Kompromi Politik, kompol (ngompol, yuk ...), merupakan
salah satu solusi yang muncul, ketika carut-marut
politik sudah hampir mengerucut, dengan resiko satu
lagi 'point of no return', setelah berbagai kasus
serupa, tarung horizontal. Setidaknya, kompol bisa
dibilang sebagai salah satu lubang pelepas, pentil di
ban, untuk mengurangi ketegangan, sukur-sukur
mengempis.

Tetapi, kompol baru berhenti pada lontaran ide, belum
berisikan program-program jelasnya. Bahkan si pelempar
sendiri, juga hanya sekedar membuat gambaran kasar,
yang bisa ditafsirkan macam-macam, tergantung
kebutuhan dan orderannya.

Meski masih berada dalam tataran ide, seyogyanya para
politisi melihatnya sebagai sebuah peluang, yang
sekecil apa pun tetap peluang, untuk diakomodasikan
agar menjadi peluang betulan. Gagasan kompol, yang
notabene merupakan salah satu terobosan untuk membuat
tekanan politik bisa melunak, harus dilihat sebagai
gagasan kreatif.

Dalam hal mereka melihat itu sebagai peluang, maka
yang harus disampaikan bukan sinisme, penolakan,
melecehkan, atau mendiskreditkannya, namun mencoba
membuat proposal yang setidaknya mampu memberikan
gambaran mengenai 'jika kompol jadi diadakan, maka ini
lho keinginan kelompok gua yang mesti diakomodasikan'.

Jika itu dilakukan, maka masih ada jalan untuk saling
membuka diri, menyampaikan alasan-alasan pihaknya,
sehingga mereka tiba pada proposalnya tadi. Jika
masing-masing bisa melakukan saling memberi dan
menerima, saya berani menjamin, yang namanya kompromi
politik pasti akan berhenti pada tercapainya kedamaian
di negeri ini. Tapi, ya itu tadi, modalnya adalah jiwa
besar. Disadari atau tidak, kekuatan-kekuatan fisik
itu benar-benar ada. dan mereka memiliki hak dan
tanggung-jawab yang sama demi negeri ini.

Yang diangan-angan bentuknya seperti itu, namun yang
di lapangan lain lagi. AR dengan sinis menyebut kompol
adalah dagang sapi. Bahkan 'resafel yang gimana pun,
selama GD ndak lengser, ya percuma'.

Kompol, memang belum nyata bentuknya. Kalau
masing-masing komponen yang punya kewenangan membentuk
kompol tadi mau menjadikan sebuah arena dagang sapi,
ya, kenapa tidak? Tetapi, dalam bentuknya yang masih
belum jelas, jika tak suka dagang sapi, kenapa tidak
memberi gambaran arah lain?

Ali Marwan dari PPP juga keluar dengan komentar yang
rada gendeng. Bahwa kompol itu sudah tidak relevan,
karena dikeluarkan pada saat kepepet.

Lhah ?

Kepepet ? siapa kepepet ? Siapa mepet ? Benarkah telah
ada kesimpulan siapa mepet dan siapa kepepet tadi ?

Kompol memang merupakan ketidaklaziman. Lebih-lebih
jika terpaksa melanggar konstitusi. dan kompol memang
bukan sebuah sarana yang sudah tersedia dan tinggal
pakai, kapan-kapan. Kompol memang sebuah solusi
darurat, yang bisa berarti suasana kepepet dan mepet
tadi. Maka jika kompol baru keluar sekarang, dengan
keyakinan Ali Marwan tersebut, bahwa sudah ada suasana
kepepet dan mepet, bukankah sebenarnya sudah sah?

Sekali lagi kita mencatat, ada sosok yang tidak pas
untuk nongkrong di gedung terhormat tersebut. Sebagai
arek-suroboyo, maka aku cuma bisa maki, 'jancuk !'


=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get email at your own domain with Yahoo! Mail. 
http://personal.mail.yahoo.com/?.refer=text

...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke