Mas Daniel HT, saya undang anda bergabung dengan milis awak Jawa Pos. Disitu
berkumpul sejumlah wartawan dan administratur Jawa Pos yang mungkin bisa
diajak diskusi soal berita-berita yang muncul di Jawa Pos.
Juga ada wakil dari Dewan Pembaca Jawa Pos bernama Bung David Mario,
Ada pula sejumlah alumni Jawa Pos yang kini sudah bertugas di tempat lain
seperti Bina Bektiati (kini Redaktur Majalah TEMPO) dan Yudi Karyono (kini
menjadi konsultan).
Pendek kata, milis ini terbuka untuk siapapun. Untuk bergabung silahkan saja
kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
Deskripsi milis tersebut adalah :
Milis ini adalah wahana bagi sesama karyawan, alumni, dan masyarakat umum
yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Harian Umum Jawa Pos untuk saling
berkomunikasi dan bertukar informasi, menjalin tali persaudaraan serta
bertukar pendapat. Segala macam tulisan merupakan tanggung jawab pribadi
masing-masing. Komunikasi hendaknya memakai bahasa Indonesia, bisa juga
bahasa Jawa, terserah saja. Yang penting sopan dan bersikap dewasa.
Demikian sekedar pemberitahuan,
Iwan Sams
-----Original Message-----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, September 26, 2000 12:09 AM
Subject: [Kuli Tinta] Dua Ironi
>Membaca dua surat pembaca di Jawa Pos, Sabtu, 23 September 2000 ("Ospek ITS
>Berbau Kolonial?" dan "Mahasiswa, Mengapa Ada Perpeloncoan?"), menimbulkan
>dua ironi, selain ironi yang sudah disinggung dalam kedua surat pembaca
>tersebut). Surat yang dimaksud adalah yang mempersoalkan mengapa sampai
saat
>ini perpeloncoan yang vulgar dan jelas-jelas melecehkan harkat manusia
masih
>saja terus dipraktekkan oleh mahasiswa-mahasiswa senior -- yang notabene
>sering rajin menyuarakan penegakan hak asasi manusia. Padahal larangan
>perpeloncoan yang memang tidak ada gunanya itu sudah dilarang pemerintah.
>Anehnya, baik pemerintah sendiri (c.q. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan)
>dan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan tidak berbuat apa-apa
>melihat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan di depan mata.
>
>Ironi pertama adalah dari dua surat pembaca tersebut, kita ketahui,
>ternyata praktek-praktek perpeloncoan yang melecehkan harkat dan martabat
>manusia (dalam hal ini para mahasiswa baru) itu masih terus berlangsung.
>Padahal larangannya bukan baru berlaku tahun ini, tetapi sudah beberapa
>tahun lalu (sekitar tahun 1984!). Tetapi, dari tahun ke tahun masih saja
>terdapat praktek demikian di beberapa perguruan tinggi (baik swasta, maupun
>negeri). Bahkan korban jiwa sempat jatuh. Tetapi, yang berkompeten di
bidang
>pendidikan seolah-olah menutup mata dan telinga. Maka, larangan pemerintah
>tadi hanya bagaikan macan ompong belaka.
>
>Ironi kedua adalah soal pemuatan surat pembaca itu sendiri. Redaksi Jawa
Pos
>mempunyai kebijakan bahwa untuk setiap surat pembaca yang dimuatnya,
>penulisnya harus bersedia dimuat nama dan alamatnya secara jelas. Namun,
>khusus untuk kedua surat pembaca tersebut Redaksi melakukan "langkah
>pengamanan" dengan mengrahasiakan nama dan alamat penulisnya. Catatan
>Redaksi Jawa Pos menulis: "Surat ini ditulis seorang dengan nama dan alamat
>yang lengkap. Namun dengan alasan untuk keamanan anaknya yang sedang ikut
>Ospek, penulis minta nama dan alamatnya tidak dicantumkan."
>
>Membaca ini, timbul kesan kok seolah-olah kita ini sedang berhadapan dengan
>sesuatu (institusi) yang patut ditakuti, kalau tidak mau dibilang
>seolah-olah seolah-olah sedang berhadapan dengan suatu institusi
premanisme.
>Sampai-sampai (saking takutnya) nama dan alamat penulis harus dirahasiakan.
>Padahal yang dihadapi adalah suatu institusi intelektual yang punya nama
>besar di negeri ini.
>
>Berikut kedua surat pembaca dimaksud:
>
>
>
>Ospek ITS Berbau Kolonial?
>
>Mencermati pelaksanaan Ospek ITS tahun 2000, ternyata hanya berisi acara
>yang itu-itu juga: Hukuman fisik, caci maki dan sumpah serapah dari senior.
>Ini menimbulkan tanda tanya besar: Mengapa para pimpinan institut terkesan
>tidak berdaya menghadapi penyimpangan pelaksanaan Ospek di lapangan?
Mengapa
>para mahasiswa senior itu, yang mengaku sebagai pejuang reformasi dan
>pembela hak-hak asasi manusia justru melakukan hal-hal yang bertolak
>belakang dengan semangat reformasi dan penghormatan dan penegakan hak-hak
>asasi manusia?
>Sungguh ironis sekali. Di zaman reformasi ini masih ada institusi
pendidikan
>negeri yang melestarikan tradisi kolonial yang identik dengan pembodohan
>bangsa, dan terkesan seolah-olah itulah satu-satunya metode untuk membentuk
>jiwa korsa dan kebanggaan terhadap almamater. Apalagi yang melakukan itu
>adalah mahasiswa senior yang sering berteriak jika ada pihak lain yang
>melanggar hak-hak asasi manusia. Mengapa tidak dicarikan cara lain yang
>lebih bermutu, mendidik, dan manusiawi untuk mendidik mahasiswa baru?
>
>Nama dan alamat pada redaksi
>Catatan Redaksi:
>
>Surat ini ditulis seorang dengan nama dan alamat yang lengkap. Namun dengan
>alasan untuk keamanan anaknya yang sedang ikut Ospek, penulis minta nama
dan
>alamatnya tidak dicantumkan.
>
>
>Mahasiswa, Mengapa Ada Perpeloncoan?
>
>Pada 17 September 2000 kami mengantar adik mahasiswa baru ITS yang
>diharuskan berkumpul di kampus untuk suatu acara bagi mahasiswa baru. Di
>kampus itu kami lihat ada kegiatan "perpeloncoan" bagi mahasiswa baru.
>Mereka "gundhul plonthos" direndam di sungai kotor yang ada di kampus,
>"briefing" oleh senior-senior di terik matahari, dibentak-bentak, dan
>sebagainya.
>Ternyata pada Sabtu dan Minggu yang semestinya libur, juga dilangsungkan
>kegiatan-kegiatan perpeloncoan dengan berbagai istilah baru. Sampai
kapankah
>hal ini berlangsung? Bukankah kegiatan-kegiatan seperti ini semestinya
sudah
>tidak boleh lagi dilaksanakan?- Apakah kegiatan ini di bawah tanggung jawab
>pimpinan lembaga pendidikan? Terima kasih.
>
>DIAN HANDAYANI, alamat pada redaksi.
>
>
>
>
>
>
>->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!