From: mBin <[EMAIL PROTECTED]>
"....(del)....
> pemberitaan pada tanggal 1 September 2000. Sekian halaman penuh. Isinya
> seratus persen bertentangan dengan apa yang dimaksudkan oleh Bapak Anand
> Krishna dalam buku-buku karangannya.  Tulisan tersebut sama sekali tidak
> memenuhi etika jurnalistik, bahkan boleh dibilang "slandering"..." 
...(del)..."
=====================================================
Entahlah apa sdr. mBin membaca berita republika itu... Entahlah, apakah
penulis tanggapan yang di forward mBin membaca berita di republika itu,
apa cuma latah-latahan, kemudian pentang bacot....wallahualam!

Saya membaca berita itu. Menurut saya, tulisan di koran itu biasa saja. 
Didalamnya mengemukakan orang yang keberatan dan hal-hal yang 
diberatkan, tapi ada pula memuat pandangan sebaliknya...Jadi kalau 
sampai ngomong "slandering" segala, saya kira yang ngomong itu itu
justru "slandering". Sayang sekali nggak pakai detail.....
Perlu diketahui pula, sebelumnya Republika memuat wawancara satu 
halaman penuh plus dengan Anand . Wawancara itulah yang kemudian 
dijadikan alasan mendesakkan agar Republika juga memuat opini 
orang-orang yang kuatir terhadap Anand...Jadi bagi yang waras , 
cukuplah itu buat menambah wawasan, dan meletakkan pendapatnya...

Walaupun tidak terlalu di ekspos keluar, keresahan sebagian orang
atas buku Anand bukan menjangkiti kalangan Islam saja, tapi juga
kalangan Nasrani. Dibawah ini, saya forwardkan tulisan menarik
seorang intelektual Kristen, tokoh Masyarakat Dialog Antar Agama , 
editor buku Tiga agama Satu Tuhan, yang juga kelihatan "sebel" 
pada Anand.

Wassalam 
Abdullah Hasan
 
=========================================
From: Trisno S. Sutanto  <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sun Sep 24, 2000 9:54am
Subject: Re: Buku Anand Krishna: Teolog dan agamawan tekecoh

Nimbrung, ah.
Soalnya si Anand Krishna itu bener-bener makin membingungkan.
Simak pernyataan-pernyataan di bawah ini:

>
>"Saya Tidak Menafsirkan Agama " 

TS: Terus? Nulis buku bukan menafsirkan?


>Saya, hampir dalam setiap buku saya, mengatakan bahwa
>ini pandangan saya. Saya bukan ahli tafsir, bukan
>cendekiawan, bukan ilmuwan. 

TS: Ini lebih membingungkan. Terus kriteria apa yang dipake?
Pada dataran mana kita harus menanggapinya? Dari segi tafsir,
nggak. Dari segi science, nggak. Dari segi intelektual, nggak.
Terus dari segi mana?

>Kalau Anda mau terima
>(pendapat saya), silakan, tidak juga silakan. Kalau
>saya, misalnya, tidak suka dengan suatu keadaan, saya
>melontarkan itu dalam kolom, atau buku bahwa saya
>tidak suka pandangan itu. Tidak ada satu upaya dari
>saya untuk memaksakan kehendak, saya tidak demo, saya
>tidak menggalang massa.

TS: Okelah.

>Jadi ya cuma beda pendapat, beda pandangan. Dan, saya
>pikir, kapan kita dewasa kalau tidak bisa menerima
>beda pendapat dan beda pandangan.

TS: Bukan sekadar berbeda pandangan. Kalau berbeda pandangan,
dan tidak ada kemungkinan dataran sama untuk menilai, terus mau
apa? Biarkan saja sejuta pandangan beredar? Nggak adil. Wong dia
disokong capital dan marketing luar biasa besar....


>Mungkin. Tetapi, saya pikir, kita ini sedang bicara
>meditasi. Saya kira kita punya cara untuk menghadapi
>itu, dengan mengirimkan getaran kasih, mengajak
>silaturahmi. Mungkin, kesalahan saya adalah tidak
>cukup bersilaturahmi dengan mereka yang
>mempermasalahkan buku-buku saya.

TS: MEDITASI !!!! O lala !!!
Ini komentar paling lucu. Nulis meditasi tentang Yesus,
tanpa tahu sedikitpun tradisi hermeneutik Kristen; meditasi
tentang Islam, tanpa tahu seluk beluk ke-Islam-an yang memadai,
dan bahkan tentang Bung Karno serta Wedhatama (mnungkin tanpa tahu
bahasa Jawa), o la la!!! Ini opo, mas?

>Saya tidak pernah menafsirkan suatu agama, saya tidak
>pernah menafsirkan suatu kitab suci. Saya tahu, saya
>bukan ahlinya. Tapi kalaupun saya salah, saya akan
>minta maaf. Dan kalaupun saya minta maaf, sebenarnya
>sejak awal saya tidak mengklaim bahwa saya ahli
>tafsir. Saya tidak menafsirkan agama, tetapi saya
>memberikan pandangan.

TS: Sekali lagi: tidak menafsirkan, walau menuliskan !!!!
Mbok ya langkah yang paling konsisten, 
ya nggak usah bikin buku-buku seperti itu.

Udah, ah. Bosen. Ngobrol begituan.
Fenomena Anand Krishna, saya kira, cuma cerminan kebingungan
orang beragama dalam dunia modern, ditambah eksotisme yang diimpor
dari belahan Barat (New Age), plus strategi marketing yang cukup
jitu dari Gramedia. Anand Krishna nggak sendirian. Ada Sukidi di Kompas,
ada "Celestine Prophecy" yang pernah laku keras (karena Buddhy Munawar
memberi pujian selangit, dan Paramadina  bikin kelas untuk itu), dan
sekarang dibanjiri buku=buku spiritualitas Tibet. Yang terakhir lumayan,
karena tiga buku yang diterbitkan Gramedia bagus-bagus dan berasal dari
"orang dalam": dua dari Y.M. Dalai Lama; dan "Mata Ketiga" dari T.Lobsang.

TS
 




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke