http://www.jawapos.co.id/cetak/detail.php?u_kat=4180&u_arsip=1 Sabtu, 24/02/2001 - 22:27 WIB Bukan Penerjemah Jawa Pos Edisi Cetak, 24/02/2001 Peran dan posisi juru bicara presiden kembali memicu kontroversi. Nada sumir muncul karena banyak pernyataan juru bicara presiden dianggap penuh interpretasi pribadi. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana dengan posisi juru bicara presiden di negara lain? Berikut wawancara Jawa Pos dengan peneliti Cides yang juga pernah jadi juru bicara Presiden Habibie, Dr Dewi Fortuna Anwar. Jaksa Agung Marzuki Darusman mengaku bingung dengan pernyataan Wimar Witoelar. Bagaimana Anda melihat masalah tersebut? Saya tidak mengetahui secara tepat apa yang dikatakan Wimar. Tapi jika benar Wimar melakukan hal tersebut, memang layak Marzuki mempertanyakannya. Dilihat dari kepangkatannya, jelas tidak tepat. Dari segi kewenangan, juga aneh. Sebab, eselon Wimar sebagai juru bicara presiden paling banter eselon satu. Sementara jaksa agung tingkatannya sama dengan menteri. Jadi yang dilakukan Wimar salah? Saya tidak mau menyebut salah atau benar. Tapi yang jelas, persoalan yang dihadapi oleh Marzuki adalah persoalan-persoalan yang tak bisa dipaksakan dan dipengaruhi politik. Sebab, jika ada paksaan atau desakan politik dari presiden, bisa disebut ada intervensi terhadap yudikatif. Dan itu tidak boleh. Hanya saja, yang saya tangkap selama ini Wimar agak salah kaprah dalam menjalankan perannya. Apa arti ultimatum yang telah dilakukan Wimar sebagai juru bicara presiden? Wimar seharusnya hanya sebagai penyampai pesan dari presiden. Sebagai juru bicara, Wimar tak boleh menginterpretasikan perkataan presiden. Karena selama ini, muncul semacam pertanyaan terhadap Wimar dalam posisinya sebagai juru bicara, apakah sebagai penyampai pesan ataukah penerjemah. Ini yang membuat kita bingung. Mungkin juga Anda (para wartawan). Bagaimana Anda melihat Wimar dalam kapasitasnya sebagai juru bicara presiden? Jika kita mengaca pada posisi yang sama di Amerika Serikat, saya melihat apa yang dilakukan Wimar sudah melebihi proporsi yang seharusnya. Di sana (AS, Red), seorang juru bicara presiden benar-benar hanya sebagai penyampai pesan presiden. Tak pernah melakukan yang sifatnya menginterpretasikan atau menerjemahkan perkataan presiden. Seperti yang pernah kita dengar Wimar bilang, "Bapak Presiden tidak bermaksud seperti itu." Itu sudah bukan lagi sebagai penyampai pesan. Itu penerjemah atau interpreter. (har) Juru Bicara Presiden; Bolehkah Bikin Interpretasi Sendiri? Wimar Witoelar: - Mantan aktivis mahasiswa ITB - Program "Perspektif" yang dipandu Wimar di Indosiar dibredel penguasa orde baru karena terlalu kritis. - Dikenal sebagai pemandu acara termahal dan terbaik di Indonesia - Aktif dalam berbagai bidang usaha termasuk agen "PR" Intermatrix, dan salah satu pemilik Detikcom. Adhi M. Massardi: - Dikenal sebagai mantan wartawan hiburan Yaha C. Staquf: - Wakil Sekjen DPP PKB Keterangan: diolah dari berbagai sumber ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
