Yg saya lihat Mega yg baik penglihatannya memang duduknya terkesan membelakangi GD. Tetapi, itu lebih karena dia sedang memperhatikan Lopa yg sedang membacakan jawaban GD. Sedangkan GD tidak bisa melihat, sehingga duduknya menghadap depan saja. Repot, Mega pakai baju warna merah saja dibikin macam2 analisa yg mengada-ada. Bahwa itu tandanya hubungan Mega dng GD benar2 buruk. Herannya, kok mereka menjadi buta, ketika GD dan Mega malah sarapan pagi bersama sebelum ke gedung DPR/MPR Silakan baca berita dari JP ini. Komentar Anda? http://www.jawapos.co.id/cetak/detail.php?u_kat=9292 Kamis, 29/03/2001 - 23:04 WIB Mega Sering Menyingkur Sebelum ke DPR, Presiden-Wapres Sarapan Bareng Jawa Pos, 29/3/2001 JAKARTA - Tingkah laku Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri kemarin menjadi sorotan sejumlah anggota DPR. Sebab, saat Baharuddin Lopa membacakan jawaban presiden atas memorandum DPR, posisi duduk putri Bung Karno itu lebih sering menyingkur (membelakangi, Red) Presiden Abdurrahman Wahid. Anggota Fraksi Partai Golkar Yahya Zaini melihat aneh tingkah Megawati tersebut. "Ada apa? Mungkin, itu simbol-simbol ala Jawa yang ditunjukkan Mega atas ketidaksenangannya pada presiden," ujarnya kemarin. Seperti diketahui, dalam Rapat Paripurna DPR mendengar jawaban presiden tentang memorandum kemarin, Megawati duduk berdampingan dengan presiden. Sesuai dengan aturan protokoler, Wapres duduk di sebelah kiri presiden. Presiden dan wakil presiden menempati kursi di samping kanan pimpinan rapat yang dipimpin Ketua DPR Akbar Tandjung. Seperti para pimpinan DPR, keduanya menghadap ke arah para anggota dewan. Podium tempat Lopa membacakan jawaban berada di sebelah kiri pimpinan dewan. Tak hanya posisi duduk Megawati yang jadi sorotan. Baju yang dipakai pun juga dipertanyakan. Vokalis DPR Ade Komarudin melihat bahwa tidak biasanya Megawati ke DPR pakai baju warna merah. "Mungkin Mega ingin memberikan kesan bahwa kehadirannya bukan atas nama wakil presiden, tetapi sebagai ketua umum PDIP," tuturnya. Yang menarik, di tengah-tengah Lopa membacakan jawaban memorandum, presiden sempat menawarkan permen kepada putri Bung Karno tersebut. Tapi, Mega menolaknya. Konon, presiden selalu membawa permen karena penyakit gulanya. Sikap Megawati yang sering menyingkur presiden itu juga menarik perhatian pengamat politik Affan Gafar. Menurut dia, sikap Mega yang aneh itu membuktikan bahwa dia ingin memberikan kesan tidak memberikan dukungan kepada presiden. "Kalau toh hadir, tidak ada kaitannya dengan dukungan. Pertimbangannya, sebagai seorang Wapres, Megawati memang harus hadir dalam acara resmi seperti itu," tandas Affan kepada Jawa Pos tadi malam. Namun, Affan melihat posisi duduk Megawati yang selalu membelakangi Gus Dur itu mempunyai isyarat lain. Juga pakaian merah yang dikenakan istri Taufik Kiemas tersebut mempunyai isyarat keanehan tersendiri. Menurut dia, pakaian merah Mega itu lebih menunjukkan dirinya sebagai ketua umum partai. "Saya kira, memang ada sesuatu yang tidak sreg dengan perilaku Mbak Mega. Nah, ini bahasa-bahasa isyarat yang harus kita tangkap," ucapnya. Tapi, betulkah Megawati sudah meninggalkan presiden? Tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, pagi hari sebelum ke DPR, presiden dan Wapres sempat melakukan sarapan pagi bersama di rumah baru Wapres, di Jalan Teuku Umar 27-29, Jakpus. Acara rutin mingguan inisiatif presiden yang dikemas dalam bentuk sarapan pagi itu dihadiri Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Laksamana TNI Widodo A.S., Kapolri Jenderal S. Bimantoro, dan ketiga kepala staf TNI. Sayangnya, hingga acara berakhir pukul 08.30, tak diperoleh keterangan resmi apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan itu. Interupsi Sementara itu, tidak seperti yang dikhawatirkan, rapat paripurna DPR kemarin berlangsung lancar. Tidak ada aksi massa seperti yang dicemaskan. Meski demikian, pengamanan tetap berlangsung ketat. Sejumlah 13 SSK atau 6.500 aparat polisi dikerahkan khusus untuk mengamankan Senayan. Selain itu, 13 panser berjejer rapi di sekitar gedung. Rombongan Presiden Wahid tiba di gedung DPR pukul 10.00 dengan menggunakan Mercy limosin Indonesia 1 lengkap mobil pengawal. Gus Dur yang didampingi putrinya, Yeny, langsung disambut hangat Akbar Tandjung di pintu depan gedung Nusantara V. Kedua pemimpin lembaga tinggi negara itu sempat bersalaman dan berpelukan sebelum berjalan menuju ruang rapat. Wapres Megawati Sukarnoputri yang tiba lebih awal turut menyambut kedatangan Gus Dur di depan pintu gedung. Keduannya lantas dipersilakan mengambil tempat duduk yang sudah disediakan. Di tempat duduk pimpinan tampak Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjoguritno, Tosari Widjaya, Muhaimin Iskandar, dan A.M. Fatwa. Akbar Tandjung bertindak sebagai pimpinan sidang. Rombongan menteri dan pejabat tinggi lain ikut hadir. Mereka, antara lain, Menlu Alwi Shihab, Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono, Menhan Muhammad Mahfud M.D., Menteri Agama Tolchah Hasan, Jaksa Agung Marzuki Darusman, Seskab Marsilam Simandjuntak, Sekretaris Presiden Djohan Effendy, Panglima TNI Laksamana Widodo A.S., dan Kapolri Jenderal Pol S. Bimantoro. Akbar membuka rapat tepat pukul 10.08. Begitu rapat dinyatakan terbuka untuk umum, ratusan wartawan dari dalam dan luar negeri langsung protes kepada petugas penjaga gedung. Sebab, mereka tidak diperkenankan masuk ke dalam gedung untuk mengikuti jalannya sidang. Mereka hanya diperkenankan melihat dari TV yang disediakan di luar gedung. Beberapa saat setelah dibuka, anggota Fraksi Reformasi Patrialis Akbar langsung melayangkan interupsi. Dia memprotes Akbar yang salah menyebut jumlah anggota fraksinya. Presiden Wahid diberi kesempatan menyampaikan pengantar sebelum jawaban dibacakan. Kali ini Gus Dur hanya bicara sangat singkat, hanya lima menit. Apa yang disampaikan Gus Dur? Mantan Ketua PB NU itu menyampaikan bahwa jawaban akan dibacakan Menteri Kehakiman dan HAM Baharuddin Lopa. Karena jawaban itu berhubungan dengan masalah konstitusi dan hukum. Pada kesempatan itu, presiden juga mengusulkan perlunya undang-undang pembuktian hukum secara terbalik, demi kepentingan penegakan hukum. "Saya minta pemerintah mengusut KKN dan korupsi agar lebih efektif menggunakan hukum terbalik. Saya minta DPR mempersiapkan perangkat hukumnya dan saya sudah minta Setneg untuk mempersiapkan," tandas presiden. Usai Gus Dur memberikan sambutan, Akbar mempersilakan Lopa membacakan jawaban memorandum setebal 15 halaman itu. Lopa lebih dulu mengoreksi dua buah kalimat dalam lembar jawaban yang keliru. Perbaikan naskah yang cukup fatal itu cukup mengundang perhatian sebagian anggota dewan dan para wartawan. Lopa membacakan jawaban selama satu setengah jam dengan penuh penghayatan. Sehingga beberapa anggota tampak tercengang dengan apa yang diutarakan Lopa. Tidak ada satu interupsi pun sampai jawaban selesai dibacakan. Namun, saat jawaban sampai menginjak pada penolakan presiden terhadap memorandum I, wajah mantan ketua Pansus Buloggate-Bruneigate tegang dan memerah. Yang menarik, di saat Lopa sedang serius membacakan jawaban presiden, muncul suara nyelekit dari anggota Fraksi PDIP Zoelvan Lindan. Saat itu, dia mengatakan "Nggak janji deh" lewat mikrofon. Ucapan tersebut muncul saat Lopa membacakan keinginan presiden agar DPR tidak lagi mengeluarkan memorandum II. Mendengar ucapan Zoelvan itu, Ariadi, anggota Fraksi Partai Golkar yang selama ini dikenal sebagai pembela Presiden Wahid itu, langsung memberikan reaksi. Sambil datang ke tempat Zoelvan, dia menimpali, "Saya yang jamin". Tahu Ariadi yang menanggapinya, Zoelvan kembali nyerocos, "Jangan campur urusan partai lain. Di partaimu saja, kamu tidak punya pengaruh." Setelah itu, keduanya saling ngotot dan mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi. Hal itu membuat perhatian banyak anggota dewan tersita kepada mereka. Bahkan, suami Megawati, Taufik Kiemas, juga sempat memberi isyarat kepada Zoelvan untuk tidak meneruskan adu mulut tersebut. Saat Lopa selesai membacakan jawaban, Akbar kembali menawarkan kesempatan kepada presiden jika ingin menambah. Namun, Gus Dur memberikan isyarat tidak akan bicara lagi. Ketika rapat hendak ditutup, kedua kalinya interupsi terjadi. Kali ini giliran Ahmad Farhan dari Fraksi Reformasi. Dia ternyata hanya ingin menyampaikan imbauan. "Saya meminta Presiden Gus Dur mengendalikan para pendukungnya yang cenderung anarkis terhadap orang-orang yang tak sepaham dengan mereka," ujarnya. Menerima interupsi itu, Akbar menyatakan bahwa apa yang disampaikan Farhan tidak perlu ditanggapi. Kemudian ketua umum Golkar itu langsung menutup sidang. (wto/lex/lal/zen/nev) ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
