Senggolan Berita 110301
"Hatta Radjasa:
Aksi Mahasiswa Nurani Rakyat
Rencana aksi massa BEM yang disertai pemogokan massal, menurut Hatta
Radjasa, boleh-boleh saja. Jika aksi itu disuarakan sebagian besar
mahasiswa, maka aksi itu merupakan nurani rakyat. ..."
= Kita pegang kata2 dia. Kita lihat bagaimana reaksi rakyat pd hari H-nya.
Apakah betul ini nurani rakyat. Benar jika seruan itu dipenuhi o/ sebagian
besar elemen masyrakat. Kita lihat!
---------------------------------------------------
Di atas adalah penggalan berita dari detik.com hari Sabtu lalu, yg saya
jadikan "senggolan berita" tgl 11/3/01. Pd berita tsb Hatta Radja, salah
satu tokoh Poros Tengah, Hatta Radjasa, mungkin merasa sangat yakin bahwa
seruan BEM u/ melakukan aksi mogok nasional akan benar2 direspon semua
elemen masyarakat. Mungkin tokoh Poros Tengah itu sdh hakul yakin bahwa
Senin 12/3/01 itu merupakan hari paling bersejarah bagi mereka, di mana di
seluruh negara, paling tidak di (hampir) seluruh kota besar di Indonesia ini
lumpuh total karena semua elemen masyarakat mengdukung aksi BEM (dan
tentunya Poros Tengah) u/ memaksa GD mundur dng aksi mogok besar2-an. Dari
hakul yakinnya itulah maka Hatta Radjasa pun berseru: "Seruan mogok nasional
itu merupakan suara nurani rakyat ...!"
Maka, saya dlm senggolan berita, pun menyenggol dng kalimat:
"Kita pegang kata2 dia. Kita lihat bagaimana reaksi rakyat pd hari H-nya.
Apakah betul ini nurani rakyat. Benar jika seruan itu dipenuhi o/ sebagian
besar elemen masyrakat. Kita lihat!"
Dan, sekarang kita sudah lihat! Bahwa seruan mogok nasional itu gagal total.
Tidak ada satu elemen masyarakat di kota manapun yg mengrespon seruan tsb.
Maka, sebenarnya sdh terbaca -- apabila bertitik tolak pd pernyataan
Hatta -- yg mana atau yg bagaimana sebenarnya hati nurani rakyat itu. Apakah
Hatta mau konsekuen dng pernyataannya kemarin? Kalau ini (seruan mogok
nasional) benar2 sesuai dng hati nurani rakyat, tentu saja seruan itu akan
efektif. Hari Senin, 12/3/2001 seharusnya roda ekonomi Indonesia lumpuh
total. Kenyataannya? Sama sekali tidak. Semuanya berjalan seperti biasa.
Seruan BEM, bagaikan angin lalu tak berarti.
Dan, lihatlah. Ketika hati nurani rakyat, tak sesuai dng kehendaknya.
Kelompok Poros Tengah, yg dipimpin o/ AR pun ikut2-an terjun ke massa
mahasiswa antiGusDur. Seolah-olah karena "hati nurani" yg diharapkan tak
terjadi, mereka pun menyamakan saja "hati nurani rakyat" itu dng aksi massa
anti GD yg tergabung dalam BEM.
Karena mungkin sudah kehabisan cara. Orang2 yg seharusnya elegan dalam
setiap tindakan dan perilakunya, malah melakukan aksi2 yg menjurus pd
anarkisme. Dng terjun ke massa pengdemo itu dng melakukan seruan2 yg berbau
makar. Bagaimana bisa seorang Ketua MPR dng konco2-nya menerjang blokade
Istana Presiden, dan menyerukan agar Presiden segera turun. Kalau tidak, MPR
akan mengambilalih kekuasaan! Bukankah ini suatu bentuk makar terang2-an yg
bersembunyi di balik baju lembaga legislatif? Mana bisa MPR mengambilalih
kekuasaan? Kalau ini benar2 dilakukan? Kalau bukan kudeta parlementer, apa
lagi istilah yg lebih tepat?
Cara2 elegan, demokratis, dan hukum2 ketatanegaran pun mereka sdh tak
perduli lagi. Bagaikan kesurupan, Ketua MPR dan gengnya telah
menginjak-injak lembaga kenegaraan tertinggi itu. Sdh kehabisan akal sehat
karena cara2 ketatanegaraan yg seharusnya ditempuh tdk bisa lagi memenuhi
ambisi mereka secepatnya.
Sekali lagi, di mata saya, kelompok ini sedang melakukan makar, dng
bersembunyi di balik baju MPR/DPR. Sedemikian naifkah bangsa ini sehingga
tidak melihat fenomena ini?
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--