ini berita boong, kenapa kalau masalahnya mewakili
orang miskim bukan sistemnya langsung, bukan birokratnya
langsung. Ini benar-benar ngabaran orang-orang berwatak
rasis dan fasis semogo orang-orang islam di ampuni..amieen

MYP


----- Original Message -----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 23 Desember 2000 0:08
Subject: [Kuli Tinta] Fw: BCA Meledak Liem Kian Berjaya


>
>
> ----- Original Message -----
> From: Yayasan Fajar Melati <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Friday, December 22, 2000 5:30 AM
> Subject: BCA Meledak Liem Kian Berjaya
>
>
> > BCA MELEDAK LIEM KIAN BERJAYA
> > (Resensi buku oleh Umar Abduh, Aktivis LPPI - Jakarta)
> >
> > Sebuah buku yang coba menguak tabir di balik kebencian masyarakat
terhadap
> > etnis Cina.
> >
> > KASUS peledakan BCA 1984 mewakili jeritan rakyat miskin yang tertindas.
> > Berbeda dari berbagai kasus peledakan belakangan ini yang digerakkan
oleh
> > kepentingan politik yang sama sekali tidak menyentuh kepentingan rakyat.
> >
> > Peledakan BCA 1984 berkaitan dengan kasus penembakan brutal di Tanjung
> > Priok, 12 September 1984. Namun, sesungguhnya, yang menjadi alasan utama
> > terjadinya kasus peledakan BCA adalah kecemburuan sosial, kesenjangan
> > ekonomi, akibat perlakuan pemerintah Orde Baru yang sangat memanjakan
> etnis
> > Cina. Apalagi, ketika itu, rezim Orde Baru sangat anti-Islam, melalui
> > berbagai kebijakannya yang sangat menyakitkan.
> >
> > Bagi Rachmat Basoeki Soeropranoto (RBS) --penulis buku ini sekaligus
salah
> > satu tokoh peledakan BCA 1984-- peristiwa ini merupakan yang kedua.
> > Sebelumnya, RBS terlibat kasus kasus "Gerakan 20 Maret" bersama Abdul
> Qadir
> > Djaelani dan Amir Wijaya (perakit bom pada kasus peledakan BCA 1984).
RBS,
> > yang kemudian divonis 3 tahun penjara, pada tahun 1978 sudah meneriakkan
> > sikap diskriminatif Orde Baru yang memanjakan Cina, dengan semboyan:
> > "Jadikan Pribumi Tuan di Negeri Ini".
> >
> > Amir Wijaya bahkan sudah memendam kebencian serupa sejak mahasiswa.
> Bersama
> > Muhammad Umar Alkatiri, yang juga mahasiswa, mereka sudah gemar
melakukan
> > eksperimen merakit bom sejak 1981. Amir Wijaya adalah "ahli kimia" dan
> Umar
> > Alkatiri "ahli elektronik". Amir dan Umar saling melengkapi.
> >
> > Dari tangan mereka lahir sejumlah "petasan besar" yang dibuat dengan
> merogoh
> > kocek sendiri. Maka, tak mengherankan jika yang terjadi kemudian, yakni
> > peledakan BCA pada 1984, dapat dikatakan bukanlah gerakan terorisme yang
> > profesional. Melainkan, cuma sebuah gerakan emosional untuk menyalurkan
> > jeritan rakyat tertindas, yang dilakukan secara amatiran.
> >
> > Yang menarik, setelah peledakan BCA Pecenongan dan BCA Gajah Mada pada 4
> > Oktober 1984, Orde Baru justru semakin menepikan Islam. Bahkan, Presiden
> > Soeharto memanjakan pengusaha yang umumnya WNI keturunan Cina dengan
> > berbagai kemudahan kredit ratusan trilyunan rupiah seperti KLBI (Kredit
> > Likuiditas Bank Indonesia) --yang terbukti kemudian menghancurkan
> > perekonomian nasional.
> >
> > Dengan menerapkan kebijakan yang diskriminatif, Soeharto bisa
menggenggam
> > kekuatan strategis (ekonomi dan moneter), untuk selanjutnya ia bisa
> > "membeli" apa saja termasuk kekuatan militer, partai politik, hingga
ulama
> > sekalipun. Bahkan, ia juga bisa menjadikan kroni dan anaknya menjadi
> > konglomerat yang kini seperti kian bikin masalah saja.
> >
> > Soeharto sesungguhnya adalah "Bapak Konglomerat" Indonesia. Melalui
> > kekuasaannya, lahirlah konglomerat Liem Sioe Liong (Soedono Salim), Lim
> Tek
> > Siong (Sjamsul Nursalim), dan Prajogo Pangestu. Melalui mereka, Soeharto
> > mengejar pertumbuhan ekonomi, sementara pengembangan potensi ekonomi
> rakyat,
> > yang mayoritas Muslim, tetap terpinggirkan. Ironisnya, melalui
konglomerat
> > ciptaannya pulalah, ia jatuh dari singgasananya.
> >
> > Soeharto "boleh" tersungkur, tapi tidak Om Liem. Liem bahkan sudah tahu
> > bahwa krisis akan terjadi. Dan ia sudah mengantisipasi. Taipan ini
dengan
> > piawai pula mengoperkan saham-saham Bogasari dan Indofood ke PT QAF. Ini
> > berarti Liem Sioe Liong telah mengkhianati Soeharto, meninggalkan
Soeharto
> > sendirian dihujat bangsa sendiri.
> >
> > Bukan cuma Liem. Di Cina, Sjamsul Nursalim juga sudah punya beberapa
> pabrik
> > ban dan kertas. Bahkan, mengingat situasi dan kondisi di Indonesia yang
> tak
> > lagi kondusif untuk menjalankan roda usaha, Sjamsul secara bertahap
> > memindahkan seluruh strategic bussiness di bawah Grup Gajah Tunggal ke
> > "kampung halamannya" di Cina.
> >
> > Pelajaran yang dapat dipetik, ledakan yang diciptakan RBS dan
kawan-kawan
> > untuk melawan dominasi ekonomi etnik Cina tidak memberi pengaruh apa-apa
> > kepada penguasa, termasuk pemerintahan Gus Dur. Barangkali, telinga para
> > penguasa itu tidak mampu menangkap suara ledakan yang dihasilkan oleh
> > "petasan besar". Kemungkinan, yang mereka butuhkan bukan sekedar
"petasan
> > besar", melainkan sebuah upaya yang jauh lebih revolusioner.
> >
> > Judul Buku : Kasus Peledakan BCA 1984:
> > Menggugat Dominasi Ekonomi Etnik Cina di Indonesia.
> > Penulis : Rachmat Basoeki Soeropranoto
> > Penerbit : Fame Press, Jakarta, Oktober 2000, 192 halaman.
> > Harga : Rp 24.000,- (luar Jakarta ditambah ongkos kirim)
> > Tel. : 021 - 831 8973
> >
> > Sumber: Majalah GAMMA, 20-26 Desember 2000, hal. 96.
> >
> >
> > ______________________________________________
> > FREE Personalized Email at Mail.com
> > Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup
>
>
>
> ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke