Saya sangat terima kasih atas perhatian dan tawaran dari Anda, Mas. Saya
merasa begitu diperhatikan. Saya akan mengcoba bergabung dng milis tsb.
Setelah ini saya akan meng-subscribe milis tsb.

----- Original Message -----
From: Sams <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, October 01, 2000 11:56 PM
Subject: [Kuli Tinta] Mas Daniel anda berminat ? -----> Tawaran untuk semua
pihak,


> Mas Daniel HT, saya undang anda bergabung dengan milis awak Jawa Pos.
Disitu
> berkumpul sejumlah wartawan dan administratur Jawa Pos yang mungkin bisa
> diajak diskusi soal berita-berita yang muncul di Jawa Pos.
>
> Juga ada wakil dari Dewan Pembaca Jawa Pos bernama Bung David Mario,
>
> Ada pula sejumlah alumni Jawa Pos yang kini sudah bertugas di tempat lain
> seperti Bina Bektiati (kini Redaktur Majalah TEMPO) dan Yudi Karyono (kini
> menjadi konsultan).
>
> Pendek kata, milis ini terbuka untuk siapapun. Untuk bergabung silahkan
saja
> kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
>
> Deskripsi milis tersebut adalah :
> Milis ini adalah wahana bagi sesama karyawan, alumni, dan masyarakat umum
> yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Harian Umum Jawa Pos untuk saling
> berkomunikasi dan bertukar informasi, menjalin tali persaudaraan serta
> bertukar pendapat. Segala macam tulisan merupakan tanggung  jawab pribadi
> masing-masing. Komunikasi hendaknya memakai bahasa Indonesia, bisa juga
> bahasa Jawa, terserah saja. Yang penting sopan dan bersikap dewasa.
>
> Demikian sekedar pemberitahuan,
>
>
> Iwan Sams
>
> -----Original Message-----
> From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Tuesday, September 26, 2000 12:09 AM
> Subject: [Kuli Tinta] Dua Ironi
>
>
> >Membaca dua surat pembaca di Jawa Pos, Sabtu, 23 September 2000 ("Ospek
ITS
> >Berbau Kolonial?" dan "Mahasiswa, Mengapa Ada Perpeloncoan?"),
menimbulkan
> >dua ironi, selain ironi yang sudah disinggung dalam kedua surat pembaca
> >tersebut). Surat yang dimaksud adalah yang mempersoalkan mengapa sampai
> saat
> >ini perpeloncoan yang vulgar dan jelas-jelas melecehkan harkat manusia
> masih
> >saja terus dipraktekkan oleh mahasiswa-mahasiswa senior -- yang notabene
> >sering rajin menyuarakan penegakan hak asasi manusia. Padahal larangan
> >perpeloncoan yang memang tidak ada gunanya itu sudah dilarang pemerintah.
> >Anehnya, baik pemerintah sendiri (c.q. Departemen Pendidikan dan
> Kebudayaan)
> >dan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan tidak berbuat apa-apa
> >melihat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan di depan mata.
> >
> >Ironi pertama  adalah dari dua surat pembaca tersebut, kita ketahui,
> >ternyata praktek-praktek perpeloncoan yang melecehkan harkat dan martabat
> >manusia (dalam hal ini para mahasiswa baru) itu masih terus berlangsung.
> >Padahal larangannya bukan baru berlaku tahun ini, tetapi sudah beberapa
> >tahun lalu (sekitar tahun 1984!). Tetapi, dari tahun ke tahun masih saja
> >terdapat praktek demikian di beberapa perguruan tinggi (baik swasta,
maupun
> >negeri). Bahkan korban jiwa sempat jatuh. Tetapi, yang berkompeten di
> bidang
> >pendidikan seolah-olah menutup mata dan telinga. Maka, larangan
pemerintah
> >tadi hanya bagaikan macan ompong belaka.
