalau kita "berani" memisahkan hal-hal
umum dan
: hal-hal "lokal" dalam Al-Quran. Kalau kita bisa melihat Sunnah
Nabi sebagai
: suatu metode Nabi dalam membumikan Al Quran pada jaman dan
lingkungannya.
: Kita pun bisa meniru Nabi . Membumikan Al Quran pada jaman
kita dan pada
: Bagian bumi kita. Jilbab disana, Kebaya atau Rok sopan disini.
Zakat namanya
: yang dulu , jadi Pajak pada tahun 2000 ini. Dsb. Anda bisa
menambahkannya.
:
----:][
mBS:
dari tulisan Mas Hasan di atas, secara pribadi
saya sering berfikir, mengapa ada anjuran atau
indikasi yang diberikan oleh Tuhan, bahwa orang
beriman itu salah satunya memiliki syarat "percaya
kepada yang ghaib". dan yang ghaib-2 itu sebagian
(di luar makhluk langit, lelembut dan gejala atau
tanda-tanda Jumenengnya Tuhan) kok makin hari
makin diberikan ujud nyatanya. dulu orang baru tahu
jenis kelamin bayi setelah lahir, sehingga menjadi
semacam tebakan mendebarkan bagi calon ayah
atau ibu ketika menyambut kelahiran anaknya.
sekarang dengan teknologi (ghaib juga lha nggak
kelihatan) orang bisa tahu kelamin janin.

dulu orang sibuk setengah mati sampai manggil
dukun, bakar kemenyan, bikin acara ruwatan,
bersih desa bila kampungnya terlanda pageblug,
gara mBah Lipenhook nemuin mikroskop, sedikit
demi sedikit terkuak "oknum" penyebab malaria,
desentri, TBC, sampar dll. Lha sekarang ruwatan
kembali GAYENG di Indonesia.

dulu waktu kecil aku membayangkan di dalam
sebuah radio (adhah kondho) ada orkes atau
wayang orang mini sedang berlangsung (sungguh
lho ini) sehingga sangat heran, mengapa mBakyu
Waldjinah bisa nyanyi Kecik-kecik atau Walang Kekek
barengan di rumahnya mBah Modin dan Pak
lurah dengan lagu yang sama dan saat yang
sama, sekarang baru ngeh.... ooo ternyata
ada barang tidak kasat mata yang bisa
mengantarkan suara mBak Waldjinah menyusup
ke kotak ajaib di rumah-rumah mewah pamong
desa dulu, bahkan sekarang bisa juga gambar
dan citra penampilannya. apalagi sekarang
dengan dunia inter-naut semacam ini. lebih
mengherankan pikiranku, seandainya tidak
siap-siap dengan "dhawuhing" Gusti Allah
tadi.

: Masalahnya , seperti yang pernah saya sebutkan, meminjam
istilah Dr.
: Shahrour, belum banyak diantara kita yang berani atau bisa
membaca Kitab
: Suci-nya dengan mata sendiri. Ya itu. Belum biasa
desentralisasi. Atau
: Al-Quran itu masih terlalu jauh di depan kita.
:
: Wassalam
: Abdullah Hasan.
:
---->
mBS;
Mas Hasan, dengan demikian Mas Hasan kan
termasuk yang sudah berani dan bisa membacanya
dengan mata sendiri. mBok ya mari kita belajar
bersama. Siapa tahu banyak yang ikutan belajar.
Sehingga kitabullaah itu menjadi semakin dekat
walaupun masih harus kita jangkau mati-matian.

wassalam,

Soelojo
---------


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke