Fukuoka Kitaro
> mBin,
>
> Aku barusan nonton tayangan Dialog Beranda (DB) di TPI.
> dan dengan ini secara tulus aku (yang kecil ini) me-
> nyampaikan rasa hormat dan penghargaan kepada
> Bung Ulil, dalam acara DB tadi. Bung telah menunjukkan
> lebih mementingkan Indonesia daripada sekedar loyalitas
> dan penentangan, meski harus dikeroyok 3 -:))).
>
MYP:
Satu hal yang bisa anda tahu Bung Ullil itu kan intelektual
NU juga, banyak aktif di ISAI dia.
Fukuoka Kitaro:
> Rupanya memang kusut sudah permasalahan bangsa
> ini. Mega menyatakan "bangsa bunuh-bunuhan" di
> Malaysia, dijadikan bahan tertawaan dan point penyalahan
> di DB (oleh Bapak SBP). Mahasiswa sangat menginginkan
> pergantian pimpinan nasional. Juga wakil HMI telah menganggap
> pemerintahan GD tlah usai. Dan sekali lagi "Bravo" Bung Ulil
> pertanyaan Bung tentang kesiapan mendapatkan pengganti
> GD, seandainya tumbang (menurut ku) tetap menggantung!
> tak jelas jawabannya. Atau memang tidak mampu dijawab?
MYP:
Sri bintang itu payah tuh orang biar diangap paling oposisi
dari para partai yang memang ngak ada oposisi di DPR
ia berlagak MEGALOMANIA agar dibilang sebenarnya
gua ini yang Reformis Sejati. (bisa itu bung)
Saya pikir sri binyang itu sendiri ngak bisa mengatur mantan induk
semangnya di PPP. Jadi ngak bisa juga ngasih solusi
kongkrit yang memang udah banyak dibahas oleh DPR
dan Pemerintah.
Fukuoka Kitaro:
> Selain malah menyerahkannya kepada Allah (pernyataan
> akhir SBP), hehehe lha menyerahkan kepada Allah kok
> jalan yang akan ditempuh keluar dari koridor dari Nya?
MYP:
Maklum lah, masih dekat juga dengan watak konserpatifnya.
Jadi ngak pakai rasionalitas lagi. Sehingga latah masalah
kekuasaan bawa-bawa nama ALLAH. Bintang-bintang
Luh kasih tahu tuh PPP, yang udah pada diracuni sama
PBB dan orang-orang ORBA.
> Fukuoka Kitaro :
> Dan dari kampung Komplek Banyumanik (Semarang) aku
> punya cerita kecil, tentang seorang tokoh politik tingkat
> Kecamatan. Yang dalam setiap kesempatan selalu menyalahkan
> pemerintah. Sampai-sampai masalah pembuangan sampah
> pun disalahkan pemerintah daerah yang tidak memberikan
> pelayanan yang baik. Sampai-sampai ada orang setengah
> tua yang merasa tidak enak, bertanya: "Mas-mas, kalau
> dipikir di kompleks ini siapa yang menghasilkan SAMPAH?
> Pemerintah atau Kita? Kalau pemerintah, memang kita
> wajib minta pertanggung-jawabannya, kalau sampah
> itu mengganggu masyarakat. Tetapi kalau sampah-2
> itu hasil rumah tangga masyarakat, apa fair kita menyalahkan
> melulu pemerintah?"
MYP:
Ada beberapa kasus dibeberapa Negara tentang
kejatuhan sebuah negara kadang-kadang
bisa juga dimulai dari isu-isu kecil dalam masyarakat.
Kedua mengenai peran pemerintah (Abdi) dan rakyat
adalah ada pada hak dan kewajiban. Apa Kewajiban rakyat
Membayar Pajak, pajak sampah, pajak bikin KTP dll
nah HAK RAKYAT juga harus ada timbal baliknya;
selama pemerintah belum bisa menyelesaikan
masalah HAK dan KEWAJIBAN wajar menurut saya
ada gejolak dalam masyarakat. Dan itu bagian dari
Demokrasi.
Nah sekarang ini pemerintah sedang menggalakkan
PAJAK PENDAPATAN, karena pemerintah peningalan
ORBA ini udah "ngak mampu" mengambil subsidi
dari kekayaan MINERAL. Apalagi sekarang ini sudah
dipakai peraturan OTONOMI DAERAH. Keributan nantinya
tidak lagi dipusat kekuasaan berpindah secara sporadis
di wilayah-wilayah yang mau menjadi raja-raja kecil tersebut. yang mearanya
di pusat yang hanya dapat
hidup dari pajak rakyatnya karena udah ditilep proyek
proyeknya sama pemda-pemda setempat.
Nah selama pemilihan pemimpin wilayah dilakukan semberono, system dan
keadilan tidak ada yang ada
hanyalah kesakit-hatian dan keributan.
NAH BICARA SADAR baik rakyat (yang kelewat sabar)
dan PEMERINTAH masih sama-sama harus jujur
sedang mencari-cari, menyatukan berbedaan dan
persamaan, menyulam kemunafikan dengan kejujuran
yang sampai saat ini belum ada ujung yang samar-samar
bentuknya tentang masa depan Indonesia dalam masa
transisi ini,
atau jika dalam KIMIA kita semua sedang meracik
unsur yang tepat agar keduanya sama-sama senang.
Dan dapat roti yang sama walaupun roti yang tidak mewah
tetapi bisa sama-sama bisa kita rasakan, bagus jika roti
yang kita dapati juga roti yang dari produk paling bagus
DAN HAK serta KEWAJIBAN dari kedua belah pihak akhirnya dapat
kita penuhi, kapan hal itu terencana?, Kapan yang kaya
mau memberikan sebagian besar kekayaannya bagi
yang miskin?, Kapan anak-anak kita dan cucu kita kelak
dapat sekolah hingga perguruan tinggi tanpa dipungut
biaya?, kapan penganguran dan anak terlantar dipelihara
(subsidi) negara? Kapan anak-anak kita dapat menikmati
pemandangan yang indah dan udara yang segar serta
alam yang asri? Kapan anak-anak kita dapat bermain dan
berolah raga serta berkesenian sesuai dengan bakatnya
dan mendapatkan fasilitas negara dalam bentuk taman
bermain, taman bacaan, dan fasilitas olahraga?
Kapan anak-anak Jenius kita dapat dibiayai negara dan
disekolahkan di negara maju? Sedangkan kewajibanya
membayar pajak semua rakyat juga harus membayarnya?
Mampukah mereka membayar? mengapa mereka
tidak mampu membayar? lalu salahkah jika mereka
juga bermimpi hidup bukan dialam Indonesia yang
tidak menentu ini? Bukankah rakyat kita orang yang patuh dalam membayar
pajak? Bukankah pajak terbesar
dihasilkan klas menegah dari masyarakat? bukankah
para Konglomerat Itu membebankan biaya pajak mereka
pada produk yang akhirnya membebankan rakyat menegah dan kecil juga?
Akhirnya seluruh rakyat harus berfikir sampai kesana
dan mudah-mudahan otonomi adalah bagian yang
akan mengarah kesana? Sehingga keadilan sosial
dari kemakmuran di alam Indonesia yang berlimpah
ini dapat kita rasakan bersama ...Amieen.
MYP
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com