> >
> >Ironi kedua adalah soal pemuatan surat pembaca itu sendiri. Redaksi Jawa
> Pos
> >mempunyai kebijakan bahwa untuk setiap surat pembaca yang dimuatnya,
> >penulisnya harus bersedia dimuat nama dan alamatnya secara jelas. Namun,
> >khusus untuk kedua surat pembaca tersebut Redaksi melakukan "langkah
> >pengamanan" dengan mengrahasiakan nama dan alamat penulisnya. Catatan
> >Redaksi Jawa Pos menulis: "Surat ini ditulis seorang dengan nama dan
alamat
> >yang lengkap. Namun dengan alasan untuk keamanan anaknya yang sedang ikut
> >Ospek, penulis minta nama dan alamatnya tidak dicantumkan."
> >
> >Membaca ini, timbul kesan kok seolah-olah kita ini sedang berhadapan
dengan
> >sesuatu (institusi) yang patut ditakuti, kalau tidak mau dibilang
> >seolah-olah seolah-olah sedang berhadapan dengan suatu institusi
> premanisme.
> >Sampai-sampai (saking takutnya) nama dan alamat penulis harus
dirahasiakan.
> >Padahal yang dihadapi adalah suatu institusi intelektual yang punya nama
> >besar di negeri ini.
> >
> >Berikut kedua surat pembaca dimaksud:
> >
> >
> >
> >Ospek ITS Berbau Kolonial?
> >
> >Mencermati pelaksanaan Ospek ITS tahun 2000, ternyata hanya berisi acara
> >yang itu-itu juga: Hukuman fisik, caci maki dan sumpah serapah dari
senior.
> >Ini menimbulkan tanda tanya besar: Mengapa para pimpinan institut
terkesan
> >tidak berdaya menghadapi penyimpangan pelaksanaan Ospek di lapangan?
> Mengapa
> >para mahasiswa senior itu, yang mengaku sebagai pejuang reformasi dan
> >pembela hak-hak asasi manusia justru melakukan hal-hal yang bertolak
> >belakang dengan semangat reformasi dan penghormatan dan penegakan hak-hak
> >asasi manusia?
> >Sungguh ironis sekali. Di zaman reformasi ini masih ada institusi
> pendidikan
> >negeri yang melestarikan tradisi kolonial yang identik dengan pembodohan
> >bangsa, dan terkesan seolah-olah itulah satu-satunya metode untuk
membentuk
> >jiwa korsa dan kebanggaan terhadap almamater. Apalagi yang melakukan itu
> >adalah mahasiswa senior yang sering berteriak jika ada pihak lain yang
> >melanggar hak-hak asasi manusia. Mengapa tidak dicarikan cara lain yang
> >lebih bermutu, mendidik, dan manusiawi untuk mendidik mahasiswa baru?
> >
> >Nama dan alamat pada redaksi
> >Catatan Redaksi:
> >
> >Surat ini ditulis seorang dengan nama dan alamat yang lengkap. Namun
dengan
> >alasan untuk keamanan anaknya yang sedang ikut Ospek, penulis minta nama
> dan
> >alamatnya tidak dicantumkan.
> >
> >
> >Mahasiswa, Mengapa Ada Perpeloncoan?
> >
> >Pada 17 September 2000 kami mengantar adik mahasiswa baru ITS yang
> >diharuskan berkumpul di kampus untuk suatu acara bagi mahasiswa baru. Di
> >kampus itu kami lihat ada kegiatan "perpeloncoan" bagi mahasiswa baru.
> >Mereka "gundhul plonthos" direndam di sungai kotor yang ada di kampus,
> >"briefing" oleh senior-senior di terik matahari, dibentak-bentak, dan
> >sebagainya.
> >Ternyata pada Sabtu dan Minggu yang semestinya libur, juga dilangsungkan
> >kegiatan-kegiatan perpeloncoan dengan berbagai istilah baru. Sampai
> kapankah
> >hal ini berlangsung? Bukankah kegiatan-kegiatan seperti ini semestinya
> sudah
> >tidak boleh lagi dilaksanakan?- Apakah kegiatan ini di bawah tanggung
jawab
> >pimpinan lembaga pendidikan? Terima kasih.
> >
> >DIAN HANDAYANI, alamat pada redaksi.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> >Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> >Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> >Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke