Pak Mashuri, Kawan2 sekalian,
Sorry absen dua hari dari kulitinta. Ada 5 tanggapan terhadap posting saya.
Tanggapan pak Mashuri , amat serius sekali. Pesannya amat patut untuk
diperhatikan. Kita semua harus waspada terhadap semua kejadian yang ada.
Jangan mau diadu-domba. Kita patut curiga berat terhadap suatu kelompok yang
memang sengaja merekayasa semua itu. Thanks, pak Mashuri.
Dengan tidak mengecilkan pesan pak Mashuri, yang memang penting itu,
sebetulnya yang ingin saya diskusikan adalah : Apa yang harus kita perbuat
bila ada uneg-uneg di hati ? Uneg-uneg yang kurang enak ( seperti contoh
orang2 Kristen main pedang dengan kejam itu )? Apakah sebaiknya kita simpan
saja rapat-rapat didalam hati? Ataukah kita keluarkan saja ? Cara yang
terakhir ini kira-kira ada manfaatnya , nggak ? Apakah tidak malahan
menimbulkan ketegangan baru ? Kesalahpahaman baru ? Apakah kita
masing-masing sudah siap mendengarkan isi hati orang lain dengan kepala
dingin ?
Seyogyanya, dalam dunia yang sudah dewasa, membeberkan isi hati itu bisa
amat membantu mencari solusi. Kita bisa memberikan informasi baru, bila
mungkin ada mis-informasi. Bisa membuat membetulkan bila ternyata ada
kesalahan. Bisa meminta maaf bila ada kekhilafan, dan sebagainya.
Sebaliknya dalam dunia kanak-kanak yang amat mungkin kita diami ini.
Membeberkan isihati adalah menggarisbawahi dipihak mana dia berdiri. Jadi
kemudian kita gebuki ramai-ramai bila dia orang sana. Pendapatnya,
isihatinya, sudut-pandangnya, adalah lain dari kita punya. Jadi itu adalah
asing dan pasti salah. Jadi mari kita soraki ramai-ramai , dan kita buang
saja.
Sayang sekali, pertanyaan saya dipandang belum begitu layak untuk
didiskusikan.
Wassalam.
Abdullah Hasan.
----- Original Message -----
From: "M. Mashuri Alif" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, November 24, 2000 2:21 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Siri-Sori-Siri-Sori- Uneg-Uneg-Sorry
Bapak Abdullah yth,
Saya pikir mari kita sama-sama singkirkan dulu keyakinan kita masing-masing
jika kita mau netral, untuk membicarakan hal tersebut.
Jika bicara keyakinan mari kita bicara di Mesjid atau di gereja. Bukankah
islam mengajarkan begitu bukan?
Maaf akhirnya saya tertarik juga turut terlibat dalam diskusi yang menurut
saya ngak ada gunanya, dan mengabiskan energi yang ujung-ujungnya
gontok-gontokan dan mau menang sendiri. (Dan memang ini yang dicari oleh
orang yang membuat isu tersebut). Yang perlu kita sama-sama pahami, bahwa
cara teror, adu domba agama bukan-lah ciri khas agama itu ciri khas fasisme
(dan rekan-rekan semua sudah terjebak kedalamnya baik yang Islam maupun
Non-Islam) seperti yang diinginkan sipembuat isu tersebut.
Nazi jerman ketika membantai umat Yahudi inipun atas profokasi pemerintahan
fasis Jerman dan ujung-ujungnyapun yang berkuasa bukan juga umat Kristiani.
Baru-baru ini di palestina bersama pemimpin palestina Paus mau mengatakan
maaf sebesar-besarnya terhadap tragedi kemanusian yang terjadi pada
pertengahan abad 19 terhadap bangsa Yahudi.
Tak lama setelah itu,---Bapak Abdul yang juga warga NU--- Mantan kiayai
besar/Pemimpin besar NU Aburahman Wahid (president RI) dalam wawancara
dengan TPI mengucapkan maaf terhadap tindakan warga NU terhadap pembantai
terbesar dalam abad itu terhadap para pendukung PKI dan Sukarnois.
Untuk memperkuat nalar kita semua sebagai referensi pengamat militer
mengatakan konflik/perebutan yang dilakukan oleh militer akan mengakibatkan
korban dikalangan sipil, bukan dikalangan militer sendiri.
Kemudian saya lupa pernah membaca di DR atau di Tempo. Tetang keterlibatan
kelompok ektrim kanan (baik Islam dan kristen) yang dipergunakan oleh CIA
dalam skenario penjatuhan Sukarno. Hal ini harus dibuktikan lagi. Tetapi
yang menarik Islam dan kristen penah bersatu untuk maksud tertentu dan
dipergunakan oleh kepentingan asing. Hal inilah yang perlu rekan-rekan
pelajari tentang berkembangnya kekuatan ekstrim kanan baik islam lewat
NII-nya dan Kristen lewat Kasbulnya. Yang memperkuat ingatan kita akan
banyaknya pemberontakan Permesta Sumatra, Sulawesi dan Ambon (kok, hampir
sama ya dengan sekarang).
Jelas jika kita mau melihat, bukanlah korban yang jatuh. Jika bicara korban
aceh, papua, Ambon dll juga jatuh korban baik muslim maupun non muslim, yang
seharusnya anda analisa siapa dan mengapa bisa terjadi di tengah dunia yang
kian sempit dan mengglobal. Dimana tingkat pendidikan sudah tinggi. Mengapa
ada Dendam? Siapa yang membuat dendam itu dan kemudian meniup-niupkan dendam
tersebut? bagaimana menghapus dendam tersebut.
Bangsa ini sedang sakit, bukan saja agama yang sakit tetapi seluruh
sendi-sendi kehidupan berbangsa sedang sakit. Sakit hati dll. Dan hal ini
lebih baik memang tidak diexpost dan dibesar-besarkan (karena saya pribadi
juga tidak punya tenaga untuk menuntaskannya). Menurut bahasa Gusdur biarkan
hal ini berakhir secara alami.
Dalam ungkapan Gusdur tersebut terlihat kekesalan beliau terhadap para
ektrim, dan rakyat yang mau saja dibodohi saja. Pak Abdul, mengapa orang
sekarang ini mudah membuat isu tetapi melupakan sejarah. Bukankah kemudian
Islam juga yang dihabisi ketika Suharto berkuasa. Kasus Aceh, Lampung,
Priuk, Situbondo, Waduk Nipah Madura, dukun santet ketiga kasus terakhir
bapak Abdulah menimba umat Islam dari kalangan NU.
Hanya orang-orang yang memakai otaknya saja yang bisa menganalisa
permasalahan profokasi tersebut. Kenapa jika ada perbedaan tidak
diselesaikan dengan diskusi sesudah itu ya selesai, agamamu-agamamu agamaku
ya agamaku.
Sebenarnya memang menarik mempelajari profokasi ini dan sudah ada sejak
jaman sukarno dulu, waktu ditumpasnya DI/TII, lalu Permesa. Hanya beberapa
daerah yang warganya sudah medeka dan paham/cerdaslah yang tidak lagi
termakan proaganda tersebut.
Kita contohkan sekarang:
Usaha-usaha profokasi ini sebenarnya sudah dimulai sejak bergulirnya
reformasi sebagai data dan sebaiknya anda cari dan lengkapi sendiri.
1. Usaha peledakan Mesjid Istiqlal Jakarta (tidak memancing warga muslim di
Jakarta).
2. Peledakan Gereja di Medan tidak memancing warga kristiani di Medan.
Bagaimana WAM bisa menjelaskan dengan nalarnya dan keyakinannya itu bagi
saya bukan masalah solidaritas agama jika tujuannya politik, bapak Abdul.
Dari beberapa referensi yang saya baca dan pelajari bapak Adullah, agama
akhirnya hanya dipakai sebagai tungangan politik semata.
Dan dalam keyakinan politik yang saya pegang. Agama adalah sifatnya
Universal jadi saya tempatkan di atas (vertikal), dialah yang akan mengatur
moral kita dalam hidup sosial (horisontal) dan politik.
Tapi saya tidak menutup mata masih ada usaha beberapa kelompok dalam
masyarakat yang terus memaksakan kepentingan politiknya baik secara vertikal
dan horisontal pada ajaran agama. Bagi saya sah-sah saja asal dijalankan
secara demokratis (bukan dengan memaksa) walaupun tidak dilarang juga untuk
menyebarkannya. Kemudian mau untuk berbesar hati bersama-sama bagi yang
menganut kelompok ini. Artinya mau jujur pada diri sendiri, bahwa semua
kepentingan yang berdasarkan agama dasarnya harus moral. Jadi tidak ada lagi
tuduhan kristinisasi dan islamisasi, karena memang kedua menjalakan amanat
itu. Seperti misalnya tuduhan terhadap pembakaran DULOS. Toh kita semua
masih bisa berbesar hati untuk beribadah haji ke Makah dan bagi katolik ke
Roma dan Palistina, bagi konghucu bisa ke cina dan budha bisa ke tibet,
hindu bisa ke India, toh negara pencetus agama ini belum musnah.
Sebagai muslim seharusnya kita lebih bisa berbesar hati. Apalagi Islam di
Indonesia adalah Mayoritas mengapa harus takut dan menekan yang minoritas
(mis: dalam kasus anti Cina/budaya rasis). Jika kita selalu takut dan di
hantui rasa takut, malahan ketakutan itu akan menghampiri kita. Dalam
sejarahnya agama apapun dan ilmu sosial apapun mengajarkan bahwa sebuah
keyakinan/kelompok dari mulai Adam dan Hawa membuktikan apabila ada tekanan
ia akan makin membesar dan menguat. Ok sekian saja semoga kita semua
bukanlah orang-orang
yang merugi.
Pak Andullah maaf terlalu panjang
tulisan ini. semoga anda dan keluarga
dilindungi oleh Tuhan yme.
Amieen.
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!