NU nggawe acara ndonga, kebetulan dilakukan di Jakarta. Berhubung yang punya hajat PBNU, maka yang datang yang sekelas wilayah. Sama seperti presiden mantu, lalu gubernur pada datang. Juga pangdam. Padahal, bisa jadi nggak diundang secara khusus. Tapi karena yang punya gawe itu orang/lembaga yang notabene di atas mereka, apa salahnya. Juga tetangga-tetangga, yang sama sekali tak ada hubungan apa-apa. Cuma karena menaruh hormat kepada yang punya hajat, lalu pada datang. Kemarin, siang-siang aku naik angkot, terpaksa jalan pelan sekali, karena di depan ada iringan jenazah yang mau dibawa ke makam. Cuma, yang nganter bisa diitung sama jari, sedikit sekali. Supir angkot mengomentari hal itu, 'mungkin dia orang jahat di kampungnya'. Nganterin orang mati, rasanya hampir merupakan kewajiban, khususnya bagi tetangga. Tapi kok ada pemikiran untuk menafikannya? Berkali-kali Hasyim Muzadi, ketua umum PBbikin klarifikasi mengenai kenapa acar istigotsah ini hampir bareng sama SP DPR. Penjelasannya begini : Bahwa acara tersebut sebelumnya sudah dirancang sekitar bulan-bulan sebelumnya. Sayangnya, tanggal tersebut masih dalam suasana ibadah haji. Sehingga banyak ulama-ulama yang ingin dihadirkan dalam acara istigotsah tersebut, mungkin agar lebih joss, sedang menunaikan ibadah haji. Maka dicarilah hari yang bagus, yang tepat. Perhitungannya, para ulama akan tiba dari ibadah haji tanggal sekian. Lalu diambil jangka waktu 40 hari sejak kedatangan beliau-beliau tadi. Jangka 40 hari, yang saya dengar, adalah masa di mana malaikat masih tinggal bersama mereka yang datang dari ibadah haji. Maka, jatuhlah pilihan tanggal 29 April tadi. Pilihan tanggal tersebut jauh-jauh sebelum jatuhnya Memo-1, dan masih jauh dari masa berakhirnya masa reses anggota DPR. Sayang, keinginan untuk melengserkan GD begitu meluap-luap, sehingga anggota DPR memutuskan untuk memperpendek masa reses mereka (mungkin karena ada makanan empuk, yaitu 3 bulan sesudah Memo-1). Maka simpulan Hasyim Muzadi adalah, bukan PBNU yang mendekatkan istigotzah dengan SP DPR, tetapi justru SP DPR yang mendekati jadwal istigotzah. Sayang sekali, dasar otak kita ini kadang-kadang memang sudah punya pola tertentu, yang tak mungkin bisa dipengaruhi, meski ada fakta-fakta lain yang seharusnya mengkoreksinya. Seperti bahwa Istigotzah itu akan mengganggu SP DPR tadi. Doa adalah doa. Para ulama jelas tak akan membaca doa yang akan membuat peserta istigotzah berdosa, cilaka, mati kutu, rejeki mampet, dan lain sebagainya. Prasangka baik saja. Dan doa-doa istigotzah pun sudah banyak dibukukan, disertai artinya pula. Mereka bareng-bareng mambaca doa-doa tadi, secara serempak. Tanpa paham, pun, atau dengan doa kita sendiri pun (pilih yang baik-baik, lho), maka suasana doa bareng itu pasti menimbulkan sebuah suasana yang amat kental unsur kerohaniannya. Cuma terharu saja, hingga menitikkan air mata, mungkin sudah hal yang minimal, bagi suasana khusyuk doa bareng tadi. Prof Syaid Agil Al Munawar, juga menyampaikan pesannya, bahwa untuk menilai sesuatu, maka lihatlah yang hal-hal yang terlihat secara fisik. Perkara apa niatan di baliknya, itu adalah urusan Allah semata-mata. Lho, enak kan? Hasyim Muzadi juga menyampaikan asal-usul istigotzah tersebut, yang dimulai ketika Nabi Muhammad saw. harus melawan musuh, kafir, katakan begitu, yang jumlahnya berlipat-lipat. Namun hal itu tidak bisa disimpulkan, bahwa suasana kalah besar dibanding musuh seperti jamannya Nabi itulah yang terjadi pada acara istigotzah tersebut. Mungkin kita melihat, bahwa umat Nahdliyin sedang melihat kemelut besar, yang tak sanggup mereka kalahkan dan selesaikan. Tiap kelompok, orang, punya pertimbangan sendiri-sendiri mengenai ketidakmampuan mereka ini. Pilihan yang tersedia pun bisa dua hal, nekad melawan, ancur-ancuran, begitu saja, atau mohon perlindungan Allah, dengan harapan, meski harus nekad melawan, semoga ridho Allah menyertai mereka. Kalah menang, menjadi bukan hal yang menentukan untuk melanjutkan perjuangan. Ternyata, mereka memilih berdoa. Dan kalau pada jaman nabi sebelumnya mereka lalu bertempur, maka seusai istigotzah ini mereka pulang dengan tertib dan baik-baik (meski ada bom suruhan Suripto, kata koran hari ini). Apa itu bukan sebuah pilihan yang indah? Benar kata Gus Dur, yang menyampaikan pesan kepada umat NU, serta pembantu-pembantu beliau, jika kita tak mampu menyelesaikan masalah, maka jangan membuatnya lebih berat. Kaitan dengan istigotzah, jika Anda tak paham dengan makna acara tersebut, abaikanlah. Jangan menyebarkan kecurigaan, kebencian, yang iya kalau terbukti. Kalau enggak? Lah tiwas dosa thok, Dul ! --- Alliq Mc Gellnow <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mas Fauzan, > > Justru karena diskusi itu memang ajang yang sehat, > maka saya pingin tau > jalan pikiran si pelempar topik istighosah = politik > tadi. Saya pingin tau > argumen dia itu apa, gitu mas Fauzan! Jangan cuman > melempar topik dengan > kalimat2 pendek tanpa argumen gitu. Kalo doski > misalnya ngejelasin dasar > kesimpulannya sambil memaparkan argumen2, kita kan > enak buat ngebantahnya > dengan cara yang masuk akal pulak! Lha kalo cuman > sebaris dua baris kalimat > kesimpulan doang tanpa disertai argumen, yah kalo > ditanggapi sebaris dua > baris juga ya ndak salah toh? > > Saya punya kalimat seorang sosiolog dari Amerika > Latin (namanya lupa!), > katanya ... ideologi dikalahkan oleh fakta/realitas, > tapi realitas > dikalahkan oleh image (pembentukan citra)! Nah, > menjadi masalah realitas > mana yang sampeyan maksudkan yang tidak bisa dicegah > itu? Soalnya realitas > yang kita tahu itu adalah realitas di koran, yang > tentu saja tidak lepas > dari subyektifitas. Subyektifitas tidak lepas dari > keinginan2 untuk > membentuk sebuah citra, mas! Tanya sama man-teman > disini bagaimana mereka > merasakan keadaan ketika sebuah fakta sudah > diperkosa sedemikian rupa > sehingga yang muncul adalah citra negatif yang > memang diinginkan oleh > sementara pihak. Dan pembentukan citra negatif itu > sudah diusahakan secara > serius dan intens sejak lama, melalui pembentukan > opini2 di surat2 kabar. > Sekarang ketika istighosah berlangsung tertib dan > aman, terbukti bahwa > segala opini, pendapat para pengamat dan politikus > ternyata memang sampah > ... sesampah pikiran dan otak mereka yang kotor! > > Mengutip Pramudya A. Toer, bersikaplah adil sejak > dalam pikiran! Nah, apa > mereka mendengarkan himbauan PAT ini? Kayaknya > enggak deh ... wong mereka > lebih suka ngecap si A komunis si B atheis kok, drpd > mendengar omongannya! > Lha apalagi ndengerin PAT yang komunis ... darimana > orang komunis punya > pikiran adil? Adil itu hanya ada di group-nya > Republika, toh? Sedemikian > halnya adil itu hanya ada menurut pendapat2 yang > dimuat di koran2 tadi, > sehingga citra adil menurut merekalah yang paling > benar! Bukan lagi adil dan > malah cenderung anarkis, ketika ada umat NU pingin > beristighosah ke Jakarta! > Tapi adil dan demokratis - dan tentu saja tidak > anarkis - ketika BEM > mengadakan demo! Lho? Istighosah kok dibandingin > sama demo mojok nasional > sih? Tujuannya aja beda .... Beda bagi orang2 yang > mau melek, mas, tapi > tidak bagi orang2 yang tidak mau melek! Makanya saya > minta orang2 itu supaya > menyobek matanya lebar2! Agar melek, dan bisa > mbedain ... mana doa dan mana > demo politik! > > Salam merem, > Alliq > > > ----- Original Message ----- > From: Fauzan Khoriri <[EMAIL PROTECTED]> > > > Saya pikir tidak pada tempatnya marah-marah begitu > rupa menanggapi > komentar > > atau kritik dari orang lain. Dalam kondisi serba > tak menentu saat ini > memang > > segala hal bisa ditarik ke wacana politik. Dan itu > saya kira sah-sah saja. > > Boleh jadi warga Nahdliyin tulus ketika melakukan > istighotsah, akan tetapi > > ketika kegiatan itu bersinggungan demikian dekat > dengan wacana politik > yang > > sedang berkembang maka orang akan dengan serta > merta menghubungkannya > > --tentu saja sesuai kepentingan masing-masing. Ini > realitas yang tak bisa > > dicegah oleh siapapun. Yang bisa dilakukan adalah > bagaimana mengekspose > > wacana yang paling menguntungkan kita, menangkis > pernyataan/serangan lawan > > dengan argumentasi yang masuk akal dan > mempengaruhi opini publik dengan > > cara-cara yang cerdas --bukannya dengan > marah-marah, caci maki apalagi > pamer > > kekuatan otot. Cara-cara yang berbau kekerasan > rasanya sudah tidak tepat > > lagi sekarang ini. Selain hanya akan menguras > energi diri sendiri, pada > > spektrum yang lebih luas sangat potensial > menimbulkan masalah baru yang > > kadang-kadang liar dan sulit dikontrol. > > Prinsipnya, jadikan diskusi sebagai ajang beradu > argumen secara sehat, > > cerdas dan dewasa. > > > > > -----Original Message----- > > > From: Alliq Mc Gellnow> > > > > > Kenapa emang? Ndak boleh??? Mau di Jakarta kek, > mau di Semarang kek, mau > > > di > > > Surabaya kek, kenapa emang??? Muatan politik > kiss my ass tah??? Buktiin > > > cobaaa ...!!! > > > > > > > > > ----- Original Message ----- > > > From: Sakim <[EMAIL PROTECTED]>> > > > > > > Kenapa mesti Ke Jakarta...kalau hanya.untuk > Mendo'a kan Umat > > > > Jikalau tidak ada muatan politik nye.. semua > ini hanya politik NU > aja... ===== Sugih durung karuwan, sombong didisikno... __________________________________________________ Do You Yahoo!? Yahoo! Auctions - buy the things you want at great prices http://auctions.yahoo.com/ ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
