------Original Message------
From: "My Populis" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: January 18, 2001 3:28:14 PM GMT
Subject: Re: [Kuli Tinta] FW: Umar Abduh, Bongkar Eksekutor Bom Natal


DATA ANDA BANYAK YANG SALAH.

Ambifalen analisa anda, disatu sisi anda hanya
melihat tokoh NH (Siapapun orangnya) entah
benar atau salah ia konseptornya.

Ada data yang yang anda sampaikan terlihat
ada penyimpangan. Lalu buat apa mereka
membenturkan umat islam dan tentara?

Lalu data tentang beberapa jenis senjata Cangih
yang anda sebutkan apakah rakyat awam mengerti?

Saya pikir kenapa logika anda tidak dibalik seperti
logika polisi saja. Mengapa tidak merunut dari
awal ledakan mungkin ini lebih jelas dan ilmiah.

Lalu anda menjelaskan siapa pihak yang memperintahkan
NH, kenapa bukan data ini yang anda kemukakan.
Bukankah pasti ada penghubung diantara tiga tokoh
kalaupun data yang anda sampaikan itu benar.

Dalam sejarahnya tidak ada pihak islam melawan tentara
Tetapi Islam dipakai tentara itu banyak contoh kasusnya?
Islam yang dibantai Tentara-pun banyak kasusnya?
Saya sangsi tentang data anda bahwa NH berkeinginan
membentrokan ISlam dengan Tentara.

Tetapi jika data anda ingin NH (atau siapapun namanya)
berkeinginan untuk membuat keos jelas. Strategi keos
dalam intelijen itu dipelajari.

Sebagai data anda? Dulu pada jaman Suharto strategi
Keos ini sangat dibutuhkan untuk menghalau segala
anasir yang berupaya merorong pemerintahan.
Misalnya pemberian jaket kuning secara gratis
kepada rakyat di Senen, Pada pristiwa MALARI.

Kemenangan Rezim Soeharto adalah ia membabat
semua elemen/organisasi yang berbeda dengan
penguasa. Sehingga jika ada penindasan dirakyat
maka rakyat mudah untuk dibentrokan.

Sebagai sebuah contoh, yang pernah saya buat
oleh beberapa teman dalam melakukan investigasi kasus
priuk adalah; satu memang ada upaya dimasukan
orang/profokator dalam kalangan santri dimushola itu?
Dan memenas-manaskan tentang isu kotoran di Mushola.
Kedua, ada tokoh profokator yang disusupi di
massa sehingga seorang profokator ini dapat
memancing amarah massa untuk membakar
kendaraan milik aparat TNI. Hal inilah yang akhirnya
membakar emosi aparat tentara dalam tanda kutip.
Penyogokan beberapa sangsi kunci oleh beberapa oknum.

Memanasnya isu dalam masyarakat priuk tersebut
tidak mengagetkan pihak petinggi TNI. Tindakan
itu sudah diketahui jauh-jauh hari, malah Tri sutrisno
mengetahui sebelum pembantaian dijalankan
lewat sebuah Radiogram dan memerintahkan untuk
segera "diselesaikan".

Jadi menurut saya jangan kaburkan dulu informasi
tersebut. Yang pasti oknum aparat petinggi TNI terlibat
dan saya percaya itu, berdasarkan bukti lapangan
yang dapat menghubungkan beberapa jaringan
dibeberapa kota tersebut. Kalaupun Oknum itu
menggunakan advonturir politik itu wajar-wajar saja.

TAMBAHAN:
ISU YANG SAMA DAPAT DILIHAT DALAM SEJARAHA TIMOR LOROSAE.
DULU SETIAP ADA GERAKAN "PERLAWANAN" SELALU DICAP GPK, SEMENTARA PADA SAAT
YANG SAMA SELALU ADA ORANG YANG "DIUTUS" UNTUK MERUSUH, SEHINGGA DAPAT
DIPAKAI SEBAGAI LEGALISASI KEHADIRAN ABRI.

SAMA JUGA SETELAH REFERENDUM.
MILISIA ENTAH "BAYARAN" ENTAH "PROFESIONAL TERLATIH" DITUGASKAN UNTUK
MEMBAKAR, MEMBUNUH. INI KAN MEMALUKAN INDONESIA.
SIAPA HAYO DALANGNYA? TAHU SENDIRILAH.

DI ACEH DAN PAPUA BARAT (TIMIKA) DAN MALUKU SAMA SAJA.
BAHWA ADA DALANG DIBELAKANG SEMUA ITU, SEMUA ORANG TAHU.
TETAPI YANG BERANI BERKOAR DAN MENANGKAP.... INI PERLU SUPERMAN.
LAH KITA PUNYANYA BARU ORANG YANG SUKAN MAKAN SUPERMI SIH....

Sebaiknya kita simak peryataan Kapolri RI saja,
bahwa jaringan pemboman ini adalah 3 lapis.

1. Lapisan pertama (yang mungkin kamu ungkapkan)
Dan polisi baru sampai sini dan tidak mau gegabah.

2. Lapisan Kedua yang diduga sebagai konseptor.
Hartono dan Prabowo dan kaki tangannya Fadli Jon.
Yang menggagetkan pihak intelijen Kepolisian sehingga
ia tahu data yang dilaporkan kepihak Presiden. Dan
mengapa begitu cepatnya bantahan dikeluarkan
oleh ketiga orang tersebut.
(artinya ada pihak dalam TNI/POLRI yang bermain)
Inipun menurut Kapolri walaupun ia tidak mengungkapkan
namanya masih dianggap bukan penentu program
Keos itu?

3. Adalah Otak /tinktanknya. Inilah kunci yang sebenarnya
yang juga bisa membongkar seluruh skenario
gonjang-ganjingnya keadaan dari mulai orba samapai
sekarang.

Jadi kalau anda mengeluarkan data dibawah
ini sudah terlambat
masyarakat udah ketimbang jauh mendapat informasi
yang lebih luas.

NB:
Tetapi yang memuaskan hati saya bahwa diera Gusdur
rakyat tidak mudah diprofokasi karena rakyat sudah
sedikit banyak (bukan banyak) yang melek politik
dan organisasi. Dengan alat organisasi perbedaan itu
dapat diarahkan dan bentuk profokator ceostik dapat
diredam dalam rangka gerakan massa, dan saling
menjaga dan bertanggung jawab.

MYp

----- Original Message -----
From: idb <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 18 Januari 2001 9:47
Subject: [Kuli Tinta] FW: Umar Abduh, Bongkar Eksekutor Bom Natal


> Semoga tidak menambah heboh ...
>
> -------------
>
> Dari ERAMUSLIM.COM
>
> Mantan Tapol Kasus Imran/Woyla 1981, Umar Abduh, Bongkar Eksekutor Bom
Natal Tgl. publikasi: 16/1/2001 09:08 WIB Embrio Tragedi Lampung Kedua
>
> Oleh Umar Abduh
>
> Salah seorang kawan saya bercerita dengan perasaan gundah gulana.
Pasalnya, menjelang Lebaran lalu anak lelakinya yang menuntut ilmu di salah
satu pesantren di Jawa Barat, mengajukan pertanyaan yang
> tergolong aneh: "Pak, bagaimana kalau saya membunuh tentara?"
>
> Sang bapak tentu saja tersentak dengan pertanyaan seperti itu. Belum
sempat pertanyaan aneh itu dijawab, sang anak sudah nyerocos tentang
berbagai hal yang tak jauh dari tema jihad. "Saya ingin
> berjihad. Kalau tidak ke Ambon, ya di sini saja."
>
> Menurut sang anak, teman-temannya sesama santri sudah siap jihad. Begitu
juga dengan masyarakat sekitar pesantren, sudah siap angkat senjata, siap
melakukan penyerangan terhadap tentara. Selain itu,
> mereka juga sudah mengetahui adanya rencana peledakan (yang kemudian
terbukti terjadi di malam Natal), sejak jauh hari dan bahkan diminta
partisipasi aktifnya oleh seseorang. Berdasarkan penuturan
> sang anak, bisa dirasakan adanya suasana yang sedemikian panas di
lingkungan pesantren tertentu di Jawa Barat.
>
> Suasana sangat panas di sejumlah pesantren itu juga digambarkan oleh
beberapa staff sebuah yayasan yang menaungi lembaga penelitian Islam di
Jakarta, ketika mereka pulang kampung seminggu menjelang
> Idul Fitri 1421 H lalu. Bahkan saking panasnya, mereka yang merasa sudah
siap jihad itu dengan agak gusar sempat mempertanyakan sejauhmana kesiapan
orang Jakarta untuk berjihad dan mati syahid.
>
> Memang pada akhirnya mereka tidak melakukan apa-apa, tidak membunuh
tentara dan tidak pula terlibat upaya peledakan di malam Natal lalu, namun
mereka pada saat itu, setidaknya seminggu menjelang Idul
> Fitri, sudah dalam keadaan siap-siaga penuh: menunggu komando dari
seseorang untuk bergerak.
>
> Suasana panas dan siap menunggu komando itu, setidaknya terjadi di
beberapa pesantren di Jawa Barat, khususnya beberapa pesantren di sekitar
Garut, Tasikmalaya, Ciamis sampai ke arah Banjar.
>
> Di salah satu pesantren di sekitar Garut, para santrinya bahkan sudah
mendapatkan semacam brosur (dokumen) tentang jenis-jenis senjata yang akan
dipasok kepada mereka, dalam rangka melakukan
> perlawanan terhadap tentara. Termasuk dokumen tentang rencana gerakan yang
akan dilakukan kelak. Para santri di pesantren itu yang semula awam tentang
jenis-jenis senjata, ketika itu justru nampak
> faseh menjelaskan jenis-jenis dan fungsi senjata, yang panjang, yang
pendek, yang canggih, standar Jerman atau bukan, dan sebagainya.
>
> Jika kasus peledakan malam Natal tidak jelas sasarannya, karena hampir
seluruh ledakan terjadi di luar areal gereja, untuk kasus ini begitu jelas
sasarannya yaitu tentara. Nampaknya ada upaya
> (skenario) menghadapkan komunitas Islam  pergerakan (dan komunitas
presantren) dengan tentara.
>
> Tiga Bulan Sebelum Bom Natal Sekitar tiga bulan sebelum kasus peledakan
malam Natal terjadi, seorang lelaki muda berinisial NH, kita sebut saja
demikian, nampak rajin melakukan kunjungan ke berbagai
> kelompok dan perorangan yang pernah terlibat dalam pergerakan (Islam) lama
maupun baru, terutama di kawasan Jabotabek. Mata-rantai NH adalah AM dan GT
yang merupakan tokoh jalur struktural yang sudah
> memisahkan diri dari induknya yakni NII faksi TRB dan Dd, yang berbasis di
Garut.
>
> Selain me-lobby ia juga menawarkan gagasan melakukan perlawanan
(provokasi) karena menurutnya keadaan sudah sedemikian genting dan mengancam
eksistensi ummat Islam, sehingga perlu dihadapi dengan
> sebuah perlawanan serentak. Mata-rantai NH itu selalu membawa-bawa brosur
senjata, dan bahkan kepada setiap orang pesantren (maupun perorangan) yang
didatanginya ia berusaha meyakinkan bahwa pasokan
> senjata sudah sampai tahap siap kirim.
>
> Sekali waktu, sebelum bom malam Natal meledak, NH pernah mengunjungi
seorang tokoh Islam. Tak berapa lama datang menyusul seseorang yang diakui
sebagai teman NH namun tidak dikenal sang tokoh Islam.
> Kepada sang tokoh Islam, teman NH itu berusaha menitipkan dua pucuk M-16,
tetapi sang tokoh menolak. Karena ditolak, kemudian NH dan temannya itu
pergi dari rumah sang tokoh Islam tadi.
>
> Informasi mengenai NH dan mata-rantainya ini, sejak awal-awal kejadian
kasus malam Natal 24 Desember 2000 sudah diketahui oleh berbagai kalangan,
tidak saja oleh kalangan intelijen, juga aktivis Islam
> yang concern terhadap masalah ini.
>
> Siapa NH ini? Ia adalah mantan Karateka Nasional dan pernah bekerja di Bea
Cukai. Pernah mendekam di penjara untuk kasus Talangsari (Lampung) yang
meledak di bulan Februari 1989.
>
> NH adalah tokoh kunci kasus Talangsari (Lampung). Ia berhasil memprovokasi
Warsidi, pemilik lahan sekitar 1,5 hektar yang dijadikannya sebagai basis
perlawanan dan pemberontakan terhadap pemerintah
> dan ABRI kala itu.
>
> Ketika itu NH berhasil memperdaya dan memprovokasi Warsidi, sehingga
Warsidi yang semula buta politik dan tidak radikal menjadi 'ngerti' politik
sekaligus radikal. NH berhasil pula memprovokasi
> sejumlah orang dari Jawa untuk 'hijrah' ke Talangsari dan mempersiapkan
diri untuk 'berjihad' melawan pemerintah dan ABRI.
>
> NH berhasil meyakinkan Warsidi dan puluhan orang lainnya, antara lain
dikatakan bahwa bantuan senjata siap dikirim sebanyak satu kontainer,
sehingga dengan senjata itu Warsidi dan kawan-kawan bisa
> dengan mudah melakukan perlawanan terhadap ABRI, dan menguasai Bakauheni
(pelabuhan yang menghubungkan Jawa dengan Sumatera).
>
> Ketika bentrokan antara jamaah Warsidi dengan aparat yang dibantu warga
setempat terjadi, NH ketika itu justru tidak berada di lokasi kejadian. Ia
tetap di Jakarta ketika sejumlah nyawa meregang dari
> tubuhnya.
>
> Nampaknya, kini NH hendak mengulang sukses yang pernah dibukukannya di
tahun 1989 dulu. Ia melalui mata-rantainya sempat berhasil membawa api ke
berbagai pesantren di sekitar Garut, Tasikmalaya,
> Ciamis dan Banjar, untuk bersiap-siap melakukan perlawanan terhadap
tentara, sebagaimana pernah berhasil dilakukannya terhadap Warsidi dan
jamaahnya.
>
> Kali ini ia gagal. Yang kemudian mendesak di benak adalah, siapa
membekingi NH sehingga ia dan mata-rantainya begitu mudah membawa-bawa
brosur berbagai jenis senjata bahkan berikut contohnya? Adakah
> ia salah satu pion aparat yang bertugas melakukan pembusukan ke dalam
tubuh ummat Islam, sekaligus berperan menjalankan politik pecah-belah?
>
> Selepas menjalani masa tahanannya karena terlibat kasus
Talangsari(Lampung), NH menjadi petualang. Ia sempat menikmati 'uang
santunan' dari Hendropriyono yang berkepentingan agar kasus Talangsari
> tidak diungkap. Kemudian NH pernah pula oleh aparat 'ditugaskan' untuk
membentuk Pam Swakarsa. Oleh Baramuli NH pernah dibayar untuk mengerahkan
milisi sipil dalam rangka mendukung Habibie. Tentu saja
> itu semua dilakukan dengan imbalan yang cukup besar.
>
> Kabar terakhir mengatakan, NH dan mata-rantainya mempunyai peranan yang
jelas dalam kasus peledakan 24 Desember 2000, khususnya untuk daerah Jakarta
dan Jawa Barat. Sedangkan untuk daerah lainnya
> dikoordinasikan oleh selain NH. Di daerah lain, tipikal pelaku peledakan
berbeda dengan Jakarta dan jawa Barat, yaitu ada diantaranya yang mengenakan
anting-anting, yang menyiratkan bahwa pelakunya
> dari kalangan preman, kriminal, dan sebagainya.
>
> Nampaknya, NH diberi otoritas untuk membuat teror hanya di Jakarta dan
Jawa Barat saja, tentunya ada kelompok lain yang juga diberi otoritas yang
sama untuk melakukan hal serupa di daerah-daerah
> lainnya. Namun mengapa hanya jalur NH saja yang bisa terungkap sedangkan
lainnya tidak? Nampaknya jebakan ala Komando Jihad dan kasus Talangsari
(Lampung 1989) serta tragedi Priok 1984 hendak diulang
> kembali.
>
> Sebagaimana diberitakan media massa, sebagian pelaku peledakan di Jakarta
dan Jawa Barat adalah alumni Afghan, dan mereka itu adalah mata-rantai
NH-AM-GT yang bermarkas di Garut. Keterlibatan mereka
> adalah sebagai pribadi (sama sekali tanpa sepengetahuan lembaga dimana
mereka bernaung).
>
> Anehnya, informasi tentang keterlibatan mata-rantai NH ini pada kasus
peledakan malam Natal itu --dalam tempo sangat singkat-- sudah menjadi
konsumsi umum di kalangan intel dan aktivis Islam, sehingga
> menimbulkan rasa heran. Mengapa begitu cepat, dan mengapa hanya jalur NH
(Jakarta dan Jawa Barat) saja yang terungkap sedangkan jalur lainnya tidak
terungkap padahal kasus peledakan itu terjadi hampir
> serentak di berbagai wilayah?
>
> Dalam menjalankan aksinya untuk meyakinkan para tokoh lembaga Islam dan
tokoh Islam (perorangan) yang concern pada derakan-gerakan Islam, NH selalu
ke mana-mana mencatut nama tokoh-tokoh dari lembaga
> Islam tertentu. Antara lain ia membawa-bawa nama tokoh Majelis Mujahidin
seperti Mursalin, Qadir Baradja, Baasyir dan sebagainya. Padahal,
tokoh-tokoh itu tidak mungkin bersentuhan dengan petualang
> dan pecundang semacam NH dan mata-rantainya (AM dan GT). Bahkan konon
ketika NH melamar menjadi aktivis Majelis Mujahidin, ia dipersilakan keluar,
mengingat track record-nya yang tercela.
>
> Dapat disimpulkan, bahwa melalui kasus peledakan malam Natal lalu,
nampaknya ada skenario ingin membenturkan antara kalangan Islam dengan
tentara, dan antara kalangan Islam dengan Kristen. Termasuk
> adanya upaya stigmatisasi terhadap gerakan Islam dengan pola ala Komando
Jihad dan sebagainya.
>
> Ummat Islam sudah seharusnya bersatu untuk mengungkap gerak-langkah
petualang politik semacam NH ini, dalam rangka menghindarkan timbulnya
korban jiwa dari kalangan rakyat tak berdosa, sebagaimana
> pernah terjadi pada kasus Komando Jihad, Lampung, Priok dan sebagainya.
Sementara rakyat tak berdosa mati sia-sia, sang petualang dan provokator
justru menerima imbalan untuk hidup bersenang-senang.
>
> Jakarta, 15 Januari 2001 [EMAIL PROTECTED]
>
> Catatan: Redaksi eramuslim telah mengkonfirmasi langsung email ini kepada
yang bersangkutan.
>
>
>
>
>
> ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


.................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com


______________________________________________
FREE Personalized Email at Mail.com
Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup

................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke