Saya juga agak heran ketika melihat itu. Namun ketika melihat
seting ruangan, yaitu posisi duduk mega terhadap posisi Lopa
ketika membaca serta gaun bawah MW yang pas tepat diatas lutut
ketka sedang duduk, tampaknya MW juga repot untuk bergerak-gerak.
Coba bergerak sedikit saja kan berabe... bisa menjadi berita tak
senonoh...
----- Original Message -----
From: Daniel H.T <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, March 30, 2001 1:03 AM
Subject: [Kuli Tinta] Fw.: Mega Sering Menyingkur
Yg saya lihat Mega yg baik penglihatannya memang duduknya terkesan
membelakangi GD. Tetapi, itu lebih karena dia sedang memperhatikan
Lopa yg
sedang membacakan jawaban GD. Sedangkan GD tidak bisa melihat,
sehingga
duduknya menghadap depan saja.
Repot, Mega pakai baju warna merah saja dibikin macam2 analisa yg
mengada-ada. Bahwa itu tandanya hubungan Mega dng GD benar2 buruk.
Herannya,
kok mereka menjadi buta, ketika GD dan Mega malah sarapan pagi
bersama
sebelum ke gedung DPR/MPR
Silakan baca berita dari JP ini. Komentar Anda?
http://www.jawapos.co.id/cetak/detail.php?u_kat=9292
Kamis, 29/03/2001 - 23:04 WIB
Mega Sering Menyingkur
Sebelum ke DPR, Presiden-Wapres Sarapan Bareng
Jawa Pos, 29/3/2001
JAKARTA - Tingkah laku Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri
kemarin menjadi
sorotan sejumlah anggota DPR. Sebab, saat Baharuddin Lopa
membacakan jawaban
presiden atas memorandum DPR, posisi duduk putri Bung Karno itu
lebih sering
menyingkur (membelakangi, Red) Presiden Abdurrahman Wahid.
Anggota Fraksi Partai Golkar Yahya Zaini melihat aneh tingkah
Megawati
tersebut. "Ada apa? Mungkin, itu simbol-simbol ala Jawa yang
ditunjukkan
Mega atas ketidaksenangannya pada presiden," ujarnya kemarin.
Seperti diketahui, dalam Rapat Paripurna DPR mendengar jawaban
presiden
tentang memorandum kemarin, Megawati duduk berdampingan dengan
presiden.
Sesuai dengan aturan protokoler, Wapres duduk di sebelah kiri
presiden.
Presiden dan wakil presiden menempati kursi di samping kanan
pimpinan rapat
yang dipimpin Ketua DPR Akbar Tandjung. Seperti para pimpinan DPR,
keduanya
menghadap ke arah para anggota dewan. Podium tempat Lopa
membacakan jawaban
berada di sebelah kiri pimpinan dewan.
Tak hanya posisi duduk Megawati yang jadi sorotan. Baju yang
dipakai pun
juga dipertanyakan. Vokalis DPR Ade Komarudin melihat bahwa tidak
biasanya
Megawati ke DPR pakai baju warna merah.
"Mungkin Mega ingin memberikan kesan bahwa kehadirannya bukan atas
nama
wakil presiden, tetapi sebagai ketua umum PDIP," tuturnya.
Yang menarik, di tengah-tengah Lopa membacakan jawaban memorandum,
presiden
sempat menawarkan permen kepada putri Bung Karno tersebut. Tapi,
Mega
menolaknya. Konon, presiden selalu membawa permen karena penyakit
gulanya.
Sikap Megawati yang sering menyingkur presiden itu juga menarik
perhatian
pengamat politik Affan Gafar. Menurut dia, sikap Mega yang aneh
itu
membuktikan bahwa dia ingin memberikan kesan tidak memberikan
dukungan
kepada presiden.
"Kalau toh hadir, tidak ada kaitannya dengan dukungan.
Pertimbangannya,
sebagai seorang Wapres, Megawati memang harus hadir dalam acara
resmi
seperti itu," tandas Affan kepada Jawa Pos tadi malam.
Namun, Affan melihat posisi duduk Megawati yang selalu
membelakangi Gus Dur
itu mempunyai isyarat lain. Juga pakaian merah yang dikenakan
istri Taufik
Kiemas tersebut mempunyai isyarat keanehan tersendiri.
Menurut dia, pakaian merah Mega itu lebih menunjukkan dirinya
sebagai ketua
umum partai. "Saya kira, memang ada sesuatu yang tidak sreg dengan
perilaku
Mbak Mega. Nah, ini bahasa-bahasa isyarat yang harus kita
tangkap," ucapnya.
Tapi, betulkah Megawati sudah meninggalkan presiden? Tak ada yang
tahu
pasti. Yang jelas, pagi hari sebelum ke DPR, presiden dan Wapres
sempat
melakukan sarapan pagi bersama di rumah baru Wapres, di Jalan
Teuku Umar
27-29, Jakpus.
Acara rutin mingguan inisiatif presiden yang dikemas dalam bentuk
sarapan
pagi itu dihadiri Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono,
Panglima TNI
Laksamana TNI Widodo A.S., Kapolri Jenderal S. Bimantoro, dan
ketiga kepala
staf TNI.
Sayangnya, hingga acara berakhir pukul 08.30, tak diperoleh
keterangan resmi
apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan itu.
Interupsi
Sementara itu, tidak seperti yang dikhawatirkan, rapat paripurna
DPR kemarin
berlangsung lancar. Tidak ada aksi massa seperti yang dicemaskan.
Meski
demikian, pengamanan tetap berlangsung ketat. Sejumlah 13 SSK atau
6.500
aparat polisi dikerahkan khusus untuk mengamankan Senayan. Selain
itu, 13
panser berjejer rapi di sekitar gedung.
Rombongan Presiden Wahid tiba di gedung DPR pukul 10.00 dengan
menggunakan
Mercy limosin Indonesia 1 lengkap mobil pengawal. Gus Dur yang
didampingi
putrinya, Yeny, langsung disambut hangat Akbar Tandjung di pintu
depan
gedung Nusantara V. Kedua pemimpin lembaga tinggi negara itu
sempat
bersalaman dan berpelukan sebelum berjalan menuju ruang rapat.
Wapres Megawati Sukarnoputri yang tiba lebih awal turut menyambut
kedatangan
Gus Dur di depan pintu gedung. Keduannya lantas dipersilakan
mengambil
tempat duduk yang sudah disediakan. Di tempat duduk pimpinan
tampak Wakil
Ketua DPR Soetardjo Soerjoguritno, Tosari Widjaya, Muhaimin
Iskandar, dan
A.M. Fatwa. Akbar Tandjung bertindak sebagai pimpinan sidang.
Rombongan menteri dan pejabat tinggi lain ikut hadir. Mereka,
antara lain,
Menlu Alwi Shihab, Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono,
Menhan Muhammad
Mahfud M.D., Menteri Agama Tolchah Hasan, Jaksa Agung Marzuki
Darusman,
Seskab Marsilam Simandjuntak, Sekretaris Presiden Djohan Effendy,
Panglima
TNI Laksamana Widodo A.S., dan Kapolri Jenderal Pol S. Bimantoro.
Akbar membuka rapat tepat pukul 10.08. Begitu rapat dinyatakan
terbuka untuk
umum, ratusan wartawan dari dalam dan luar negeri langsung protes
kepada
petugas penjaga gedung. Sebab, mereka tidak diperkenankan masuk ke
dalam
gedung untuk mengikuti jalannya sidang. Mereka hanya diperkenankan
melihat
dari TV yang disediakan di luar gedung.
Beberapa saat setelah dibuka, anggota Fraksi Reformasi Patrialis
Akbar
langsung melayangkan interupsi. Dia memprotes Akbar yang salah
menyebut
jumlah anggota fraksinya.
Presiden Wahid diberi kesempatan menyampaikan pengantar sebelum
jawaban
dibacakan. Kali ini Gus Dur hanya bicara sangat singkat, hanya
lima menit.
Apa yang disampaikan Gus Dur? Mantan Ketua PB NU itu menyampaikan
bahwa
jawaban akan dibacakan Menteri Kehakiman dan HAM Baharuddin Lopa.
Karena
jawaban itu berhubungan dengan masalah konstitusi dan hukum.
Pada kesempatan itu, presiden juga mengusulkan perlunya
undang-undang
pembuktian hukum secara terbalik, demi kepentingan penegakan
hukum. "Saya
minta pemerintah mengusut KKN dan korupsi agar lebih efektif
menggunakan
hukum terbalik. Saya minta DPR mempersiapkan perangkat hukumnya
dan saya
sudah minta Setneg untuk mempersiapkan," tandas presiden.
Usai Gus Dur memberikan sambutan, Akbar mempersilakan Lopa
membacakan
jawaban memorandum setebal 15 halaman itu. Lopa lebih dulu
mengoreksi dua
buah kalimat dalam lembar jawaban yang keliru. Perbaikan naskah
yang cukup
fatal itu cukup mengundang perhatian sebagian anggota dewan dan
para
wartawan.
Lopa membacakan jawaban selama satu setengah jam dengan penuh
penghayatan.
Sehingga beberapa anggota tampak tercengang dengan apa yang
diutarakan Lopa.
Tidak ada satu interupsi pun sampai jawaban selesai dibacakan.
Namun, saat
jawaban sampai menginjak pada penolakan presiden terhadap
memorandum I,
wajah mantan ketua Pansus Buloggate-Bruneigate tegang dan memerah.
Yang menarik, di saat Lopa sedang serius membacakan jawaban
presiden, muncul
suara nyelekit dari anggota Fraksi PDIP Zoelvan Lindan. Saat itu,
dia
mengatakan "Nggak janji deh" lewat mikrofon.
Ucapan tersebut muncul saat Lopa membacakan keinginan presiden
agar DPR
tidak lagi mengeluarkan memorandum II. Mendengar ucapan Zoelvan
itu, Ariadi,
anggota Fraksi Partai Golkar yang selama ini dikenal sebagai
pembela
Presiden Wahid itu, langsung memberikan reaksi. Sambil datang ke
tempat
Zoelvan, dia menimpali, "Saya yang jamin".
Tahu Ariadi yang menanggapinya, Zoelvan kembali nyerocos, "Jangan
campur
urusan partai lain. Di partaimu saja, kamu tidak punya pengaruh."
Setelah itu, keduanya saling ngotot dan mengeluarkan kata-kata
dengan nada
tinggi. Hal itu membuat perhatian banyak anggota dewan tersita
kepada
mereka. Bahkan, suami Megawati, Taufik Kiemas, juga sempat memberi
isyarat
kepada Zoelvan untuk tidak meneruskan adu mulut tersebut.
Saat Lopa selesai membacakan jawaban, Akbar kembali menawarkan
kesempatan
kepada presiden jika ingin menambah. Namun, Gus Dur memberikan
isyarat tidak
akan bicara lagi.
Ketika rapat hendak ditutup, kedua kalinya interupsi terjadi. Kali
ini
giliran Ahmad Farhan dari Fraksi Reformasi. Dia ternyata hanya
ingin
menyampaikan imbauan. "Saya meminta Presiden Gus Dur mengendalikan
para
pendukungnya yang cenderung anarkis terhadap orang-orang yang tak
sepaham
dengan mereka," ujarnya.
Menerima interupsi itu, Akbar menyatakan bahwa apa yang
disampaikan Farhan
tidak perlu ditanggapi. Kemudian ketua umum Golkar itu langsung
menutup
sidang. (wto/lex/lal/zen/nev)
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--