Cak GIGIH,
Betul kata lek Bari ini, profesi dokter itu ya kayak
profesi yang lain-lain seperti ekonom, advokat, insinyur,
profesor, dan politikus.
Secara umum kita tahu banyak pelanggaran etika yang
dilakukan oleh dokter antara lain: dengan beberapa puluh
ribu rupiah kita sudah bisa dapat surat untuk mbolos kerja,
kasus-kasus yang banyak terbongkar belum lama ini adalah
aborsi yang motivasinya kearah uang.
Apalagi kalau seorang dokter sudah menginjak ke arena
politik dan kekuasaan, maka tabiatnya tidak akan beda
dengan para politikus, arah suaranya akan tergantung kemana
angin berhembus. 
Jadi di arena politik, jangan lagi dokter dianggap sesuatu
yang sakral, terlebih untuk menentukan harga mati bagi
kesehatan seseorang. 
Dalam kasus pengadilan Suharto dan Ginanjar, keterangan
sakit dokter lebih berbau politis ketimbang kesehatan itu
sendiri.
 
Wass,

--- GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> --- bari sutiono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Emangnya kenapa kalo dokter2 yang bukan "dokter"nya
> > GD membuat pernyataan bahwa "berdasarkan pengamatan
> > dan pengetahuannya sebagai ahli kedokteran"
> > menyatakan GD itu sakit "sudah duduk lupa berdiri
> > atau kepalang enak beol di wc istana"? 'kan sama aja
> > seperti ahli hukum bicara tentang pelanggaran hukum
> > yang dilakukan GD, atau ahli ekonomi tentang
> > ketidakmampuan GD memahami keadaan ekonomi kita saat
> > ini. Ingat sekali lagi bung, mereka bukan dokternya
> > GD. Lain kalau mereka dokternya GD, buka rahasia
> > penyakit pasiennya itu memang melanggar etika. Jadi
> > bung, sekali lagi........yang realistis aja deh, GD
> > emang sakit dan karena sakitnya itu ngga' bisa
> > dipantesin jadi RI-1. Udah gitu aja gampang......
> > salam,
> > BS
> ----------
> 
> Itulah lainnya profesi dokter, Bar. Sebagian juga ada
> di profesi Akuntan Publik. Informasi-informasi ada
> yang terklasifikasi sedemikian rupa, sehingga menuntut
> ditepatinya etik secara tegas. Semakin bung nulis,
> semakin kentara ketidak-'enthos'-an bung memahami
> etika profesi. Perhatikan mereka yang mencoba memberi
> koreksi pada bung, tak ada satupun yang mengkaitkan
> dengan hal lain, kecuali etika profesi kedokterannya,
> bukan lalu pergi ke soal pantas enggaknya GD jadi
> RI-1. Toh jadinya GD ke RI-1 juga ulah para politisi
> yang punya niatan gak bener. Bahkan sudah banyak yang
> ngingetin sebelumnya, seperti, antara lain, kang
> Sobary.
> 
> Tapi, soal pendapat bung, jelas aku hanya melihatnya
> dari segi kepatutan dalam menjunjung etika profesi
> kedokterannya. Dan, sekali lagi, profesi ini memiliki
> standar yang tak bisa seenak-udel seperti yang bung
> bayangkan. 
> 
> Kemarin ada artikel bagus, di salah satu koran di
> Surabaya, pendapat dari seorang prof. berspesialisasi
> seputar stroke (sayang aku lupa), yang mencontohkan,
> bagaimana prof. Mahar Marjono, salah satu dokter
> terbaik negeri ini, bahkan mengalami stroke lebih dari
> apa yang dialami GD. Toh itu tidak mengurangi
> integritas beliau. Kenapa ? Sama dengan GD, rupanya,
> bahwa stroke yang menyerangnya itu hanya mengena di
> bagian otak kecil. Ini tidak mempengaruhi fungsi luhur
> (mungkin perlu ada dokter yang menjelaskan apa
> maksudnya) seseorang. Hanya itu akan mempengaruhi
> keseimbangan ketika berjalan saja, yang kadang-kadang
> agak goyang-goyang.
> 
> Ndak enthos boleh, tapi jangan ngeyel.
> 
> Salam.
> 
> 
> =====
> Sugih durung karuwan, sombong didisikno...


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get email at your own domain with Yahoo! Mail. 
http://personal.mail.yahoo.com/

...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke