----- Original Message ----- From: Yayasan Fajar Melati <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, December 22, 2000 5:30 AM Subject: BCA Meledak Liem Kian Berjaya > BCA MELEDAK LIEM KIAN BERJAYA > (Resensi buku oleh Umar Abduh, Aktivis LPPI - Jakarta) > > Sebuah buku yang coba menguak tabir di balik kebencian masyarakat terhadap > etnis Cina. > > KASUS peledakan BCA 1984 mewakili jeritan rakyat miskin yang tertindas. > Berbeda dari berbagai kasus peledakan belakangan ini yang digerakkan oleh > kepentingan politik yang sama sekali tidak menyentuh kepentingan rakyat. > > Peledakan BCA 1984 berkaitan dengan kasus penembakan brutal di Tanjung > Priok, 12 September 1984. Namun, sesungguhnya, yang menjadi alasan utama > terjadinya kasus peledakan BCA adalah kecemburuan sosial, kesenjangan > ekonomi, akibat perlakuan pemerintah Orde Baru yang sangat memanjakan etnis > Cina. Apalagi, ketika itu, rezim Orde Baru sangat anti-Islam, melalui > berbagai kebijakannya yang sangat menyakitkan. > > Bagi Rachmat Basoeki Soeropranoto (RBS) --penulis buku ini sekaligus salah > satu tokoh peledakan BCA 1984-- peristiwa ini merupakan yang kedua. > Sebelumnya, RBS terlibat kasus kasus "Gerakan 20 Maret" bersama Abdul Qadir > Djaelani dan Amir Wijaya (perakit bom pada kasus peledakan BCA 1984). RBS, > yang kemudian divonis 3 tahun penjara, pada tahun 1978 sudah meneriakkan > sikap diskriminatif Orde Baru yang memanjakan Cina, dengan semboyan: > "Jadikan Pribumi Tuan di Negeri Ini". > > Amir Wijaya bahkan sudah memendam kebencian serupa sejak mahasiswa. Bersama > Muhammad Umar Alkatiri, yang juga mahasiswa, mereka sudah gemar melakukan > eksperimen merakit bom sejak 1981. Amir Wijaya adalah "ahli kimia" dan Umar > Alkatiri "ahli elektronik". Amir dan Umar saling melengkapi. > > Dari tangan mereka lahir sejumlah "petasan besar" yang dibuat dengan merogoh > kocek sendiri. Maka, tak mengherankan jika yang terjadi kemudian, yakni > peledakan BCA pada 1984, dapat dikatakan bukanlah gerakan terorisme yang > profesional. Melainkan, cuma sebuah gerakan emosional untuk menyalurkan > jeritan rakyat tertindas, yang dilakukan secara amatiran. > > Yang menarik, setelah peledakan BCA Pecenongan dan BCA Gajah Mada pada 4 > Oktober 1984, Orde Baru justru semakin menepikan Islam. Bahkan, Presiden > Soeharto memanjakan pengusaha yang umumnya WNI keturunan Cina dengan > berbagai kemudahan kredit ratusan trilyunan rupiah seperti KLBI (Kredit > Likuiditas Bank Indonesia) --yang terbukti kemudian menghancurkan > perekonomian nasional. > > Dengan menerapkan kebijakan yang diskriminatif, Soeharto bisa menggenggam > kekuatan strategis (ekonomi dan moneter), untuk selanjutnya ia bisa > "membeli" apa saja termasuk kekuatan militer, partai politik, hingga ulama > sekalipun. Bahkan, ia juga bisa menjadikan kroni dan anaknya menjadi > konglomerat yang kini seperti kian bikin masalah saja. > > Soeharto sesungguhnya adalah "Bapak Konglomerat" Indonesia. Melalui > kekuasaannya, lahirlah konglomerat Liem Sioe Liong (Soedono Salim), Lim Tek > Siong (Sjamsul Nursalim), dan Prajogo Pangestu. Melalui mereka, Soeharto > mengejar pertumbuhan ekonomi, sementara pengembangan potensi ekonomi rakyat, > yang mayoritas Muslim, tetap terpinggirkan. Ironisnya, melalui konglomerat > ciptaannya pulalah, ia jatuh dari singgasananya. > > Soeharto "boleh" tersungkur, tapi tidak Om Liem. Liem bahkan sudah tahu > bahwa krisis akan terjadi. Dan ia sudah mengantisipasi. Taipan ini dengan > piawai pula mengoperkan saham-saham Bogasari dan Indofood ke PT QAF. Ini > berarti Liem Sioe Liong telah mengkhianati Soeharto, meninggalkan Soeharto > sendirian dihujat bangsa sendiri. > > Bukan cuma Liem. Di Cina, Sjamsul Nursalim juga sudah punya beberapa pabrik > ban dan kertas. Bahkan, mengingat situasi dan kondisi di Indonesia yang tak > lagi kondusif untuk menjalankan roda usaha, Sjamsul secara bertahap > memindahkan seluruh strategic bussiness di bawah Grup Gajah Tunggal ke > "kampung halamannya" di Cina. > > Pelajaran yang dapat dipetik, ledakan yang diciptakan RBS dan kawan-kawan > untuk melawan dominasi ekonomi etnik Cina tidak memberi pengaruh apa-apa > kepada penguasa, termasuk pemerintahan Gus Dur. Barangkali, telinga para > penguasa itu tidak mampu menangkap suara ledakan yang dihasilkan oleh > "petasan besar". Kemungkinan, yang mereka butuhkan bukan sekedar "petasan > besar", melainkan sebuah upaya yang jauh lebih revolusioner. > > Judul Buku : Kasus Peledakan BCA 1984: > Menggugat Dominasi Ekonomi Etnik Cina di Indonesia. > Penulis : Rachmat Basoeki Soeropranoto > Penerbit : Fame Press, Jakarta, Oktober 2000, 192 halaman. > Harga : Rp 24.000,- (luar Jakarta ditambah ongkos kirim) > Tel. : 021 - 831 8973 > > Sumber: Majalah GAMMA, 20-26 Desember 2000, hal. 96. > > > ______________________________________________ > FREE Personalized Email at Mail.com > Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
