Makasih atas pencerahannya Pak Mashuri.
Saya pikir komunis sebagai kenyataan sejarah seharusnya bisa dipahami sebagai
konsekuensi sejarah.
Dulunya yang berkuasa pertama-tama adalah para brahmana (dukun, kaum cleric,kiai,
begawan).
Sejalan dengan feodalisme maka naik pula kedudukan kaum ksatria, sehingga kaum ksatria
jadi
berjaya. Kedua kelas ini saling berusaha memberikan kontribusi dalam sejarah maupun
budaya. Saling
geser, saling dukung banyak ditemui di budaya manapun. Periode ini berlangsung sangat
lama. Namun
sejalan dengan perkembangan perdagangan naik pula kasta borjuis, yang ikut mencicipi
enaknya
kekuasaan. Naiknya para borjuis ini meninggalkan kelas sudra yang di bawah. Agar kelas
sudra ikut
berkuasa maka sejarah memunculkan Hegel, Marx, dan sejenisnya. Hanya saja yang cepat
mengadopsi
pemikiran baru itu Uni Soviet. Eropa Barat dengan cepat belajar. Kaum borjuis berhasil
menghindar
malapetaka dengan cara tidak menekan para proletar, namun dengan membuat sistem
sosialisme. Jumlah
pekerja bisa terkurangi dengan drastis. Cuma negara-negara jajahan eropa barat yang
ketinggalan.
Jadinya ya mengikuti jejak Soviet.
Sebagai ilmu pengetahuan komunisme, marxisme, kapitalisme itu netral-netral saja. Dan
itu semua
layak dipelajari. Namun bila ilmu itu akan diterapkan maka biasanya perangainya
berubah dan tidak
netral lagi. Semuanya butuh sentralisasi. Sehingga jadinya serba dipaksakan. Alat yang
seharusnya
jadi budak malah berbalik menjadi memperbudak manusia sehingga manusia jadi terikat.
Padahal sifat
manusia itu selalu rindu akan kebebasan.
Ada yang berpendapat, bahwa kesalahan utama pendapat para Marxis / materialisme
dialektik dan juga
non Marxis adalah menganggap bahwa manusia adalah hewan yang pinter membuat perkakas
atau alat
produksi, untuk membuat sesuatu, dan mencari sesuap nasi atau segenggam gandum, agar
bisa hidup.
Dengan alat-alat itu manusia menguasai hidup manusia lain.
Pendapat yang menyalahkan itu berpendapat bahwa karena kepintaran manusia membaca
lambang-lambang
dan memaknai lambang-lambang tersebut maka terbentuk aktifitas hubungan manusia. Bukan
hanya
sekedar mencari sesuap nasi (penunjang kehidupan materialis) belaka. Kemampuan untuk
memaknai,
menghayati lambang-lambang itulah manusia akhirnya membuat alat-alat. Lambang-lambang
itu biasanya
berupa agama, mitos, ilmu pengetahuan, upacara, kesenian, bahasa, dll. Jadi yang
dipentingkan
adalah relasi antar manusia. Alat hanyalah aktualisasi saja hubungan antar manusia,
selaku sarana
untuk menunjang kehidupan manusia. Nah disini bisa ditanyakan pada diri kita sendiri,
mau ikut
yang mana?
makasih
agusssssss
--- "M.Mashuri Alif" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Jawaban saya:
> Karena menurut saya sampai kapanpun didunia ini belum pernah ada negara yang
> berhasil
> menciptakan sebuah negara sebagai tuntutan yang diterapkan idiologi itu
> sendiri. Sebuah
> negara tanpa kelas, Sebuah negara tanpa penindasan dari yang kuat terhadap
> yang lemah.
> Sekalipun Uni Sovyet sendiri yang pada akhirnya hancur.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!