Yangmenjadi persoalan, tampaknya kalkulasi politik para analisis
di PAN sering meleset. Lihat sebagai misal bagaimana hasil Pemilu
setelah sebelumnya harapan mereka melambung.
Coba kita melihat sekarang. Scenario lapangan sebagai ujung tombak
adalah Mhs yang sudah berkampanye sejak hari Minggu. Di angkutan
sudah ada Jumhur Hidayat dan sudah mengumumkan di TV rencana
pemogokan trayek-treayeknya. Nah tinggal tune in sedikit dengan
orang-orang dari Ormas yang Anti pemerintah. Setelah itu sebagai
Gong mnuncul sang pahlawan reformasi 1998 ditengah demo mhs di
Istana, ini dia AR!
Sayang memang, rakyat atau pasar memang tidak bohong. Maka tadi
Rizal cuma ketawa ketika membuat perbandingan antara jumlah mhs
yang memakai politik atas nama yaitu BEM Se jawa dan sumatra
dengan jumlah mhs di 1998. Ketika Indarto bertanya mengapa Pak
Rizal kelihatan begitu yakin maka Rizal menjawab saya kan mantan
demonstran....
��
----- Original Message -----
From: Daniel H.T <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, March 13, 2001 12:19 AM
Subject: [Kuli Tinta] Seruan Mogok Nasional Gagal Total
Senggolan Berita 110301
"Hatta Radjasa:
Aksi Mahasiswa Nurani Rakyat
Rencana aksi massa BEM yang disertai pemogokan massal, menurut
Hatta
Radjasa, boleh-boleh saja. Jika aksi itu disuarakan sebagian besar
mahasiswa, maka aksi itu merupakan nurani rakyat. ..."
= Kita pegang kata2 dia. Kita lihat bagaimana reaksi rakyat pd
hari H-nya.
Apakah betul ini nurani rakyat. Benar jika seruan itu dipenuhi o/
sebagian
besar elemen masyrakat. Kita lihat!
---------------------------------------------------
Di atas adalah penggalan berita dari detik.com hari Sabtu lalu, yg
saya
jadikan "senggolan berita" tgl 11/3/01. Pd berita tsb Hatta Radja,
salah
satu tokoh Poros Tengah, Hatta Radjasa, mungkin merasa sangat
yakin bahwa
seruan BEM u/ melakukan aksi mogok nasional akan benar2 direspon
semua
elemen masyarakat. Mungkin tokoh Poros Tengah itu sdh hakul yakin
bahwa
Senin 12/3/01 itu merupakan hari paling bersejarah bagi mereka,
di mana di
seluruh negara, paling tidak di (hampir) seluruh kota besar di
Indonesia ini
lumpuh total karena semua elemen masyarakat mengdukung aksi BEM
(dan
tentunya Poros Tengah) u/ memaksa GD mundur dng aksi mogok
besar2-an. Dari
hakul yakinnya itulah maka Hatta Radjasa pun berseru: "Seruan
mogok nasional
itu merupakan suara nurani rakyat ...!"
Maka, saya dlm senggolan berita, pun menyenggol dng kalimat:
"Kita pegang kata2 dia. Kita lihat bagaimana reaksi rakyat pd hari
H-nya.
Apakah betul ini nurani rakyat. Benar jika seruan itu dipenuhi o/
sebagian
besar elemen masyrakat. Kita lihat!"
Dan, sekarang kita sudah lihat! Bahwa seruan mogok nasional itu
gagal total.
Tidak ada satu elemen masyarakat di kota manapun yg mengrespon
seruan tsb.
Maka, sebenarnya sdh terbaca -- apabila bertitik tolak pd
pernyataan
Hatta -- yg mana atau yg bagaimana sebenarnya hati nurani rakyat
itu. Apakah
Hatta mau konsekuen dng pernyataannya kemarin? Kalau ini (seruan
mogok
nasional) benar2 sesuai dng hati nurani rakyat, tentu saja seruan
itu akan
efektif. Hari Senin, 12/3/2001 seharusnya roda ekonomi Indonesia
lumpuh
total. Kenyataannya? Sama sekali tidak. Semuanya berjalan seperti
biasa.
Seruan BEM, bagaikan angin lalu tak berarti.
Dan, lihatlah. Ketika hati nurani rakyat, tak sesuai dng
kehendaknya.
Kelompok Poros Tengah, yg dipimpin o/ AR pun ikut2-an terjun ke
massa
mahasiswa antiGusDur. Seolah-olah karena "hati nurani" yg
diharapkan tak
terjadi, mereka pun menyamakan saja "hati nurani rakyat" itu dng
aksi massa
anti GD yg tergabung dalam BEM.
Karena mungkin sudah kehabisan cara. Orang2 yg seharusnya elegan
dalam
setiap tindakan dan perilakunya, malah melakukan aksi2 yg menjurus
pd
anarkisme. Dng terjun ke massa pengdemo itu dng melakukan seruan2
yg berbau
makar. Bagaimana bisa seorang Ketua MPR dng konco2-nya menerjang
blokade
Istana Presiden, dan menyerukan agar Presiden segera turun. Kalau
tidak, MPR
akan mengambilalih kekuasaan! Bukankah ini suatu bentuk makar
terang2-an yg
bersembunyi di balik baju lembaga legislatif? Mana bisa MPR
mengambilalih
kekuasaan? Kalau ini benar2 dilakukan? Kalau bukan kudeta
parlementer, apa
lagi istilah yg lebih tepat?
Cara2 elegan, demokratis, dan hukum2 ketatanegaran pun mereka sdh
tak
perduli lagi. Bagaikan kesurupan, Ketua MPR dan gengnya telah
menginjak-injak lembaga kenegaraan tertinggi itu. Sdh kehabisan
akal sehat
karena cara2 ketatanegaraan yg seharusnya ditempuh tdk bisa lagi
memenuhi
ambisi mereka secepatnya.
Sekali lagi, di mata saya, kelompok ini sedang melakukan makar,
dng
bersembunyi di balik baju MPR/DPR. Sedemikian naifkah bangsa ini
sehingga
tidak melihat fenomena ini?
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--