> 
> Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
> PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
> Homepage: Under contruction
> E-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Xpos, No 22-30 April 2001
> ============================================
> 
> 
> TERPECAHNYA GERAKAN MAHASISWA
> 
> Diduga jadi alat kepentingan elite politik, gerakan mahasiswa kini
> kehilangan dukungan moral rakyat. Benarkah sejumlah tokoh mahasiswa
> hanya mengekor jalur Politik seniornya?
> 
> Gerakan mahasiswa yang pada tahun 1998 berjasa besar menumbangkan
> rezim Soeharto, kini tak lagi seperkasa dulu. Mereka tidak saja
> terpecah, tapi juga seringkali saling berhadap-hadapan secara frontal.
> Hal yang kemudian memunculkan anggapan bahwa seolah-olah aktivis
> mahasiswa sekarang hanya memperjuangkan kepentingan elite politik yang
> sedang berebut kekuasaan belaka. Setiap kali terlihat rombongan massa
> mahasiswa memacetkan jalan-jalan utama di Jakarta, pertanyaan
> kebanyakan orang yang muncul adalah, "Ini kelompok yang pro atau anti
> Gus Dur?"
> 
> Masyarakat seperti tak lagi memberikan dukungan moral sebagaimana yang
> terjadi pada tahun 1998 lalu. Fenomena ini coba ditangkap oleh Far
> Eastern Economic Review belum lama berselang (22/3). Dari sejumlah
> wawancara yang dilakukannya dengan beberapa mantan serta tokoh
> mahasiswa terlihat kesan bahwa mahasiswa semakin sulit menyatukan
> agenda politiknya. Kata Wasi Gede, mantan aktivis UI yang ikut terjun
> dalam demo-demo menentang Soeharto 1998, "gerakan mahasiswa bukan lagi
> kekuatan bagi reformasi politik."
> 
> Tanggal 12 Maret, adalah contoh menyedihkan dari perpecahan gerakan
> mahasiswa, yaitu ketika sejumlah massa yang menghendaki Gus Dur mundur
> terlibat bentrokan terbuka dengan massa pendukung Gus Dur di sekitar
> Istana Merdeka. Pada hari yang bersamaan sebuah mobil dibakar di depan
> Kampus Universitas Atmajaya akibat bentrokan serupa. Yang paling
> menyedihkan, kini muncul dugaan bahwa sebagian besar kelompok
> mahasiswa yang berdemonstrasi belakangan ini menerima suap dari para
> politisi, pengusaha bahkan sejumlah jenderal.
> 
> Dikabarkan bahwa para mahasiswa ini umumnya mendapat sumbangan
> makanan, transportasi serta uang tunai bagi para pemimpinnya untuk mau
> menggelar demonstrasi. Fuad Bawazier yang disebut-sebut sebagai salah
> satu "peyumbang utama" kelompok mahasiswa anti-Gus Dur membantah
> tuduhan terhadap dirinya. Menurutnya, tuduhan itu tak lain hanyalah
> bertujuan untuk mendiskreditkan gerakan mahasiswa. Tapi, ia mengakui
> sebagai seorang alumni HMI, ia sering dimintai uang untuk keperluan
> para mahasiwa. "Kalau nggak dikasih bisa dibilang pelit," ujar Fuad.
> Eggy Sudjana yang juga dituduh sebagai salah seorang sumber dana bagi
> para mahasiswa menolak tuduhan atas dirinya, meskipun mengakui bahwa
> ia memberi masukan strategi serta menyumbang makanan kecil dan minuman
> bagi para mahasiswa. Jika melihat perseteruan berlarut-larut antara
> Gus Dur dengan parlemen, gelombang demonstrasi secara bergantian yang
> dilakukan mahasiswa di jalan memang seolah-olah cermin dari apa yang
> terjadi di tingkat elite.
> 
> Suatu hari massa mahasiswa yang tergabung dalam organisasi
> kemahasiswaan yang dekat dengan NU akan menggelar demo dukungan pada
> Gus Dur, di hari lain organisasi kemahasiswaan yang dekat dengan Akbar
> Tanjung menurunkan massa dengan yel-yel meminta Gus Dur mundur.
> 
> Menurut Mohamad Qodari dari Institut Studi Arus Informasi (ISAI), para
> mahasiswa ini bisa saja menyebut dirinya independen, namun dalam
> kenyataan mereka terjebak oleh polarisasi yang sedang terjadi di
> tingkat elite. Dan setiap kali mereka menempatkan diri sebagai
> pendukung para politisi, gerakan mahasiswa akan semakin
> terpecah-belah. Bisa saja mereka menjadi agen untuk perubahan politik,
> tapi tidak lagi sebagai agen reformasi politik. Bagi kebanyakan
> aktivis, ide bahwa gerakan mahasiswa adalah murni gerakan moral,
> seolah-olah hanya merupakan mitos. Buktinya, seperti dikemukakan
> Irmansyah asal UI, di tahun 1966, mahasiswa juga menyebut diri mereka
> gerakan moral ketika membantu menumbangkan Soekarno dari kekuasaannya.
> Namun, pada akhirnya, para tokoh demonstran massa dan sebagian lagi
> yang terlibat dalam Malari 1974 telah menjadi politisi, sebagaimana
> halnya Akbar Tanjung serta Theo Sambuaga yang telah puluhan tahun
> menikmati fasilitas sebagai politisi Golkar.
> 
> Itu sebabnya, muncul kekhawatiran bahwa para mahasiswa yang kini
> terlibat dalam aksi mendukung dan menentang Gus Dur, pada akhirnya
> hanya ingin menjadi Akbar Tanjung atau Theo Sambuaga baru. Hal ini
> amat memungkinkan, mengingat organisasi-organisasi kemahasiswaan yang
> terlibat dalam demo-demo belakangan ini, amat terkait dengan
> partai-partai politik yang sekarang sedang eksis. Misalnya, HMI
> dikenal dekat dengan Akbar Tanjung dan Golkar, KAMMI dikenal dekat
> dengan Partai Keadilan serta PMII yang dekat dengan PKB. Kalau begitu,
> kita lihat saja sepak terjang para tokoh mahasiswa saat ini dalam
> beberapa tahun ke depan. Bukankah sejarah juga yang akan membuktikan
> siapa mereka sebenarnya?***




...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke