Menurut saya apapun bentuknya tulis maupun audio visual semua tergantung
pada "kepentingannya" jika anda mempelajari benar-benar tulisan saya tentang
sedikit gambaran atas kasus Desiratnasari.
pers adalah sudah berubah menjadi industri. ia memerlukan inpun dan out put
disana ada aturan main yang tidak bisa diganggu gugat.
Beberapa contoh media TV;
jika anda mempelajari perkembangan TV sekarang ini. Selama ini SCTV memegang
reting yang tinggi untuk informasi yang tajam, mengingat jasanya yang
mengambarkan pristiwa reformasi.
Tetapi apa yang didapatkan sekarang, SCTV menjadi lebih kool dan condong
berhati-hati, tidak seperti yang dulu. Maka hal ini dipergunakan dengan baik
oleh RCTI dan sekarang TVRI pun mulai kelihatan "keterpihakannya".
Misalnya saja, tentang informasi kongres rakyat Aceh. SCTV memberikan
informasi yang sangat bertolak belakang dan tidak mendetil. Dikatakan disana
bahwa rakyat aceh tidak tertarik mengikuti kongres.
Berbeda dengan RCTI ketika saya pindahkan canelnya, memberitakan bahwa
aparat kepolisian melarang warga untuk memasuki kota dengan alasan surat
mengemudi dan isu tempat tinggal.
Dalam kasus Tommy misalnya saja TVRI malah terang-terangan mengatakan bahwa
prosedur yang dijalankan Tommy sudah benar dan tidak menyalahkan hukum
setelah reporter TVRI mewawancarai salah seorang pengacara.
Jadi bagi saya pribadi hal yang terjadi sekarang ini (baik cetak maupun
elektronik) bukanlah masalah pers harus menyajikan dengan bahasa yang puitis
meninggalkan bentuk-bentuk bahasa lugas dan tidak feodal. TEMPO
berpengalaman dengan bahasa yang puitis karena ia harus tetap hidup pada
masa pemerintahan ORBA, sehingga bahasa bisa diputarbalikan dan memberikan
simbolisasi. Dulu ketika saya masih aktif di pers mahasiswa saya banyak
belajar, bagaimana strategi taktik memberikan informasi yang halus (sangking
halusnya mungkin tidak diketahui rakyat kecil) agar informasi sampai dan
dapat mengugah perasaan.
Sekarang ini rakyat harus diajarkan walaupun dengan resiko tentunya. Bahwa
sebenarnya memang kita itu berbeda. Rakyat selama 32 tahun sudah dicekoki
oleh pers yang sama, jadi jangan ada usaha untuk mengembalikan hal itu.
Itulah pendidikan yang menurut saya paling berharga yang diberikan industri
pers kepada yang menikmatinya.
Pers sebagai industrikan memproduk kuli tinta (sama seperti nama milis ini)
dan ia tidak mungkin akan memberitakan hal-hal yang sama oleh itu dikenal
dengan sebutan news atau bukan news. Tugasnya mencari berita selama didunia
ini ada yang aneh-aneh ia akan tulis, karena itu adalah news.
Dan lebih baik berbeda kan, orang seluruh manusia sudah dilahirkan berbeda.
jika perbedaan tersebut terjadi ekses jangan disalahkan kepada pers semata.
Tetapi secara keseluruhan para elit politiklah yang mengaku wakil rakyat
untuk menenangkan rakyatnya; seperti ucapan gubernur Jogja baru-baru ini.
"Kita yang bersama-sama berusaha membangun tongak-tongaknya. Tetapi ini
sudah tidak membangun tetapi berusaha mengerogoti tongak-tongak pada
bangunan tersebut, ya otomatis ambruklah bangunan tersebut." Nah ucapan
beliau saya tidak tahu ditujukan kepada siapa. Yang jelaskan bukan ditujukan
kepada pers apalagi pers yang independent.
Ok sekian dulu.
Selamat Berbeda
Selamat hari Pahlawan
dan salam demokrasi.
MMA
----- Original Message -----
From: Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 10 Nopember 2000 19:19
Subject: Re: [Kuli Tinta] politik kanak-kanak-II (pers)
> --- "M. Mashuri Alif" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Jadi mas Agus, sebuah cita-cita luhur anda sebenarnya untuk mengharapkan
> > media yang tidak terinterfensi pasar. Lihat saja TEMPO sudah melepar
> > sahamnya kepasar artinya ya pasar kemudian secara alamiah bermain.
Karena
> > jika tidak kita malah dituduh Komunis, ha..ha..ha..
>
> Kalau ini yang Pak Mashuri maksud, jadinya saya ini orang utopis, kayak
orang sosialis yang kadang
> utopis he-he...seperti pernah ditulis oleh Ruslan Abdulgani dulu. Saya
pikir kalau semuanya nanti
> diserahkan ke pasar, maka satu-satunya jalan untuk mengontrol pers ya
perlu adanya hukum yang kuat
> serta diharapkan masyarakat punya kesadaran hukum yang kuat dan secara
pribadi cukup dewasa
> membaca laporan pers sehingga tidak mudah kalap. Cuma kenyataannya
sekarang khan beda jauh. Pers
> sudah terinfeksi gila-gilaan, tapi masyarakatnya masih hidup di jaman abad
pertengahan. Jadinya
> gampang sekali terjadi gesekan. Yang lebih parah lagi, pers dibidang audio
visual (TV) ternyata
> efeknya lebih kuat dibandingkan media cetak. Dan kita rasanya lebih senang
menonton daripada
> membaca. Padahal dalam menonton orang sulit sekali merenung bahan tontonan
sejenak saja.
>
> Sebenarnya yang saya maksudkan dengan mengunyah dan tidak menelan
mentah-mentah itu bukanlah pers
> harus steril dari pasar atau perlu adanya sensor, tapi lebih pada
pemilihan kata dan bahasa serta
> perlu adanya pengendapan sejenak akan sebuah berita. Yang saya rasakan
sekarang ini pers sering
> cuma pinjam mulut bocor para politisi, dan ada kecenderungan untuk mengadu
para politisi dengan
> harapan ada perang opini. Kesan yang ditangkap di bawah (pada orang
kebanyakan) atau di luarnegeri
> adalah bahwa negara ini amburadul serta carut-marut. Apalagi bahasa yang
digunakan oleh politisi
> sebagian besar adalah bahasa model pemaksaan setengah kekerasan. Dengan
penghindaran bahasa lugas,
> tanpa mengurangi arti sebenarnya, saya pikir itu bisa dilakukan. Tempo
sudah pernah mengawalinya
> dengan jurnalisme sastra. Hanya saja untuk pers audio visual sangat sulit
mengontrolnya. Saya
> sempat membayangkan, kalau di Indonesia ada orang yang sangat berbakat dan
menguasai TV, bisa
> muncul orang seperti Berlusconi saat menang jadi PM di Italia.
>
> Pers sebagai salah satu jembatan komunikasi tercepat antara pemimpin dan
rakyat, sangat memegang
> peranan penting dalam hancur tidaknya negara ini. Nah sekarang terserah
pada pers, mau
> memposisikan diri sebagai apa, sebagai tukang fasilitator, pendorong
demokrasi, atau sebaliknya
> sebagai faktor penghambat atau cuma tukang pinjam mulut untuk keuntungan
diri pribadi.
>
> Perkara komunis itu, kalau benar info anda tentang omongan pemred
republika seperti itu, berarti
> jaman orde baru itu persnya pers komunis, lha pada kena usus buntu semua
begitu. Atau
> jangan-jangan dia tidak pernah baca sejarah pers Indonesia.
>
> Kalau GD, memang dia lemah dalam hal penguasaan opini. Lha pers dikuasai
oleh golkar dan poros
> tengah. Pernah Kompas melakukan survey tentang parpol, hasilnya golkar
naik peringkat. Wah.
> Begitu cepatnya orang lupa akan masa lalu.
>
> salam
> agusss
>
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Thousands of Stores. Millions of Products. All in one Place.
> http://shopping.yahoo.com/
>
> >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!