KPP UGM Segel Sekretariat KM UGM [Bernas]

TINDAK lanjut dari selebaran yang menuntut
pembubaran Keluarga Mahasiswa (KM) UGM, sekitar
seratusan mahasiswa UGM dari 13 elemem yang
tergabung dalam Keluarga Pecinta dan Penyelamat
(KPP) UGM, Rabu (6/1) siang mengadakan aksi reli
keliling kampus UGM. Aksi tersebut seakan
menanggapi tawaran dari Ketua Umum KM UGM Nur
Hidayanto kepada KPP UGM untuk melakukan kritik
dengan jantan dan elegan.
Elemen-elemen tersebut adalah LMND UGM, Serikat
Mahasiswa Islam Progresif (SMIP), Komite Mahasiswa
Merdeka (KMM), BEM dan Senat Filsafat UGM, Partai
Hidjaoe, Partai Kebangkitan Demokrat, Kelompok
Studi Kritis Pertanian. Sedang sisanya dari unsur
pers mahasiswa yaitu Balairung, Bulaksumur, Pijar
(Fak Filsafat), Sintesa (Fak Isipol) Mahkamah (Fak
Hukum) dan Dian Budaya (Fak Sastra).

Aksi dimulai pukul 11.00 sehabis hujan dari
Fakultas Filsafat UGM dengan membentangkan puluhan
spanduk dan poster bernada gugatan terhadap KM
UGM. Spanduk dan poster itu antara lain Suara KM
UGM Bukan Suara Mahasiswa UGM, KM UGM: Srigala
Berbulu Duit, KM UGM Diperalat Parpol, Tolak
Politisasi Kampus dan Tuntaskan Persoalan Kampus.

Aksi kemudian dilanjutkan ke Fakultas Sastra
sebelum akhirnya menuju Bunderan dengan terus
meneriakkan yel Bubarkan KM UGM Sekarang Juga. Di
Bunderan digelar prosesi pembakaran jaket almama-
ter bertuliskan Jangan Gadaikan Nama Mahsiswa UGM
untuk Kepentingan Sesaat yang dipersonifikasikan
sebagai elit KM UGM.

Puncak aksi dilakukan penyegelan sekretariat KM
UGM secara simbolis dengan papan dan paku. Proses
penyegelan berjalan cukup alot karena tiga
pengurus KM UGM yaitu Astrilia Hijriani (Sekum)
Wulan Wika (Staf Sekretariat) dan Yeni Oktarina
(Kepala Dep Pemberdayaan Hak Mahasiswa) mencoba
melakukan kompromi. Nur Hidayanto sendiri sedang
ada keperluan ke Jakarta.

"Dengan adanya penyegelan ini berarti mulai
sekarang KM UGM sudah dianggap tidak ada lagi.
Kita tidak akan mengakui lagi KM UGM sebagai
lembaga yang merepresentasikan mahasiswa UGM,"
tandas Jimmy dari LMND.

Humas KPP Ridho Ipunk Pamungkas menyatakan KM UGM
tidak mampu menjawab kebutuhan mahasiswa, tidak
mampu mempertahankan kesetaraan posisi dengan
pemerintah, rektor, senat universitas dan
sebagainya. "Persoalan kecil seperti transparasi
keuangan juga tidak bisa diselesaikan. Bahkan
tanpa malu mengangkat isu Buloggate - Brunaigate
yang merupakan komoditas politik barisan Orba di
DPR," ujarnya.

Kepada Bernas, Ramdani dari Partai Hidjaoe menolak
bila dikatakan aksi penyegelan tersebut merupakan
bentuk anarkhisme. "Ini hanya merupakan
simbolisasi atas kekecewaan kami terhadap KM UGM
yang telah memuncak," tandasnya.

Peserta aksi kemudian membubarkan diri setelah
dibacakan pernyataan sikap oleh Koordinator Umum
Aksi Musaddad yang intinya menolak klaim KM UGM
sebagai representasi tunggal mahasiswa UGM dan
menuntut pembubaran lembaga mahasiswa tersebut.
"Aksi tidak akan berakhir sampai di sini. Kita
akan kembali (melakukan aksi) dengan massa yang
lebih besar," ungkap aktivis SMIP tersebut.

Sementara itu Yeny -- yang sempat menemui langsung
peserta aksi -- kepada wartawan beberapa saat
seusai penyegelan menandaskan KM UGM menerima baik
aspirasi mahasiswa UGM tersebut. Namun ia menolak
semua tuduhan KPP yang dialamatkan kepada KM UGM,
termasuk tuduhan pengurus KM UGM telah melakukan
korupsi sebesar Rp 200 juta. (**/cr7) 






...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke