Yg pasti antara netral dng obyektif itu lain. Netral lebih cenderung
bersikap tidak mau ambil pusing u/ mengambil sikap tertentu dlm menghadapi
dua pihak atau lebih yg sedang berselisih. Sedangkan obyektif lebih
cenderung mempunyai makna mau melihat suatu persoalan, misalnya menyangkut
perselisihan dua pihak atau lebih, dan kemudian berdasarkan data2 dan fakta2
yg ada memberi penilaian berdasarkan itu, siapa sebenarnya yg salah, siapa
yg benar. Atau dua2-nya ada salah, ada benarnya. Dari situ kmd mengambil
sikap. Jadi, sikap yg diambil bukan berdasarkan siapa org itu, tetapi
dilihat dari perilakunya.

----- Original Message -----
From: BKC1214 Nopi Hidayat <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, February 22, 2001 3:04 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Senggolan Berita 210201


>
>
> Kok netral dipersepsikan pengecut?.o.o.o..
> itu sih persepsi kelompok Bung mBin terhadap kelompok lain.
> Bung mBin kayaknya juga suka langsung to the point yach,
> entar ada yang kecewa lho dengan persepsi seperti itu.
>
> Salam,
> ------
>
> dalam araas yang ke sekian,
> netral adalah tanda kepengecutan,
>
> bisa karena kelompoknya sedang dihinakan,
> atawa nggak yakin pada kelompok yang ada,
> nunggu en lihat aja arusnya....
>
> itu kata saya selalu,
> tidak spesial untuk bung nopi, lho.....
>
>
> wass,
> mBin
> -----
>
> From: BKC1214 Nopi Hidayat
> Netral bisa dan gabungan dari yg Mas tulis juga bisa?, tapi
> yang jelas bukan salah satu, lagipula saya belum sempat ikut
> demo?...jadi pengamat lebih oke kok?.
> Mas aswat sendiri ada dipihak mana?...hayo.
>
> Salam,
> -------



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke