Suatu malam, Mat Pithi dan Dul Kimpong nonton wayang.
Tidak seperti biasanya, lakon wayang oleh Ki Dalang Lamong Jiwo
kali itu adalah "Pandita Raja apa Raja Pandita". Aneh, karena
baru kali itu ada lakon wayang bernada pertanyaan.
MP: "Cak Dul, aneh ya wayang ini kok lakonnya malah bertanya?"
DK: "Yaaah, mungkin Ki Dalang terbawa suasana perpolitikan
          sekarang ini, Mat. Kita lihat saja nanti gimana"
MP: "Iya ya, apalagi Ki Dalang itu memakai nama saja ya 
          mbelgedhes, Lamong Jiwo. Lamong itu kan mengigau
          atau nylethuk tetapi cenderung kurang waras?"
DK: "Apa iya? Malah nggak tahu aku. Ooo, jadi artinya jiwa
         yang sedang kurang waras gitu? Lho tetapi kan dukungan
        penuh dari para penabuh gamelan yang berbagai alat kumplit
        digeler. Malah aneh, wong Gamelan kok ada Drum Rolling
        dan Kyeboard Rolland segala?"
MP: "Walaaah, wong memang sedang jamannya Campur Sari kok
          Cak. Jamannya CS lah. Coba saja wong wayang kok ada
          penyanyi Dang-Dutnya, belum lagi pelawak kampungnya
          juga ada"
Singkatnya acara wayang segera dimulai dengan iringan karawitan
yang memang ramai. Harusnya gendhing patalon, malah langsung
Sampak. Ki Dalang memang Lamong Jiwo. Tiba-tiba di adegan awal
langsung perang tanding antara Raja Intelektual Kala Waskitha melawan
Putri Sekar Kedaton Himawati. Pantas yang mengiringi adalah 
tetabuhan sampak. Hanya saja tetap ada alunan waranggana yang
melantunkan "Emaan.. eman eman eeeeman, yaa bangsaku dhewe"

Adegan perang gagal selesai. Himawati kalah, Kala Waskitha lari
menjadi pandita kaya raya. Membuat padhepokan tempat bercokolnya
para cerdik cendekia dengan nama Padhepokan Punjer Polo atau
Polo Center. Himawati yang kalah tiba-tiba tampil lagi melawan
Pandita tunanetra, bernama Eka Dewasuwita, yang tak lain adalah 
sahabat dan dalam beberapa hal menjadi pelindungnya. Pelindung
dan penasehatnya dalam menghadapi Raja tua Sembah Pangkat. Bahkan
menjadi salah satu pendorong agar Himawati berani bertanding
dengan Kala Waskitha.

Adegan perang tanding rame sekali, karena yang bertanding bukan 
Himawati melawan Dewasuwita, melainkan kedua pihak pendukungnya.
Himawati yang didukung wadyabalanya sendiri melawan pendukung
Dewasuwita yang kotak-kotak dan berbagai warna seragam perangnya.
Apalagi senjatanya. Mulai dari bom molotov hingga Kentut Berut digunakan
juga. Maka pantas akhirnya Himawati kalah tipis, dan berniat mutung
meninggalkan palagan.

Wadyabala Kluwung Madya pendukung Dewasuwita bersorak gembira.
Bahkan ada yang langsung sujud syukur. Ada pula yang terisak-isak
ada lagi yang berpuji-puji dan "dleweran" airmatanya. Semua terbawa
kegembiraan. Tak ketinggalan semua wayang simpingan ikut-ikut
bersorak sorai. Niyaga, pesinden, bintang tamu, bahkan Ki Dalang
pun ikutan larut dalam emosi kemenangan. Memang sudah maksud
Ki Dalang untuk mencari legitimasi khalayak pewayangan, bahwa
Himawati tidak pantas menjadi RATU. 

Sayang sebagai wayang, Dewasuwita seolah tahu akan maksud
Dalang Lamong Jiwo. Maka dia punya syarat, menerima kemenangan
dengan dukungan Kluwung Madya itu, asal didampingi Himawati.
Maka calon cabutan dari wayang simpingan model pesisiran
Amir Ambyah, kalah bertanding melawan Himawati untuk menjadi
pendamping Dewasuwita. Kecewa dengan sekenario pedalangannya,
dalam adegan berikutnya Lamong Jiwo justru merusak cerita. Maka
pada tengah-tengah adegan, Mat Pithi dan Dul Kimpong yang bingung
karena melihat kejanggalan bahwa wayang itu dapat mempengaruhi
Dalang dan dalang tidak fair dalam mencabut wayang-wayangnya
jadi rasan-rasan.

MP: "Lho, Cak Dul, bener kan... pusing bener nih. Wayang kok
         ndak pakai pakem blas?"
DK: "Lha iya, gimana sih Ki Lamong Jiwo itu. Tahu kan peraga
         untuk Dewasuwita itu jelas Abiyasa yang pantasnya menjadi
         guru darah bharata, lha kok dipaksa jadi RAJA?"
MP: "Makanya aku ini sejak tadi bingung, sebenernya yang gebleg
          itu siapa sih? Dewasuwita, Himawati atau Ki Lamong Jiwo
          sendiri?"
DK: "Wis, Mat. Pulang yuk. Lha Dalang Edan gitu ditanggap dan
         ditonton... huuuuu!"
MP: "Hehehehe.... jadi kita, penonton, ini yang sebenarnya Lamong
          ya Cak?"

Bogor, 20 Maret 2001

    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
















Kirim email ke