Tegak berdiri di tempat terbuka wilayah pantai.
Sosok putih-bersih bak kapas sedang menyembul
dari 'kendaga'-nya. Dialah Sang Kusika Seta, makhluk
bewarna putih bersih yang telah hidup ratusan tahun,
karena salah persepsi. Berniat melindungi Rama,
justru disangka meragukan kesaktian junjungannya.
Kusika adalah kulit, Seta adalah putih. Dialah Senapati
Agung Mangliawan, Pandhita berwujud kera, Kapi
Hanuman atau Sang Mahabhali Hanuman.

Telah dalam hitungan minggu dia berpanas-panas
di tempat terbuka. Ada dua maksud. Pertama dia bosan
berwarna putih. Dia ingin berwarna hitam. Hitam legam
sehitam manik-manik matanya yang tetap tajam dan
bersih karena kerendahan hati dan keteguhan jiwa.
Sebuah keinginan mustahil karena melawan kodrat.
Kedua hatinya merasa ada panggilan tersembunyi.
Seorang saudara tunggal bayu akan berbuat sesuatu 
yang luar biasa dan juga mustahil. Entah mengapa 
panggilan jiwa itu menuntunnya mendekati samudra.

Tak lama bertiup angin semilir yang menguat. Angin
sejuk penuh perbawa, pertanda adiknya datang.
Dialah Sang Bimasena yang akan mencebur ke dalam
samudra.

"Hai Adikku! Tahukah berapa 'Kadang Bayu'?"
"Waaah, Hanuman kakakku, saudara Tunggal Bayu
ada lima, Bayu Anwas, Bayu Anras, Bayu Mangkurat,
Bayu Kenara dan Bayu Panutup"
"Siapa Kenara?"
"Kowe, Kakang"
"Panutupnya?"
"Aku"
"Seharusnya?"
"Kadang Bayu seharusnya menyatu saling dukung dalam
satu semangat Bayu yang pantang berhenti!"
"Kenyataannya?"
"Kadang Bayu terpisah-pisah"
"Mengapa, Di?"
"Melaksanakan tugas dan berbuat nyata sesuai dengan
kodratnya"

"Si Adi mau kemana?"
"Mencari Tirta Pawitra Mahening Suci"
"Gunanya?"
"Sebagai syarat aku bisa memahami ilmu kesejatian hidup,
Sangkan Paraning Dumadi, Dumadining Sangkan Paran"
"Weeh, berteka-teki Anak ini... Hmmmm yaah, tempatnya?"
"Menurut petunjuk Guru Druna, tempatnya di dasar samudra"
"Lhaa, nyemplung arek iki, hahaha... kungkum kamu ya?
Duh adiku Diiii, sudahlah laksanakan saja tugas kesatriaanmu,
ilmu-ilmu wingit itu bukan jatahmu. Tapi kalau Siadi ingin
belajar, ayoh sama-sama Kakakmu ini, mari ke Kendalisada
Yayi.."

"Hhhhmm... Hanuman... Kowe itu anak kecil apa bocah?"
"Aku ini orang tua Di, lagi pula aku ini pandhita..."
"Orang tua gerang gaplok pandhita kok Mengleng, itu
apa gunanya tua dan kependhitaanmu?"
"Aku 'ngeman' Andika Di..."
"Orang 'ngeman' itu tidak harus takut kehilangan. Kowe
pandhita tapi tidak teguh berpendirian, pandhita apa
itu? Pandhita yang harusnya selalu melatih diri menuju
kesempurnaan, malah melarang orang punya hasrat
mencari kesempurnaan itu apa... Ayoh.. Minggirr...
Tak  mau minggir, aku lempar ke asalmu Hanuman!"

[Hanuman tertangkap dan dilempar kembali ke asalnya,
dengan meninggalkan pesan lewat aji pameling:
"Ah, adikku orang santosa. Kau memang pantas
menyelami ilmu itu. Selamat menunaikan tugas dan
perbuatan nyatamu Di... Sekembalinya kamu dari
Samudra, datanglah ke Arga Kelasa. Keempat
saudara Bayu-mu akan menyambut dan menobatkan
kesempurnaanmu sebagai Bayu Panutup."
Bimasena tersenyum simpul tanda puas. Meneruskan
langkah hingga tertegun memandang ombak samudra
yang akan diselaminya. Sehingga menjadi bahan
celotehan tiga jenis burung, Patuk Bawang, Engkuk
dan Gemak]


--Pagelaran terus berlanjut; belum saatnya tancep 
kayon!" Selamat berbuat nyata sesuai kodrat masing-
masing. Aku bukanlah Bayu Panutup, hanya sekedar
penutur.

    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
Pagelaran, 4-5-01,
sebagai sambutan untuk sdr. Jaya Supandi
dan Mas IDB



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke