--- "M. Mashuri Alif" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Jadi mas Agus, sebuah cita-cita luhur anda sebenarnya untuk mengharapkan
> media yang tidak terinterfensi pasar. Lihat saja TEMPO sudah melepar
> sahamnya kepasar artinya ya pasar kemudian secara alamiah bermain. Karena
> jika tidak kita malah dituduh Komunis, ha..ha..ha..
Kalau ini yang Pak Mashuri maksud, jadinya saya ini orang utopis, kayak orang sosialis
yang kadang
utopis he-he...seperti pernah ditulis oleh Ruslan Abdulgani dulu. Saya pikir kalau
semuanya nanti
diserahkan ke pasar, maka satu-satunya jalan untuk mengontrol pers ya perlu adanya
hukum yang kuat
serta diharapkan masyarakat punya kesadaran hukum yang kuat dan secara pribadi cukup
dewasa
membaca laporan pers sehingga tidak mudah kalap. Cuma kenyataannya sekarang khan beda
jauh. Pers
sudah terinfeksi gila-gilaan, tapi masyarakatnya masih hidup di jaman abad
pertengahan. Jadinya
gampang sekali terjadi gesekan. Yang lebih parah lagi, pers dibidang audio visual (TV)
ternyata
efeknya lebih kuat dibandingkan media cetak. Dan kita rasanya lebih senang menonton
daripada
membaca. Padahal dalam menonton orang sulit sekali merenung bahan tontonan sejenak
saja.
Sebenarnya yang saya maksudkan dengan mengunyah dan tidak menelan mentah-mentah itu
bukanlah pers
harus steril dari pasar atau perlu adanya sensor, tapi lebih pada pemilihan kata dan
bahasa serta
perlu adanya pengendapan sejenak akan sebuah berita. Yang saya rasakan sekarang ini
pers sering
cuma pinjam mulut bocor para politisi, dan ada kecenderungan untuk mengadu para
politisi dengan
harapan ada perang opini. Kesan yang ditangkap di bawah (pada orang kebanyakan) atau
di luarnegeri
adalah bahwa negara ini amburadul serta carut-marut. Apalagi bahasa yang digunakan
oleh politisi
sebagian besar adalah bahasa model pemaksaan setengah kekerasan. Dengan penghindaran
bahasa lugas,
tanpa mengurangi arti sebenarnya, saya pikir itu bisa dilakukan. Tempo sudah pernah
mengawalinya
dengan jurnalisme sastra. Hanya saja untuk pers audio visual sangat sulit
mengontrolnya. Saya
sempat membayangkan, kalau di Indonesia ada orang yang sangat berbakat dan menguasai
TV, bisa
muncul orang seperti Berlusconi saat menang jadi PM di Italia.
Pers sebagai salah satu jembatan komunikasi tercepat antara pemimpin dan rakyat,
sangat memegang
peranan penting dalam hancur tidaknya negara ini. Nah sekarang terserah pada pers, mau
memposisikan diri sebagai apa, sebagai tukang fasilitator, pendorong demokrasi, atau
sebaliknya
sebagai faktor penghambat atau cuma tukang pinjam mulut untuk keuntungan diri pribadi.
Perkara komunis itu, kalau benar info anda tentang omongan pemred republika seperti
itu, berarti
jaman orde baru itu persnya pers komunis, lha pada kena usus buntu semua begitu. Atau
jangan-jangan dia tidak pernah baca sejarah pers Indonesia.
Kalau GD, memang dia lemah dalam hal penguasaan opini. Lha pers dikuasai oleh golkar
dan poros
tengah. Pernah Kompas melakukan survey tentang parpol, hasilnya golkar naik peringkat.
Wah.
Begitu cepatnya orang lupa akan masa lalu.
salam
agusss
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Thousands of Stores. Millions of Products. All in one Place.
http://shopping.yahoo.com/
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!