> 
> Tidak bisa dipungkiri, mesin uang Orba muncul karena
> KKN. Mereka
> yang dulu berusia 25 tahunan dengan satu celana
> ketika mengawali
> karirnya kini tentu saja telah berusia 57 tahun
> dengan kekayaan
> yang luar biasa. Kredit macet luar biasa panjang
> daftarnya. Usia
> disekitar itu kebawah hampir mendominasi penjabat
> dan pengusaha.
> Dengan kata lain, mereka besar selama Orba. Apakah
> semua itu
> diperoleh dengan cara yang wajar? Itulah masalahnya.
> Tubuh tidak
> akan sakit dipegang kalau tidak luka, demikian
> pepatah
> mengatakan.

Seorang bebotoh punya ayam aduan, yang siap
ditarungkan di gelanggang. Sejak awal ia akan membuat
statemen yang mendeskreditkan ayam aduan lawan.
Seperti, 'ah.. ayam sayur tuh !', 'Boro-boro 5 ronde,
sampe jam 20:04, lha bentar lagi juga koit', 'Liat gak
legitimet babar pisan'. Underestimate, lah.

Ayam dilepas, dan tarung pun terjadi. Ada pula mercon
dilepas. Maka ketika ayam lawan celingukan, karena
terganggu oleh letupan mercon yang membuatnya ilang
konsentrasi, maka bebotoh pun keluarkan komentar 'Tuh,
mana bisa ia menang lawan ayam gue'. Dan ditambah
ketawa 'Hua... ha... ha... ha....'

Sebagian penonton mengangguk-angguk. Sebagian penonton
lain menggumam, 'Curang, ngagetin pake mercon'.

Di panggung politik, jelas bukan panggung ayam aduan.
Ada pihak yang memperoleh hak konstitusional untuk
memanajemeni administrasi negara, untuk membuat
sebagian warga bangsa ini bisa hidup tenang, bekerja
dalam produktivitas yang tinggi, untuk mendapatkan
sekedar kesejahteraan, kalau tak bilang kemakmuran.

Sayang, pemerintah yang sudah repot-repot dibiayai
dengan pemilu mahal, pengorbanan segenap rakyat
sepanjang tiga dasawarsa, dengan puncak-puncak
mendebarkan dengan tewasnya para syuhada, tidak hanya
diwarisi oleh bangunan negara dengan konstruksi
ancur-ancuran, yang boro-boro untuk membuatnya menjadi
sebuah bangunan kekar, bahkan sekedar mengusung dan
membersihkan reruntuhannya saja sudah repot, masih
juga harus membagi perhatiannya untuk mengurus
orang-orang cerewet dan gangguan orang-orang yang
lebih suka rezim baru ini runtuh, agar masa lalunya
tak tersentuh.

Ketika bom-bom meleduk, maka pihak-pihak tersebut
lebih suka mengeluarkan komentar 'pemerintah tak mampu
menumbuhkan rasa aman', dibanding 'sepatutnya kita
ikut membantu pemerintah menumbuhkan rasa aman'.

Bagaimana dengan komentar Fuad dan tepisan Akbar ?

Komentar Fuad bisa dianggap sebagai luapan kepuasan,
bahwa apa yang telah jadi dugaan awalnya, bahkan
ketika bom itu sendiri belum meleduk, bahwa
'pemerintah terbukti tak mampu menumbuhkan rasa aman'.
Dia lebih banyak menilai ke sisi pemerintah yang harus
repot untuk menemukan siapa pembawa repot, yang
sekaligus agar tumbuhnya rasa aman, dibanding menilai
kepada pihak pengebom yang masih begitu telengas
melakukan perbuatan biadab tersebut.

Tepisan Akbar lebih bernuansa kepada upaya untuk
membuyarkan tudingan dari banyak orang, yang
berdasarkan berbagai catatan sebelumnya, menjadi lebih
lengkap, untuk ditudingkan kepada pihaknya, Golkar.
Begitu banyak hal-hal yang terkumpul, antara lain
penguatan todongan kepada pemerintah untuk mengiyakan
Muladi, Sabirin, dan masih banyak kasus lain. Bom di
malam Natal jauh lebih gampang untuk dimasukkan dalam
keranjang 'bukti Golkar' ketimbang keranjang lain.

Tapi apa ya bisa segampang itu membilas kotoran yang
sedemikian dekil sepanjang sekian dasawarsa itu? Jelas
percuma saja.


=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Photos - Share your holiday photos online!
http://photos.yahoo.com/

................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke