http://www.jawapos.co.id/cetak/detail.php?u_kat=4179&u_arsip=1

Sabtu, 24/02/2001 - 22:27 WIB
Hajriyanto: Mereka Menggurui Rakyat

Jawa Pos Edisi Cetak, 24/02/2001

KELUHAN terhadap penampilan jubir kepresidenan juga datang dari anggota
komisi I DPR Hajrianto Y. Tohari. Menurutnya, keterangan yang diberikan
jubir presiden seolah-olah menganggap dirinya presiden. "Coba kita
perhatikan ketiga jubir itu menganggap tiga-tiganya kayak presiden. Mereka
mencoba menggurui rakyat," papar Hajrianto kepada Jawa Pos tadi malam.
Anggota Fraksi Partai Golkar ini mencurigai posisi ketiga jubir itu memang
dimanfaatkan sebagai cadangan jika statemen presiden menimbulkan reaksi
negatif publik. Mereka bertugas memberi klarifikasi terhadap pernyataan
presiden yang kontroversial. "Celakanya lagi, yang diberikan bukan
klarifikasi yang sebenarnya, tapi klarifikasi yang sesuai dengan kebutuhan
politik mereka," tuturnya.
Meski Hajrianto mengakui ada juga fungsi jubir yang sudah benar. Yakni saat
mereka memperjelas apa yang disampaikan presiden. "Namun itu porsinya sangat
kecil. Dibanding dengan fungsi reserver (cadangan, Red) tadi," ujarnya.
Melihat kinerja jubir yang demikian, Hajrianto menyarankan sebaiknya
presiden menfungsikan jajaran menteri yang bersangkutan. Misalnya mensesneg
atau menteri penerangan. "Itu kan lebih terhormat dan lebih didengar
masyarakat," tuturnya.
Sebab, lanjutnya, ketiga jubir dan sekretaris presiden yang ada itu tidak
bisa mengikuti sidang kabinet. Ini sangat tidak mungkin bagi mereka untuk
menjelaskan hasil-hasil rapat kabinet. "Ikut rapat saja tidak, kok jadi
jubir," paparnya.
Selain itu, lanjut Hajrianto, status tiga jubir itu juga tidak jelas.
Menurut sesneg, pengangkatan mereka dilakukan dengan keppres. Berarti itu
jabatan politik. Sedangkan posisi mereka bukan menteri dan bukan pula eselon
satu. "Nah, ini semakin tidak jelas. Sebab kalau menteri itu kan jabatan
politik. Sedangkan untuk jabatan di bawah menteri itu hak dari PNS (eselon
1)," tuturnya.
Karena itu, kata Hajrianto, presiden beserta jajarannya tidak bisa
menyamakan diri dengan posisi presiden di AS. Di sana semua jabatan di
sekitar gedung putih itu ditunjuk presiden. Sebab posisi presiden sangat
kuat, karena dipilih langsung oleh rakyat. Sedangkan di Indonesia presiden
dipilih oleh MPR.
"Itu harus disadari. Kita tidak menganut sistim presidensial murni." (wto)



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke