On Tue, 5 Sep 2000 12:11:11 +0700, [EMAIL PROTECTED] wrote:

>  
>  Dibawah saya coba ringkaskan posting Mbah soal foto
>  Gus Dur, kemudian saya coba di-scan satu layer saja
>  ( istilah Satrio :disamber ), kemudian dikasi cahaya
>  dari sudut lain. Saya nanti komentar mbah dan yang lain:
>  
>  ========================================================
>  From: mBah Soelojo <[EMAIL PROTECTED]>
>  
>  ...aku hanya mau berteori (hehehe, teori?) aja.
>  
>  1.tak akan ada selesainya masalah itu dibahas. apalagi ...
>  2.tiorinya, bagi yang pro GD yaaa akan berusaha mati-matian
>  ...,begitu pula bagi yang kontra GD, yaaa sama saja pasti akan
>  menganalisis itu foto sehingga terkesan itu asli, tanpa
>  manipulasi......
>  3.tidak hanya foto. data-data lisan dan pandangan mata perlu
>  juga digelar......
>  
>  kedua-duanya akan membawa kepada
>  keadaan yang tidak pernah ketemu dan semakin membingungkan
>  khalayak, namun .........
>  ========================================================
>  
>  Menurut rekan Murakabi : Yogya lagi...! Saya setuju. Bahkan kalau dikasi
>  stabilo, bunyinya menjadi : TEORI JAWA.  Entah kawan2 setuju nggak.
>  Pandangan mbah terasa sangat n-jawa-ni, dalam arti amat menghindari
konflik.
>  Kalau diartikan lebih lanjut, kurang nyaman dengan perbedaan pendapat.
Lebih
>  lanjut lagi, kurang cocok dengan alam demokrasi ( tuduhan "berat" ini
tidak
>  saya detail, biar muncul disikusi saja). Dalam alam demokrasi, alih-alih
>  memburu kompromi, perbedaan pendapat itu malahan digaris bawahi.
Macam-macam
>  pendapat diangkat kepermukaan. Debat dan diskusi didorong. Kadang-kadang
ada
>  titik temu, tapi tidak mesti. Kalau tidak , perbedaan menjadi jelas dan
>  malahan dihormati. Voting jadi penentu yang diterima secara dewasa. Jadi
>  meskipun tidak ketemu, khalayak tidak bingung. Mereka sadar, manusia itu
>  tidak selalu bisa seragam memandang obyek yang sama sekalipun. Saya yakin
>  yang ini. Kamu itu. Dia begitu.
>  
>  Pandangan seperti yang dipunyai oleh mbah Soel, adalah khas Jawa. Dan
karena
>  orang Jawa adalah mayoritas negeri. Saya pikir alam demokrasi memang
masih
>  butuh waktu untuk diterima sebagai bagian dari budaya kita semua.
>  
>  Wassalam
>  Abdullah Hasan
>  (Namanya  kan diskusi, mungkin keliru , mungkin ada benarnya. Mudah2an
>  tanggapan teman-teman menambah pengetahuan saya dalam masalah "sara"
(wedi
>  aku !)ini )

---------------

Jowo ? Menghindari konflik ? Rasanya kok tidak begitu. Dalam arti, benarkah
sudah terjadi konflik?

Konflik muncul, ketika ada kepentingan yang sama, namun beda penafsiran,
yang diikuti dengan upaya untuk mempertarungkan tafsir yang notabene berbeda
tersebut, untuk diterapkan pada kepentingan yang kebetulan berbada dalam
penafsiran.

Dalam soal foto yang heboh soal GD, maka pengembangan diskusi telah beralih
dari soal kemungkinan adanya interes politis, menjadi pembicaraan yang
teknis, lebih-lebih dengan forward yang dilakukan sams mengenai pendapat
roy, yang kemudian terlibat makin dalam teknisnya, tatkala Mashuri tampil,
dengan teori-teori teknis yang juga tak kalah lihai.

Mbah yang 'cuma' Doktor Anggur, jelas merasa tak memiliki kompetensi
mengenai teknik fotografi tadi. Jika ia lebih suka untuk menghindar, maka
itu bukan berarti penghindaran terhadap konflik. Lha ndak punya kebisaan
babar blas soal-soal teknis, ikutan nyebur, tiwas dikamplengin kiri-kanan
nantinya. Itu ya sebuah sikap ilmiah biasa. Coba ajak dia bicara soal
anggur, asal jangan cap Bapak jenggot, pasti dijamin nyerocos.





_______________________________________________________
Say Bye to Slow Internet!
http://www.home.com/xinbox/signup.html


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke