Ribuan Massa Amartya Tuntut Golkar Bubar
Yogya, Bernas
Di bawah guyuran hujan rintik-rintik, sekitar
sepuluh ribu massa yang tergabung dalam Aliansi
Masyarakat Yogyakarta (Amartya), Rabu (7/2),
berkumpul menduduki perempatan kantor Pos Besar
Yogyakarta. Mereka mengadakan aksi keprihatinan
menuntut pembubaran Partai Golkar dan penyingkiran
orang-orang Orde Baru (Orba) dari panggung
politik.
Spanduk hitam raksasa juga dibentangkan di
belakang panggung orasi, menghadap ke arah barat
laut. Spanduk tersebut berisi poin-poin target
kekuatan Orba yang harus diwaspadai.

Aksi tersebut diikuti 15 elemen masyarakat
Yogyakarta di antaranya Aliansi Pesantren
Yogyakarta, Forum Putra Bangsa, Solidaritas
Perempuan Peduli Bangsa, Forum Dai Penmersatu
Umat, Forum Generasi Muda Pesantren DIY-Kedu,
Aliansi Mahasiswa Anti-Orba, Forum Laskar Bangsa
Yogyakarta, Solidaritas Pelajar Korban Orba, dan
Forum Antar- Agama.

Sedangkan yang datang dari daerah adalah
Paseduluran Masyarakat Sleman Korban Orba, Dewan
Penyelamat Reformasi (DPR) Bantul, Paseduluran
Masyarakat Gunungkidul Korban Orba, Petani Salak
Pondoh Turi, dan Paseduluran Masyarakat Kota
Yogyakarta Korban Orba.

Aksi dimulai dari enam titik yang tersebar di
penjuru Kota Yogya, yaitu perempatan SGM,
pertigaan IAIN, perempatan Pingit, perempatan
Tugu, perempatan Dongkelan, dan terminal
Umbulharjo. Massa aksi yang masing-masing titik
berjumlah ribuan itu bergerak menuju perempatan
Kantor Pos Besar, sambil meneriakkan yel-yel
"Bubar. Bubar. Bubarkan Golkar. Bubarkan Golkar
Sekarang Juga".

Selain itu, massa dari Sleman membawa 'mayat' yang
dibungkus mori putih dengan percikan warna merah
di sana-sini. Hal tersebut merupakan ungkapan
keprihatinan terhadap matinya hati nurani pendamba
demokrasi dan reformasi. Tak pelak lagi, aksi
tersebut menimbulkan kemacetan di beberapa ruas
jalan Kota Yogya yang dilalui massa tersebut.

Dalam orasinya, Musyafa' dari Forum Putra Bangsa
yang menjadi koordinator lapangan dan berangkat
dari titik IAIN menegaskan, bagaimanapun kekuatan
Orba yang direpresentasikan Partai Golkar akan
terus menghambat upaya konsolidasi demokrasi di
Indonesia.

Hal senada diungkapkan Viva Nur Usman di depan
massa yang bergerak melewati Jalan Kusumanegara.
Katanya, "Partai Golkar selama ini merupakan
kekuatan yang merecoki pemerintahan Gus Dur- Mega
yang berupaya menuntaskan reformasi secara total."

Sedangkan Mustafid dari Forum Generasi Muda
Pesantren DIY-Kedu kepada seribu lebih massa yang
berkumpul di perempatan Tugu menegaskan,
demokratisasi tidak akan mungkin berjalan tanpa
distribusi ekonomi yang adil. Sisa-sisa Orba hanya
memberikan peluang perputaran uang kepada para
elit ekonomi di Jakarta.

Koordinator Umum (Kordum) aksi, Muwafiq, yang
memberikan orasi pembuka di perempatan Kantor Pos
Besar Yogyakarta menegaskan kembali sikap Amartya
atas nama bagian dari rakyat Indonesia. Menurut
dia, parlemen (DPR/MPR) saat ini sudah tidak
mewakili rakyat lagi, namun hanya mewakili
kepentingan segelintir politisi, terutama jaringan
antek-antek Orba.

Prosesi aksi diwarnai pula dengan istighotsah yang
dipimpin KH Priharsoyo dari PP Al-Islamiyyah,
Kalibawang Kulonprogo. Dalam doanya, Priharsoyo
memohon agar aksi membela keadilan dan kebenaran
tersebut diridloi Allah SWT.

Priharsoyo yang juga mewakili masyarakat
Kulonprogo mengharapkan kepada para antek Orba --
yang, menurut dia, masih bergentayangan sampai ke
tingkat RT -- untuk segera bertobat dan tidak
merecoki pemerintahan Abdurrahman Wahid dan
Megawati Soekarnoputri. "Kepada Golkar, daripada
dibubarkan lebih baik membubarkan diri saja,"
katanya.

Sultan konsolidasi
Sementara itu, menyikapi perkembangan politik yang
menghangat belakangan ini, Gubernur DIY
mengumpulkan jajaran Muspida di Gedong Wilis
Kepatihan Yogyakarta Rabu kemarin. Pertemuan
tersebut menjadi konsensus untuk menindaklanjuti
koordinasi secara kontiniu dalam membahas
permasalahan di Yogya, termasuk soal keamanan.

Hadir dalam pertemuan itu Kajati DIY Hantoro
Soemarjo, SH, Kapolda DIY Brigjen Pol Drs Logan
Siagian, Danrem 072/Pamungkas Kol Inf Bambang
Suherman, dan Ketua DPRD DIY Surasmo Priandono.
Mereka diterima di ruang kerja Gubernur.

Kepada wartawan seusai pertemuan, Gubernur
mengatakan, pertemuan tersebut dilakukan sebagai
bentuk antisipasi agar Yogyakarta tetap aman dan
tenteram, tanpa menutup diri terhadap perkembangan
aspirasi dari masyarakat. "Aspirasi tetap kita
buka. Tapi, jangan sampai ada tindakan yang
sifatnya anarki, di luar kontrol, sehingga
masyarakat dirugikan," ujar Gubernur.

Lebih lanjut Gubernur mengatakan, Pemda DIY juga
bertekad untuk membangun "muspida plus" dengan
membangun komunikasi dengan organisasi-organisasi
seperti partai politik, para tokoh agama, seperti
kiai dan tokoh-tokoh masyarakat yang lain. "Dengan
harapan kita silaturahmi membangun kebersamaan
untuk menghargai secara manusiawi terhadap
perkembangan yang ada. Meski aspirasi kita beri
peluang, tapi tetap merasa aman," ujarnya.

Sementara itu, Komandan Korem 072/Pamungkas Kol
Inf Bambang Suherman mengatakan, siap mem-back up
dengan personel tentara, seandainya sewaktu-waktu
diminta bantuan oleh Kapolda DIY, berkaitan
dengaan situasi dan kondisi keamanan di Yogyakarta
belakangan ini.

Di Kendal
Sekitar 5.000 pendukung Presiden Abdurrahman Wahid
(Gus Dur), Rabu kemarin siang, mengepung Kota
Kendal dari dua arah, barat, dan timur. Massa yang
emosional itu semula bermaksud merusak kantor DPC
Golkar. Namun, karena dijaga ketat polisi, mereka
tidak berani main-main.

Aksi demo itu dimulai sekitar pukul 10.00. Ratusan
massa, baik berjalan kaki maupun yang
berkendaraan, mengawali aksi mereka dari Jalan
Raya Barat Kendal, tepatnya di bekas stasiun,
menuju ke arah timur. Pada saat bersamaan, dari
arah timur, tepatnya di perbatasan
Kendal-Brangsong, ratusan kelompok pendukung Gus
Dur, juga berjalan ke arah barat. Dua konsentrasi
massa itu bertemu di Jalan Raya Ketapang.
Akibatnya, arus lalu lintas terganggu dan
terjadilah antrean panjang di dalam kota.

Selanjutnya, massa dua kelompok itu bergabung
menjadi satu menuju ke DPRD Kendal. Mereka
meneriakkan yel-yel anti-Amien Rais dan Akbar
Tandjung, serta menghujat Panitia Khusus (Pansus)
Buloggate-Bruneigate.

Akbar akan dihadang
Sementara itu, rencana kedatangan Akbar Tandjung,
Amien Rais dan Megawati Soekarnoputri dalam acara
puncak Hari Pers Nasional (HPN) di Monumen Pers
Solo, Jumat (9/2) besok, mendapat ancaman akan
dihadang massa yang digerakkan koalisi anti-Orba
yang menamakan dirinya Front Demokrasi untuk
Reformasi Total (FDRT). Seruan yang disebarkan
FDRT, secara khusus mengajak masyarakat untuk
menghadang Akbar Tandjung dalam aksi menuntut
pembubaran Partai Golkar.

Selebaran itu dengan jelas mengajak aksi massa
untuk menghadang Akbar Tandjung di Monumen Pers
pada Jumat(9/2). FDRT yang terdiri dari Liga
Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), PMKRI,
GMKI, PDI-P, PRD, PKB, AJI, PAKORBA, YPKP, ATMA,
FNPBI, SBSI, LSABAS, P3S, GRI, dan sejumlah
pribadi prodemokrasi itu, juga menyebarkan daftar
7 kejahatan Orde Baru.

Koordinator FDRT Faizin menyatakan, FDRT terbentuk
oleh elemen pro-demokrasi di Solo yang akan
menggerakkan tuntutan pembubaran Partai Golkar
sebagai bagian dari Orba yang telah
terang-terangan mengkhianati demokrasi dan
menjerumuskan bangsa Indonesia ke dalam krisis
saat ini.

Sementara itu, seorang sumber menyebutkan, ada
pihak-pihak dalam kepanitiaan HPN di Solo yang
tidak menginginkan gambar Presiden Gus Dur
dipasang di panggung peringatan. Meski demikian,
belum dapat diperoleh konfirmasi yang pasti
mengenai alasan tindakan tersebut.

Berkaitan dengan recana kehadiran Wapres Megawati,
DPC PDI-P Solo juga belum bisa memberikan
keterangan yang pasti. "Sampai hari ini kami belum
mendapat instruksi langsung dari DPP untuk turut
menyambut kedatangan Ibu Mega di Solo," kata Wakil
Sekretaris DPC PDI-P Ir Hariadi Saptono.

Menanggapi selebaran yang diedarkan FDRT, Hariadi
Saptono menyatakan, pihaknya saat ini hanya
bertugas untuk melaporkan perkembangan situasi di
Solo ke DPP. "Mengenai keputusan apakah Ibu Mega
akan datang atau tidak, kami tidak dapat
memastikan," katanya. (ptg/sdt/ran/cr5/m1/sun/**)





...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke