Kekuatan "Status Quo" Makin Menguat Jakarta, Kompas Mereka yang memegang kekuasaan saat ini sebenarnya tidak dapat diharapkan untuk menjalankan amanat reformasi. Bahkan, kekuatan pro-status quo-diartikan sebagai kekuatan yang pro dan terkait rezim Orde Baru-kini semakin kuat dalam percaturan kekuasaan. Ini bisa terjadi, karena kekuatan pro-reformasi belum terkonsolidasi sekuat kekuatan pro-status quo. Persoalan itu mengemuka dalam Kampanye Rembuk Nasional (KRN) di Jakarta, akhir pekan lalu. "Apakah mereka yang berkuasa saat ini bisa diharapkan untuk menjalankan amanat reformasi? Jawabnya, tidak. Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid-Red) tidak pernah berniat mengurangi peran TNI (Tentara Nasional Indonesia). Sikapnya terhadap Soeharto pun tidak jelas," tegas Eros Djarot dari Poros Indonesia yang tampil berbicara pada forum tersebut. Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Budiman Sudjatmiko, pengamat politik Arbi Sanit, aktivis prodemokrasi Ditta Indah Sari, dan sejumlah peserta KRN mengakui, kekuatan pro-status quo kini semakin menguat. "Bahkan, sekarang ini sisa-sisa kekuatan Orde Baru sudah tidak ada lagi. Bukan karena habis, namun karena kekuatan itu kini bukan sisa lagi, melainkan sudah tegak kembali, serta menguasai hampir semua institusi negara," tandas Ditta. Salah satu bukti menguatnya kekuatan pro-status quo, dijelaskan Arbi Sanit, adalah kegagalan Presiden Abdurrahman Wahid memilih pimpinan TNI yang kelompok reformis. Akibat tekanan dari 45 jenderal, Presiden akhirnya memilih pimpinan TNI yang dinilai masyarakat lebih kuat warna status quo-nya. Budiman mengakui, kekuatan pro-reformasi sekarang semakin gagap menghadapi perkembangan kekuatan pro-status quo. Kekuatan Orde Baru, walaupun sudah "digempur" oleh kekuatan pro-reformasi, bukan sekadar tetap bertahan, tetapi semakin menambah kekuatannya. Golkar sebagai representasi kekuatan lama, kini semakin menguasai kepemimpinan di daerah. Bila Presiden Abdurrahman Wahid dianggap sebagai bagian dari kekuatan pro-reformasi-dengan berbagai kekurangannya-ternyata tidak mampu membendung kembalinya kekuatan pro-status quo. "Gus Dur lebih banyak bermain one man show. Sedangkan Megawati Soekarnoputri (Wakil Presiden-Red) tak pernah memegang bola. Kalau reformasi menghadapkan kekuatan sipil atau civil society dengan state, ini lebih sulit lagi. Sebab Gus Dur kini, adalah bagian dari state," papar Budiman lagi. Diungkapkan Arbi Sanit, menguatnya kekuatan pro-status quo itu, karena kekuatan pro-reformasi cenderung sibuk dengan kekuasaan serta jabatan. Akibatnya, agenda reformasi dikompromikan untuk mendukung kepentingan jabatan dan kekuasaan tersebut. Padahal, sebenarnya pro-status quo yang murni tidak terlalu besar dalam masyarakat politik. Arbi menyebutkan, kelompok pro-status quo itu hanya sekitar 10 persen dari masyarakat politik. Tetapi kekuatan ini semakin besar, sebab didukung kelompok kompromistis yang mencapai 40-50 persen dan kelompok munafik (sekitar 20-30 persen). Sedangkan kekuatan pro-reformasi hanya 10 persen dari masyarakat politik. Jumlah ini masih ditambah dengan kelompok demokratis lugu yang besarnya cuma sekitar lima persen. Sementara itu, Forum Mahasiswa Anti Orde Baru (Formaba) dalam pernyataan akhir tahun, akhir pekan lalu, meminta agar pemerintahan Abdurrahman Wahid-Megawati mengambil langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi kekuatan-kekuatan Orba berkuasa kembali. Pemerintahan Wahid-Mega mulai saat ini harus mengambil garis tegas dengan kroni-kroni Orba, dan jangan lagi melakukan kompromi atau politik akomodatif. Pernyataan Formaba itu sejalan dengan pemikiran yang disampaikan Ketua Badan Pengurus PBHI Hendardi, dan aktivis PRD Jacobus Kurniawan, yang menilai bahwa pemerintahan Abdurrahman Wahid selama ini terlalu melakukan politik akomodatif terhadap sisa-sisa rezim Orba, padahal politik akomodatif itu tidak membantu apa-apa bahkan kekuatan sisa Orba. (tra/oki) ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
