>
> Dengan tidak mengecilkan pesan pak Mashuri, yang memang penting itu,
> sebetulnya yang ingin saya diskusikan adalah : Apa yang harus kita perbuat
> bila ada uneg-uneg di hati ? Uneg-uneg yang kurang enak ( seperti contoh
> orang2 Kristen main pedang dengan kejam itu )? Apakah sebaiknya
> kita simpan
> saja rapat-rapat didalam hati? Ataukah kita keluarkan saja ? Cara yang
> terakhir ini kira-kira ada manfaatnya , nggak ? Apakah tidak malahan
> menimbulkan ketegangan baru ? Kesalahpahaman baru ? Apakah kita
> masing-masing sudah siap mendengarkan isi hati orang lain dengan kepala
> dingin ?

MMA:
1. Silahkan keluarkan semua unek-unek tidak ada yang melarang mengeluarkan
isi hati, mau ditanggapi atau tidak tergantung nalar dan kapasitas otak yang
kita miliki.
2. Maaf jika  beberapa rekan lainnya yang sepandangan dengan anda mengatakan
BAHWA YANG MEMAKAI KEKERASAN ITU ADALAH ORANG YANG PUNYA KEYAKINAN AGAMA
saya maaf tidak sependapat, sehingga nantinya wajar anak  cucu kita akan
berbicara LEBIH BAIK KITA TIDAK BERAGAMA jika agama sudah menjadi pembenaran
orang untuk melakukan tindak kekerasan.
3. Ataukah pesan abad pertegahan yang akan kita sampaikan kepada anak dan
cucu kita dikemudian hari?
4. Dari kebaikkannya sebuah keterbukaan seharusnya malah menghacurkan
cara-cara fanatisme yang berlebihan (karena fanatisme pasti akan dihadapkan
perbedaan dan demokrasi).
5. Pak Abdullah jika kita lihat disini fanatisme boleh-boleh saja, asalkan
kita mau untuk memakai otak dan argumentasi. Bukan diskusi yang tidak ada
jalan keluarnya tersebut. seperti akhir diskusi dari bung WAM dan Lawannya
jika anda mau memperhatikan kondisi sosial kita ya, seperti itulah yang
sepertinya mengambarkan moral yang tinggi (kalau bisa membawa simbol-simbol
agama) akhirnya ujung-ujungnya di perut dan selangkangan tidak pernah sampai
kekepala nah orang-orang asing yang sudah maju negaranya akan tertawa jika
melihat diskusi atau nalar warga indonesia cuma sampai disitu. Ataukah kita
seharusnya mau berkaca kenapa kita hanya sampai diperut kebawah nalar yang
kita miliki apakah mungkin ini akibat tekanan/ketertupan/kemunafikan yang
telah dibuat oleh sistem budaya dan dipertahankan secara kuat dengan
kekerasan di negara
kita yang tercinta ini, pak?

> Sebaliknya dalam dunia kanak-kanak yang amat mungkin kita diami ini.
> Membeberkan isihati adalah menggarisbawahi dipihak mana dia berdiri. Jadi
> kemudian kita gebuki ramai-ramai bila dia orang sana.  Pendapatnya,
> isihatinya, sudut-pandangnya, adalah lain dari kita punya. Jadi itu adalah
> asing dan pasti salah. Jadi mari kita soraki ramai-ramai , dan kita buang
> saja.

MMA:
Begitulah kiranya sulit membangun demokrasi dari puing-puing otoritarianisme
dan feodalisme ini pak. Apalagi prasarananya sudah diobrak-abrik oleh
pembenaran itu sendiri. Seperti gambaran tindakan kekerasan yang di lakukan
di Depok oleh kelompok FPI, sebaik apapun yang dilakukan FPI terhadap tempat
tersebut secara budaya dan hukum dunia yang berlaku saya harus jujur dapat
mengatakan itu salah. Tindakan tersebut bukan harusnya dilakukan oleh FPI
tetapi aparat  yang berwajib. Apalagi jika sipil yang didorong-dorong  (buck
up oleh militer) artinya dia datang bukan atas keyakinan tetapi atas
paksaan atau bujukan.

Satu hal yang sudah menyimpang sekarang ini adalah kita harus menyadari
bahwa kita bukan negara agama tetapi negara prulal seperti fisafat negara
kita yaitu pancasila yang menjunjung tinggi prulalisme dan perbedaan.
Keyakinan (ide) boleh-boleh saja Islam tetapi kehidupan bernegara falsafat
hidup haruslah Pancasila. Nah sebenarnya negara kita sudah membangun dan
memetakannya sejak dulu tinggal kita sekarang ini yang melengkapi.

Karena tidak ada satupun dari kita yang bisa menilai tingkah laku  seseorang
dan memberikan vonis dosa. Artinya kita sudah mendahulukan yang menciptakan
kita. Dan sering kali kita temui sesama muslim yang melakukan hal-hal
tersebut dan kadang kala dilakukan malah oleh kiayinya sendiri. Harus
diingat tak ada (walaupun Gus Dur sekalipun) yang tak lepas dari dosa.

Nah dari analisa diatas kita seharusnya dapat memilah-milah yang mana hukum
dunia (Horisontal) dan hukum Akhirat (vertikal). Jika masalahnya adalah
hukum manusia yang harus melakukan adalah orang-orang yang berwenang
ditempatnya. Permasalahnya Aparat hukum kita takut dengan apabila dihadapkan
dengan Agama (pelajaran kasus priuk). Satu hal sebenarnya Polisi dapat
menangkap Tommy suharto, tetapi karena ada pembenaran pengajian di rumah
Tutut maka penangkapan ditangguhkan. Padahal kalau kita mau, tegas dengan
moral agama yang kita miliki, tak ada satupun agama
manapun yang akan menyembunyikan kriminal atas nama agama, dibelahan bumi
manapun dan agama manapun akan membenarkan penangkapan tersebut. Sekali lagi
Pak Abdulah, saya lihat disanalah kira-kira. Jadi sekarang ini ada
sekelompok orang dalam masyarakat yang coba-coba menutupi aibnya selama ini
dengan topeng agama. Dan ini diamini saja oleh sebagian Kyai kita. Nah
cara-cara inilah yang saya sebutkan dengan fasisme. Jadi yang menyetir
keyakinan adalah kekuasaan dan uang dan dilakukan oleh sipil. Jadi berbeda
dengan perjuangan yang mengatasnamakan agama yang pernah ada di Indonesia
selama ini, mis perjuangan Cut Nyadien, Imam Bonjol dll.

Betapa indahnya jika kehidupan sosial tidak disangkutpautkan dengan agama.
Betapa mudahnya meredamkan dendam umat (mayoritas kristen) di Ambon terhadap
pendatang umat Islam. Hal yang sebenarnya sama dan menimpa warga Tionghoa
pada saat kedatangan Belanda dan pada saat reformasi kemarin yang juga
dilakukan mayoritas umat muslim. Muak saya melihat kemunafikan seperti ini.
Sebenarnya tugas ini, jika mau kita jujur dilakukan oleh dewan, bukan
pemerintah. Tetapi wakil rakyat di dewan kita lebih suka memikirkan laju
pertumbuhan dan masuknya uang ke kas mereka dari pada meredam kerusuhan di
daerah. Poin utama pesan yang disampaikan oleh perjuangan reformasi adalah
menegakan dewan Rakyat (legislatif). Apakah dewan mengakar pada rakyatnya?
ini semua bisa kita jawab dari hati kita sendiri-sendiri. Jika masalah ini
tidak dapat terpecahkan juga, jalan satu-satunya adalah perubahan Sosial, di
mana seluruh elemen masyarakat harus menyelesaikan problemnya
sendiri-sendiri dengan membentuk wadah dan dewan sendiri. Entah lewat dewan
gereja, Dewan mesjid (pesantren), dan dewan-dewan lainnya.

>
> Sayang sekali, pertanyaan saya dipandang belum begitu layak untuk
> didiskusikan.
>

MMA:
Sudah, boleh siapapun akan sakit hati, jika saudaranya dibunuh, bukan hanya
islam dan non Islam. Sekalipun tommy yang jelas kriminal otomatis saudaranya
sendiri pasti akan melindunginya. Jadi bicaralah dengan sehat. Tetapi jangan
juga marah-marah jika tidak ada yang menanggapinya. Sungguh indah apabila
masalah Siri-sori ini bukanlah WAM yang banyak bicara, berdiskusi tidak
bermakna selain maki-maki (kesal/sakit) tetapi orang yang lain (muslim)
mungkin lebih indah. Dan aneh pembantaian kok didiskusikan bukan
direnungkan.

Pendapat saya juga mungkin tidak ada yang menyetujuinya, tetapi kenapa kita
harus takut untuk mengungkapkannya, nanti sejarah sendiri yang akan
menjawabnya. Toh kita hidup bukan untuk hari ini saja tetapi untuk
beribu-ribu tahun, buat anak cucu kita kedepan.

> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>

Wassalam kembali.
Terimakasih atas masukan bapak.
MMA.


>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke